DetikHot

art

Menanyakan Rasa Sakit pada Daun dan Batang-Batang Singkong

Sabtu, 24 Mar 2018 10:28 WIB  ·   Joko Gesang Santoso - detikHOT
Menanyakan Rasa Sakit pada Daun dan Batang-Batang Singkong Ilustrasi: Denny Pratama/detikcom
Jakarta - Konon, rasa sakit tidak dibawa air hujan. Jatuh dari langit. Tidak juga ditiupkan angin dari penjuru-penjuru yang entah. Ia pun bukan sesuatu yang dibawa gemericik air selokan atau air kali yang berkilau-kilau itu. Rasa sakit seperti tumbuhan parasit. Tiba-tiba menggeliat di saat yang sama sekali tidak tepat. Tumbuh seperti tunas dan serta-merta mengandaskan harapan-harapan.

Perempuan itu, hingga sekarang, masih saja bertanya-tanya: dari mana datangnya rasa sakit? Kadang-kadang ia menghibur diri dengan tidak memikirkan hal konyol itu dengan mengelus daun singkong, atau batang singkong di ladang yang tidak seberapa luas miliknya. Singkong-singkong itu ia besarkan dengan segenap kasih sayang miliknya.

Daun dan batang singkong yang dielusnya tentu tidak bisa menjawab pertanyaan hatinya: "Kamu tahu dari mana datangnya rasa sakit?" Daun dan batang itu bergoyang, tapi bukan berarti berusaha ingin memberi isyarat atau jawaban akurat. Tumbuhan itu hanya menerima tiupan angin sekenanya. Tidak ada maksud memberi jawaban apa-apa. Tetapi perempuan itu tidak keberatan. Sama sekali tidak.

Perempuan itu juga tidak mugkin mendapat jawaban dari anak laki-laki satu-satunya yang baru mau masuk umur lima pada tengah tahun ini. Tiap ibunya mengelus daun dan batang singkong, anak itu hanya menirukannya. Sama persis. Tidak ada kata-kata dari mulut kecilnya. Tetapi sekali lagi, anak seusia dirinya tidak akan memberi jawaban apa-apa atas pertanyaan berat ibunya. Perempuan itu pun juga tidak berkeberatan. Sama sekali tidak.

Apalagi, jika pertanyaan itu ditujukan kepada sebidang tanah yang tidak lebih dari dua kali seratus meter tempat singkong-singkong itu tumbuh. Apa mungkin tanah itu akan menjawab? Dengan cara apa? Perempuan itu merasa dirinya makin kelewat batas dalam mencari jawaban atas pertanyaannya sendiri.

Yang paling tidak mungkin ditanyai adalah suaminya yang sudah lima tahun ini terbaring di tempat tidur. Sampai-sampai tubuhnya gepeng-segepeng kasur kapuk yang ditindihnya. Laki-laki yang disayanginya itu tidak boleh tahu apa yang ingin ia tanyakan. Sama sekali tidak. Laki-laki itu harus tahu bahwa hidup itu hanyalah kebahagiaan. Dan, kebahagiaan adalah senyuman yang melimpah-limpah. Perempuan itu akan dengan senang hati memberi senyuman pada laki-lakinya yang mungkin umurnya tinggal separuh jalan itu. Walaupun, jika mau jujur, itu pun separuh dari kepura-puraan? Apakah ada pura-pura yang paling rapi dan rahasia selain dalam cinta dan kasih sayang?

Jika perempuan itu selalu berusaha mencari jawaban dari mana datangnya rasa sakit, tidak demikian dengan bahagia. Ia yakin bahagia bisa ia ciptakan sendiri. Tidak peduli seberapa besar kepura-puraan yang membayanginya, tetapi ia yakin bahagia lebih mudah diciptakan. Semudah menarik tiap ujung otot bibir dan membuatnya terbuka. Dengan menunjukkan barisan-barisan gigi di dalamnya. Kalau perlu sampai membuat mata menyipit sedikit. Setidaknya, dengan begitu, bahagia lahir dengan mudahnya.

Namun, jika suami dan anaknya terlelap, sedih itu datang lagi. Ia seperti membentuk gumpalan-gumpalan padat di dada. Entah di mana tepatnya. Tetapi, rasanya tiba-tiba dada terasa sesak. Napas tidak lancar. Seperti mendorong angin dan cairan-cairan bening menuju rongga mata. Dan, pada saat yang bersamaan air itu membasahi segalanya. Dada pun terguncang hebat. Itulah rasa sedih yang amat menyakitkan. Perempuan itu pun sempat menyimpulkan bahwa sakit terbuat dan berasal dari sunyi. Meskipun ia belum yakin soal itu.

Sambil berusaha memendam pertanyaan itu dalam-dalam -juga belum tahu di dalam apa menyimpannya, dan sedalam apa harus disimpan- perempuan itu tetap menciptakan bentuk-bentuk kebahagiaan. Tak lain demi kebahagiaan anak dan suaminya. Ya, tak ada lain selain itu! Ia sudah tahu hampir semua 'jurus' menciptakan kebahagiaan. Dan, selama ini tidak ada satu pun dari jurusnya meleset, atau tidak mempan.

Walau sehebat apapun ia menciptakan kebahagiaan itu, tetap saja kedatangan rasa sedih tidak bisa ia hadapi sendiri. Terutama ketika ia menyadari kesehatan suaminya tidaklah segera membaik. Tiap tahun makin menurun dan memburuk. Ditambah lagi, kakak laki-laki dari suaminya belakangan ini sudah rutin mengunjungi rumahnya. Sedikit sekali rasa simpati dari Si Kakak terhadap adiknya yang sekarat, begitu pun dengan perempuan itu. Tiap kali datang ia hanya berkata, "Apa adikku masih hidup?"

Mendengar pertanyaan itu, sejujurnya perempuan itu sangatlah murka. Ingin ia menyiramkan air kencing suaminya dari baskom di bawah kolong tempat tidur ke muka laki-laki tanpa perasaan itu. Biar sesekali ia merasakan anyir dan asinnya memelihara kebahagiaan. Namun, perempuan itu tidak melakukannya. Pun tidak menjawab dengan kata-kata. Kadang ia sangat benci kata karena dengan kata-kata pula kalimat pertanyaan Si Kakak begitu runcing menujah gendang telinga dan menembus hatinya. Perih sekali.

Jika tidak ada jawab dari perempuan itu, Si Kakak langsung berlalu dengan meninggalkan kata-kata kasar, "Ingat, jika waktunya tiba, kamu tinggallah sampah!"

Perempuan itu tetap diam. Tetapi, hatinya semakin perih. Dadanya tak karuan lagi rasanya. Dalam saat itu, ia seolah menemukan jawaban: dari mana datangnya rasa sakit? Mungkinkah rasa itu datang dari kata-kata kasar dari mulut seseorang? Entahlah, dia juga tak yakin itu. Tetapi, ia benar-benar merasakan itu.

Apakah rasa sakit itu ciptaan orang lain lalu ditujukan untuk orang lainnya lagi? Dan, berharap orang yang menerima rasa sakit itu mengalami kesakitan yang luar biasa? Lalu, manusia macam apa itu? Mungkin hanya manusia perkasa, digdaya yang bisa menciptakan rasa sakit untuk orang lain. Atau, bisa jadi diri sendiri yang terlalu lemah untuk melawan rasa sakit yang datang dari orang lain itu?

Ah, perempuan itu kian berkecamuk batinnya. Alih-alih menemukan jawaban, ia masih harus tersenyum untuk suaminya sambil mengurusi kotoran-kotoran laki-laki tak berdaya itu. Setelah itu, masih dengan keamisan dan keanyiran tangannya, ia juga harus menyuapi anak laki-lakinya dengan makanan seadanya. Barulah ia pun menyuapkan beberapa sendok nasi ke mulutnya sendiri. Jika kedua laki-laki kesayangan itu sudah terlelap, berjalanlah ia ke ladang singkong. Di ladang itu ia pun tidak melakukan apa-apa. Tak ada rumput yang harus dicabuti. Di tanah yang teramat tandus itu, hanya pohon singkong yang bisa bertahan hidup.

Lagi-lagi ia melakukan hal yang sama: mengelus daun dan batang singkong bak anak sendiri. Tujuannya juga tidak terlalu jelas karena daun dan batang itu juga tidak menanggapi apa-apa. Yang jelas, dengan mengelus satu per satu, perempuan itu bisa tahu apakah daun-daun itu sedang dimangsa serangga, atau apakah batang-batang singkong itu patah tertiup angin kencang. Setelah semua dielusnya, ia akan terduduk di tanah tandus itu. Batinnya mulai bertanya-tanya seperti biasa: dari mana datangnya rasa sakit?

Tanah, daun, dan batang singkong itu tentu saja tidak menyediakan jawaban. Daun dan batang singkong itu hanya bergerak searah tiupan angin. Dan, perempuan itu yakin bahwa mereka tidak sedang menjawab pertanyaan batinnya. Kecuali ia sudah gila. Tetapi, dibandingkan dengan daun dan singkong di ladang sebelah, tumbuhan itu memang kelihatan paling subur dan gemuk. Batangnya kekar, daunnya licin -menghijau sempurna. Perempuan itu yakin, jika daun dan batang singkong itu bisa bicara pastilah keluar kata-kata membahagiakan dari mulut mereka. Ya, pasti! Batinnya sangat yakin.

Setiap dari ladang singkong, keyakinan perempuan itu selalu gemuk. Penuh harapan-harapan. Walaupun ketika melihat keadaan suaminya, harapan-harapan itu pelan-pelan rumpil secuil demi secuil. Dalam keadaan itu sangat sulit menerbitkan bahagia. Ketakutan-ketakutan akan kenyataan pada suatu saat nanti suaminya itu tak lagi mengeluarkan air kencing, atau tidak lagi memproduksi kotoran. Ketakutan yang teramat -membayangkan pun sudah memunahkan semangatnya.

Dan, kenyataan itu benar-benar terjadi pada suatu pagi yang beku. Tak ada air kencing dalam kantong seperti biasanya. Tak ada kotoran pula di celana. Wajah suaminya itu bersih tanpa aliran darah. Putih macam tepung kanji. Tak ada bagian hangat dari tubuhnya. Tubuh itu kaku dan sedingin pantat kendi.

Tak sempat lagi ia bertanya: dari mana datangnya rasa sakit? Kesadarannya sudah punah. Ia limbung. Sejenak ia merasakan betapa kerasnya lantai pada tubuh dan kepalanya. Setelah itu, ia lupa apa yang kemudian terjadi.

Malam setelah pemakaman suaminya, Si Kakak datang dengan muka penuh kemenangan. Ia bilang, "Sudah saatnya!"

Perempuan itu benar-benar hilang akal, bagaimana mungkin seseorang yang baru saja kehilangan adiknya tidak menunjukkan wajah sedih sama sekali? Bahkan ketika bau air sabun dan kapur barus bekas pemandian jasad masih membubung-bubung tak karuan di udara. Apakah laki-laki itu memang sumber dari rasa sakit yang ia alami dan cari jawabannya selama ini? Entahlah, sekali lagi, perempuan itu tidak berani memastikannya.

Si Kakak itu lalu melanjutkan kata-katanya, "Setelah ini kamu harus segera menentukan pilihan. Kamu mau ikut aku, atau enyah jauh-jauh dari sini!"

Perempuan itu tidak menjawab apa-apa.

"Sertifikat rumah, tanah ladang itu, harus kamu persiapkan minimal besok pagi. Jangan sampai lewat esok pagi!" lanjut Si Kakak.

Perempuan itu masih belum mengeluarkan kata-kata.

"Ingat, tak boleh secuil pun dari isi rumah ini berkurang, atau hilang. Bahkan sebuah jarum jahit pun tak boleh!"

Perempuan itu membatin: rumah ini tidak ada isinya kecuali satu kompor minyak tua, satu ketel nasi dari perunggu, satu wajan penuh angus, selusin piring dan gelas kekuningan, kursi dari bambu, dua amben yang sama peyotnya. Tak ada isi lainnya. Dan, ia belum menanggapi Si Kakak itu. Kepalanya menunduk, menahan gumpalan-gumpalan rasa sakit yang memadat di dadanya.

"Dan kamu, sebaiknya kamu lebih sering berdandan jika jadi istriku nanti!"

Sambar petir! Perempuan itu menengadahkan wajahnya ke laki-laki itu dengan spontan. Ditatapnya wajah laki-laki tua itu lekat-lekat. Meski saudara kandung, laki-laki itu memiliki gurat wajah yang berbeda dari suaminya. Wajahnya kelihatan lebih rumit dan penuh gurat-gurat kasar. Dan, baru kali ini perempuan itu berani menatap laki-laki itu dengan tajam.

"Tidak!" jawab perempuan itu keras. Mungkin sebagian gumpalan-gumpalan padat di dadanya berubah menjadi suara lantang yang menendang gendang telinga siapa saja yang mendengarnya.

"Tidak? Kamu menolak menjadi istriku?"

"Ya!"

Laki-laki itu menggaruk selangkangannya berkali-kali sambil mondar-mandir. Perempuan ini berani juga, batinnya sambil mengisap rokok linting di jarinya.

"Kamu melanggar adat! Kamu istri adikku, dan jika adikku mati, maka otomatis kamu akan jadi istriku, anakmu akan jadi anakku, semua harta adikku akan jadi punyaku. Bukankah kamu paham soal itu?"

"Paham. Tetapi, tidak paham!"

"Maksudmu?"

"Saya paham ada aturan adat itu. Tetapi, tidak paham mengapa aturan itu harus ada!"

"Kamu menantang leluhur!"

"Tidak! Sama sekali tidak. Aku tidak menyinggung leluhur. Aku hanya ingin menawar saja. Apakah adat itu berlaku untuk semuanya?"

"Jelas, iya!"

"Ya, jawabanku tetap sama: tidak!"

Si Kakak itu kembali menggaruk selangkangannya. Mungkin celana dalamnya sudah tidak diganti dalam beberapa hari. Atau, ia memang punya kebiasaan merogoh dan menggaruk selangkangannya sendiri.

"Kamu tidak akan menang melawan adat. Jika perlu, besok pagi akan kupanggil kepala adat. Kamu akan tahu bagaimana ruginya melawan adat!"

Perempuan itu diam. Matanya tertuju pada cara Si Kakak itu menggaruk selangkangannya. Mungkin ada panu, kadas, kurap, atau penyakit jamur semacamnya di dalam celana kumal itu. Perempuan itu tidak bisa membayangkan apa jadinya dirinya jika harus menjadi istri ketiga dari laki-laki yang selangkangannya jamuran itu. Tidak! Batinnya tetap menolak keras.

Setelah laki-laki jamuran itu pergi, perempuan itu meraih anak laki-lakinya berlari. Larinya hampir tak tentu. Sempat berhenti berkali-kali di tengah jalan. Kakinya sepertinya menginjak batu lancip hingga berdarah. Sambil terpincang, ia belokkan langkah kakinya ke ladang singkong. Anaknya masih bingung, tetapi tidak sekali pun meronta.

Perempuan itu mengelus kepala anak laki-lakinya. Lalu, satu per satu ia elus juga daun dan batang-batang singkong yang sebentar lagi mungkin bisa dipanen itu. Ia abaikan darah di kakinya yang sudah dibungkus gumpalan tanah tanpa sengaja. Setelah semua dielus, perempuan itu duduk. Anak laki-lakinya ikut mengelus daun dan batang singkong menirukan ibunya. Dari jauh si ibu membiarkan apa yang dilakukan anak laki-laki itu.

Perempuan itu sadar bahwa esok hari tidak mudah mempertahankan kata 'tidak' di hadapan adat. Ia pasti akan tumbang juga. Bila hari ini adalah hari terakhirnya mengelus anak laki-laki, daun, dan batang singkong itu, ia pun siap. Setelah itu, ia tidak tahu harus ke mana dan melakukan apa. Dan, hari ini ia pun tidak akan kecewa bila pertanyaannya 'dari mana datangnya rasa sakit' tidak pernah terjawab oleh daun dan batang singkong itu. Mungkin jawabannya tidak dari tumbuhan itu. Mungkin datang dari hal-hal lain yang ia belum tahu persis itu apa.

Ketika ia melihat anaknya berlari menuju arahnya, buru-buru ia seka matanya sampai sekering mungkin. Ia harus menerbitkan bahagia untuk anaknya itu. Meskipun sulit tersenyum dengan mata merah, bibir menebal, dan hidung yang disesaki ingus.

Yogyakarta, 2017

Joko Gesang Santoso lahir pada 7 Mei 1984 di Gunung Kidul. Puisi, cerpen, dan esainya dimuat di beberapa media massa. Novel pertamanya Senapan Tak Berpeluru (2013). Cerpen-cerpennya terhimpun dalam buku Kolak (2013). Selain menulis, ia mengajar sastra di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com


(mmu/mmu)

FOKUS BERITA:Cerpen detikHOT
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed