DetikHot

art

Ingatan yang Tak Pernah Tuntas

Sabtu, 23 Des 2017 10:28 WIB  ·   Aksan Taqwin Embe - detikHOT
Ingatan yang Tak Pernah Tuntas Ilustrasi: Kiagoos Auliansyah/detikcom
Jakarta - "Hari ini sangat cerah, bukan?" celetuk Renaka—istrimu.

Ia membuka pelan-pelan gorden jendela yang mengembun tepat menghadap dengan bentangan sawah. Sebab ia takut anaknya yang masih berusia enam bulan terbangun setelah semalam rewel tidak bisa tidur. Renaka hampir gila karena si jabang bayi kerap tak pernah tidur. Setiap kali Renaka hendak merebahkan tubuh, atau mau ke kamar mandi barang sejenak, si jabang bayi pasti menangis. Sementara kau hanya diam, tak ada upaya meringankan beban Renaka.

"Minumlah kopi itu. Makanlah pisang itu. Aku sengaja bangun pagi, atau bahkan tidak tidur hanya perkara beginian saja. Semua ini untukmu, kau tahu itu?" sambungnya.

Kau terdiam, mengempaskan napas berkali-kali sembari mengusap-usap punggung tangan. Matamu menatap jendela yang terbuka, memandang langit yang cerah. Matamu yang semakin sayu; wajah yang menua, masih menyimpan ingatan-ingatan masa lalu. Masa kau tumbuh dengan perihal kisah-kisah bersama kekasihmu yang tak pernah mampu kau lupakan.

Jika pagi ini sedang tidak berawan, kau akan mampu memandang Gunung Pusa dari sudut jendela. Gunung itu berjarak 32 kilometer dari rumahmu. Gunung yang sudah pernah kau taklukkan sembilan tahun silam. Kau pernah membayangkan bahwa kau akan menaklukkan ratusan bahkan ribuan gunung di seluruh dunia. Harapan itu urung, kau menganggap bahwa sudah tidak mampu melakukannya.

***

Hari ini Serly menemuimu di sudut telaga belakang perpustakaan umum Gija'. Ia mengajakmu menjenguk karibnya yang dirawat di Rumah Sakit Life Time. Tapi kau menolak ajakannya. Kau berkelit akan melakukan kesibukan yang tidak bisa kau tinggalkan. Sebab kau sudah tak mencintainya setelah mengkhianatimu. Ketika Serly pergi, kau justru memejamkan mata, menghadap telaga sambil mencipta pertemuan bersama Reina. Dalam pertemuan itu Reina nampak bahagia. Reina membawakan pisang keju dan segelas kopi yang dibeli dari minimarket untukmu.

Kau masih terpejam. Tiba-tiba dalam bayanganmu itu kau sudah menuju vila milik orangtua Reina. Mulanya kau menolak ajakan Reina, tapi karena atas dasar cinta yang menjalar, kau begitu takluk mengiyakan segala apa yang dipinta Reina. Jika ditempuh dengan mengendarai motor, maka kau akan membutuhkan waktu lima belas jam untuk sampai ke Villa Van Der Lonsmoen di Kosmewa. Kau akan disambut dengan tenang dan ceria oleh para pemandu kamar-kamar vila. Kau akan dilayani selayaknya raja. Kamar yang semerbak wangi, kamar mandi dengan badstuff air panas.

Ketika kau kelelahan karena perjalanan yang jauh, vila itu pun menyediakan tukang pijat untuk merelaksasi diri. Para pemandu otomatis tahu wajah-wajah pengunjung yang dihajar lelah atau gelisah. Mereka akan tunduk ramah menawarkan segala apa yang kau inginkan. Bahkan sampai menemani tidurmu menghabiskan malam. Tapi kau menolak semua itu, sebab kau berjalan bersama Reina. Tanpa mereka pun Reina sudah mencukupi segala apa yang kau pinta.

Aku yakin kau sangat nyaman, ucap Reina.

Padahal kau tidak akan pernah sadar, semua itu adalah ilusi yang tak pernah bisa kau kendalikan karena kenikmatannya. Tahukah bahwa penjaga vila itu adalah sosok yang pernah kau bayangkan semasa kecil? Kau pernah menemui penjaga vila itu ketika membayangkan kemudian menyampaikan harapan kepada orangtuamu agar sesekali waktu liburan pergi ke vila seperti teman-teman sebayamu. Namun, orangtuamu selalu menolak karena keterbatasan uang dan waktu. Orangtuamu yang hanya seorang petani tak bisa menghabiskan uang dalam sekejap hanya untuk menuruti nafsu jalan-jalan

Dia hadir seakan kau memanggilnya melalui batin. Dalam pikiran yang tak bisa kau cegah, muncul perempuan merengkuh anaknya. Kau kasihan karena perempuan itu sedang memeluk anaknya di pinggir jalan sambil menengadahkan tangan kepada setiap pejalan yang berlalu lalang. Perempuan itu kemudian pecah ketika rasa kasihanmu ditekuk oleh cerita orang-orang bahwa pengemis yang menggendong anaknya, setiap kali di jalan raya hanyalah pura-pura. Mereka sebenarnya kaya raya di kampungnya, memiliki banyak ladang dan sawah. Ketika ia menuju kota, maka ia berpura menjadi orang yang terlunta-lunta.

Kau tak akan pernah tahu bahwa itu adalah perempuan yang kau bayangkan ketika berjalan dengan waktu belasan jam tadi. Menurutmu hadirnya perempuan itu adalah de javu. Kau menimpal balik senyumnya, karena dia sangat ramah denganmu. Saat itu juga bayanganmu berada di tempat yang digambarkan seperti surga. Pikiranmu, ilusimu kembali ke wajah Reina. Sementara Serly yang mencintaimu tak pernah sekalipun hadir dalam bayanganmu. Sebab sekali berkhianat, maka tiada maaf.

***

Serly tidak sabar menghadapimu. Sementara Reina pergi tanpa kabar. Akhirnya kau memutuskan untuk melupakan dengan memanggul masa lalu dan harapan yang tak pernah terselesaikan.

Di Hari Raya Galungan, kau menemui Renaka yang sedang menyelesaikan tugas akhir studi pascasarjananya. Ia memutar-mutarkan tangannya selaksa menari di depan pohon asam setinggi tiga kali lipat tubuhmu. Renaka berada di bibir Hutan Daintree yang lebat di Queensland. Ia duduk di kursi taman yang mencipta kenangan bersama mantan pacarnya. Jarak antara Gija' ke Queensland 954.2 km. Itu artinya membutuhkan waktu sekitar 10 jam 40 menit. Kau rela melakukan perjalanan yang lama dan membosankan hanya karena ingin menghabiskan pertemuanmu dengan Renaka. Renaka sudah tahu bahwa ia akan disegerakawinkan denganmu setelah studinya selesai.

***

Renaka belum mewujudkan harapan bapaknya. Bapaknya sudah lebih dulu naik ke semesta. Ia menatap lekat makam bapaknya setinggi tubuh domba. Ia meletakkan pelan-pelan patung setengah badan yang menyerupai bapaknya. Tertulis nama Brichers dan disertai fotonya.

Pernikahanmu dan Renaka digelar setelah seratus hari kematian bapaknya Renaka di Queensland. Renaka membutuhkan waktu perenungan yang sangat panjang agar bisa menerimamu. Sementara Renaka masih mengingat masa lalunya. Masa ketika lelaki yang ia cintai dipaksa bapaknya agar jalinan lekas diselesaikan kemudian menerima tawaran jodoh yang dipilihkan bapaknya —kau

Renaka adalah perempuan yang taat. Taat kepada bapaknya, Tuhan, dan agama. Tapi setelah menikah denganmu, ia menjadi berbelok arah. Ia menganggap bahwa tak ada lagi yang ditaati kecuali Tuhan dan agama; bapaknya sudah meninggal, mentaatimu adalah sebuah perbuatan yang sia-sia.

Minggu, 5 Mei 1996 Renaka bertaruh nyawa. Lelaki tampan dan mungil telah memecah pagi dengan tangisannya pertama kali. Kau tak mampu memegang tangannya sambil memintal doa-doa ketika Renaka mengerang, bersusah payah melahirkan si jabang bayi. Renaka dibantu tetangga. Sementara kau sedang menaklukkan Gunung Rose di Gendisa.

"Ke mana suamimu?" ucap Jesh —dokter di Queensland.

Renaka hanya terdiam. Tertunduk sedih sambil menahan perut yang selaksa diperas-peras. Anak itu lahir dengan selamat tanpa kehadiranmu. Sehingga hanya Renaka yang membisikkan doa-doa pertama kali di telinga kanan anakmu. Ia terdiam kemudian perlahan memejamkan mata, tertidur. Renaka melapangkan dada, bernapas lega. Akhirnya ia ikut serta tidur bersama anakmu.

***

Ibumu datang dari Gija' menemui Renaka. Ia membawa anakmu dan Renaka agar tinggal bersamanya. Sebab orangtuamu merasa iba jika Renaka harus mengurus bayi dengan tangannnya sendiri. Sementara kau masih terus berlanjut menaklukkan misi yang kau ciptakan sendiri.

Jumat yang agung memekatkan langit Queensland. Kau pulang dengan wajah berkabung duka dan penyesalan. Betapa gelisahnya diri ketika kau pulang ternyata tiada siapapun. Kau pulang ke Gija' bersama dua karibmu. Salah satu tetanggamu mengabarkan bahwa Renaka dan anakmu telah dibawa pulang ibumu. Wajahmu mendadak mekar ketika mendengar bahwa bayi yang sudah kau nanti kelahirannya ternyata sudah hadir di dunia.

Kau menempuh perjalanan dengan wajah tenang dan senang. Sesekali gelisah merasai nyeri dada. Setelah menempuh perjalanan berjam-jam dengan menahan rasa sakit, kau sampai di Gija'. Kau berjalan sambil melengkungkan tangan ke pundak kedua karibmu. Berjalan pelan-pelan sampai di beranda rumah. Setelah sampai di bibir pintu, kau melihat Renaka sedang menggendong anakmu sambil mengayun-ayun agar tenang. Bayimu yang menangis sejak semalam, membuat Renaka naik pitam.

Renaka melihat kedatanganmu. Wajahnya memerah darah. Namun ia terkejut ketika melihat kaki kananmu terluka. Seorang karib mengatakan bahwa kau terperosok dan jatuh di dagu gunung sebelum sampai pada ujung. Kau mencoba mengelus-elus kepala anakmu. Menatap sangat lekat. Anakmu diam, sayu-sayup kau mengatakan permintaan maafmu. Perlahan anak itu tertidur.

***

Sepulang dari rumah sakit kau tak bisa melakukan apapun. Kau hanya mampu duduk di kursi dengan pijakan kayu di sisi kananmu. Seorang dokter mengatakan bahwa kakimu telah membusuk dan harus diamputasi.

Kau masih menatap langit Gija' yang cerah. Kau mampu memandang Gunung Pusa dari jendela kamarmu. Kau masih teringat jelas kejadian itu. Penyesalan dan rasa bersalah tak bisa dilupakan begitu saja.

"Maafkan aku, Renaka," ucapmu.

Renaka masih diam.

"Renaka, aku menyesal," ucapmu.

Langit Gija' mendadak mendung pekat. Gunung Pusa sudah tak tampak di mata. Kau gelisah sambil mengusap-usap punggung tangan kirimu. Menatap mata istrimu yang berdiri di depanmu.

"Aku sudah memaafkanmu. Tapi aku tak akan pernah melupakan kejadian itu," bisik Renaka.

Rinai membasahi tanah Gija'. Anakmu tertidur pulas. Renaka bermuka ganas. Kau memejamkan mata sambil mengepaskan napas berkali-kali. Mendadak kau teringat dengan wajah Reina. Kau membayangkan sedang berada di vilanya.

Gija', 6 Oktober 2017 (:untuk Rara dan Bundanya)

Aksan Taqwin Embe
termasuk 16 penulis terpilih yang diundang dalam perhelatan internasional Ubud Writers and Readers Festival 2017. Buku kumpulan cerpennya bertajuk Gadis Pingitan


Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com



(mmu/mmu)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed