DetikHot

art

Lelaki yang Menangis di Perpustakaan

Sabtu, 16 Des 2017 10:45 WIB  ·   Rachman Habib - detikHOT
Lelaki yang Menangis di Perpustakaan Ilustrasi: Nadia Permatasari/detikcom
Jakarta - Suatu hari seorang lelaki menangis di perpustakaan. Wajahnya tirus, dan selalu tampak gusar. Dia berada di dekat jendela perpustakaan yang sengaja dibuka. Tetapi ia tidak memandang keluar, dan tidak melihat ke mana-mana.

Perpustakaan itu sudah berusia lebih 70 tahun. Dindingnya sewaktu-waktu seperti terbuat dari jeruji penjara, bisa menyekap siapa pun tanpa ampun. Namun di sisi lain tampak teramat ringkih, mudah dirobohkan dalam sekali tendang. Di perpustakaan itu hanya ada satu jendela—tempat lelaki itu menangis—yang dapat ditembus cahaya dari luar, menggantung pada dinding sebelah kanan, dengan sedikit terdesak oleh ujung rak buku-buku Ilmu Alam. Dan, hanya dari jendela kecil itu pula kamu bisa memandang keluar.

Bagaimana kamu bisa memperbarui sudut pandang jika dari satu titik saja kamu dapat melihat sesuatu? Itu salah satu pertanyaan yang terus dicari jawabannya, dan dengan pertanyaan itu arsitektur perpustakaan milik keluarga Rohman Nawawi itu dibangun. Tidak terlalu besar, serta tidak terlalu kecil juga. Kelak, para ahli sejarah mencatat perpustakaan itu sebagai perpustakaan "tak masuk akal", lantaran berada jauh dari jangkauan khalayak, bersembunyi di belakang bukit yang menghabiskan enam jam perjalanan dari pusat Kota A.

Lelaki itu bukan dari keluarga Rohman Nawawi.

Keluarga Rohman Nawawi tidak pernah meniatkan bangunan yang dirancang dari pertanyaan tadi sebagai perpustakaan. Bagaimana mungkin dinding-dinding bisa didirikan dari pertanyaan-pertanyaan? Keluarga Rohman Nawawi sempat berdebat panjang soal pembangunan gedung itu. Padahal tujuan keluarga Rohman Nawawi ingin memiliki satu tempat persembunyian yang menjamin keamanan mereka.

Semua warga kota A tahu mereka adalah tahanan Negara, dan tak satu pun dari warga kota A yang mau membantu keluarga Rohman Nawawi, sekaligus juga tidak mau berada di pihak Negara. Warga sepakat bahwa terlalu muluk jika menyebut-nyebut kata "Negara" dalam setiap perbincangan ataupun persoalan yang senyatanya tanpa atau dengan adanya Negara perbincangan ataupun persoalan itu tetap ada. Kriminal dan kemiskinan, tidak bergantung pada kata Negara. Ada negara atau tidak, dua hal tersebut pasti ada.

Saat keberadaan mereka terendus badan intelijen, keluarga Rohman Nawawi sepakat mendirikan gedung tempat bersembunyi, terserah dengan fondasi apa. Gedung itu dibangun dengan salah satu pertanyaan: "Bagaimana kamu bisa memperbarui sudut pandang jika dari satu titik saja kamu dapat melihat sesuatu?" Pertanyaan lainnya empat pertanyaan Immanuel Kant. Pertama, apa yang dapat ia ketahui. Kedua, apa yang harus ia perbuat. Ketiga, apa yang dapat ia harapkan. Keempat, siapakah ia dalam kaitannya dengan ketiga pertanyaan sebelumnya.* Ditambah pertanyaan-pertanyaan ontologis: Apakah dunia? Dunia macam apa yang mungkin ada? Apa yang terjadi bila batas-batas dilanggar dan bila orang beralih dari satu dunia ke dunia lain?** Hasilnya gedung itu tampak seperti rangka tua tak berdaya atau mirip seorang kakek sekarat di mana anak cucunya mendoakan kematian yang cepat.

Bisakah bangunan gedung itu dibayangkan? Jika dari luar tampak seperti kakek tua yang tinggal rangka, dari dalam seperti tubuh dengan organ-organ vital yang terletak berantakan. Katakanlah perpustakaan itu sengaja dirancang seperti bangunan yang tidak selesai. Benda-benda di dalamnya, seperti rak dan buku, meja, kipas angin, tidak ditata menurut ketentuan umum. Terkesan ditaruh sembarangan biar penghuninya punya sesuatu yang bisa dikerjakan tiap harinya. Memperbaiki posisi rak, menata buku, memindah meja, memasang lampu, kemudian merusak tatanan itu lagi sehingga esoknya bisa mengulangi pekerjaan yang sama.

Bagaimana mungkin dinding-dinding bisa didirikan dari pertanyaan-pertanyaan? Lelaki itu menangis bukan karena pertanyaan ini.

Generasi terakhir keluarga Rohman Nawawi sudah punah ketika perpustakaan itu berusia 70 tahun. Perpustakaan itu ditempati tuan tanah, keluarga Rohman Nawawi menjual dengan harga murah kepada tuan tanah di Kota A, kemudian tuan tanah tersebut membuka akses kepada siapa saja yang ingin berkunjung ke perpustakaan itu. Sampai suatu ketika ditemukan kuburan di dalam perpustakaan itu. Pemerintah kota mengambil alih. Membuka pintu bagi para peneliti yang mau menelusuri sejarahnya, dan untuk sementara waktu akses ditutup.

***

Ditemukan satu paragraf ganjil di dalam buku Tidak Ada Tuan Tanah. Tentang kematian seorang lelaki yang menangis di perpustakaan. Musim hujan mengurung Kota A. Kota yang terletak di kemiringan bukit digebuki hujan deras. Sembilan hari tanpa kesempatan mendapat sinar matahari. Sembilan hari tanpa seorang pun bisa keluar dari dalam ruangan. Saat itulah kematian lelaki itu.

Katanya, dalam buku Tidak Ada Tuan Tanah, hari itu angin begitu bejat. Kendati penduduk merapatkan daun jendela, tusukan angin tetap mampu mengobrak-abrik ruangan di dalamnya. Buku-buku berjatuhan dari rak, dan lelaki itu sedang menyuntuki buku filsafat. Rak buku-buku filsafat terpacak jauh dari jendela. Tetapi, angin dan sedikit hujan, sanggup menjangkau ke sana. Menyelinap didampingi kematian yang rahasia. Ia sedang berpikir apa yang tidak mungkin bagi pikiran ketika angin menusuk kacamatanya. Kacamatanya pecah, menjadi kepingan-kepingan kecil yang bergerak lambat di udara. Kepingan-kepingan itu berpijar memantulkan keterperangahan lelaki itu.

Kata buku Tidak Ada Tuan Tanah, kacamatanya pecah karena dua kemungkinan. Angin yang sangat keras, dan dia sendiri yang sedang berpikir keras sampai-sampai kacamatanya tak kuasa menahan impuls-impuls otak lelaki itu, dan pecahlah mengeping. Satu dari sekian kepingan itu berbalik menancap di mata lelaki itu. Memutus saraf paling vital, dan menjadi adegan pengatar bagi kematiannya. Ia ditemukan terkapar di balik tumpukan buku-buku. Hari sudah tidak berhujan. Petugas perpustakaan, yang didesak rasa takut akan tuduhan sebagai pembunuh, mengubur lelaki itu di tempatnya terkapar. Sendirian ia menggali kuburan, dan ketika pemakaman lelaki itu selesai, petugas perpustakaan seperti pemikir besar berpesan ke seorang pemula: "Maaf anak muda, saya menggali kuburan Anda tidak sedalam Anda menggali pikiran. Tetapi tenanglah, arwah Anda akan tenang di sana dikawani buku-buku mematikan itu." Sial bagi petugas itu, ia tidak bisa tidur tanpa memerangi mimpi buruk. Ia pun meminta dipensiunkan, membawa rahasia yang tak seorang pun tahu.

Maka ditemukanlah satu kuburan di dalam perpustakaan itu berselang tahun yang sangat lama.

Tidak ada buku, dan bukan jenazah lelaki yang menangis di perpustakaan seperti diceritakan buku Tidak Ada Tuan Tanah.

Dua di antara enam orang peneliti mengundurkan diri dari proyek penelitian yang dibiayai pemerintah Kota A. Mereka berdua kemudian menulis di surat kabar bahwa perpustakan ini dihuni hantu untuk menghentikan teman-temannya yang lain. Akan tetapi hasutan di surat kabar tak berhasil karena penelitian tetap dilanjutkan kendati dua orang lagi menyusul mereka berhenti. Dua orang terakhir menyimpulkan kalau di perpustakaan ini, dan mungkin di sekitarnya, ada lebih dari dua kuburan. Penelitian dilanjutkan dengan memulainya dari buku-buku. Kenapa rak Ilmu Alam diletakkan dekat jendela, kemudian disusul buku-buku ilmu matematika, dan buku-buku Agama terpisah di ruang sunyi, sementara buku-buku filsafat memakai sepuluh rak, rak terbanyak?

"Ini perpustakaan tak masuk akal," kata mereka. Lantaran tidak ada informasi apa pun yang bisa dikumpulkan dari susunan buku seruah itu, kecuali dari Tidak Ada Tuan Tanah. Satu hari, pada suatu tahun yang tidak dapat seorang pun memastikan, ada seorang lelaki menangis di perpustakaan, kata buku Tidak Ada Tuan Tanah. Ditengarai buku itu catatan harian petugas perpustakaan yang tertinggal karena lupa saat dia pergi dari perpustakaan ini. Sementara judul Tak Ada Tuan Tanah diambil secara serampangan oleh dua peneliti terakhir. Hanya karena tertulis di halaman pertama, Tidak Ada Tuan Tanah dijadikan judul. Sedangkan isinya sama sekali tidak ada kaitan dengan tanah atau perbudakan atau pemerasan tuan tanah atau makelar-makelar licik. Di dalamnya cuma berisi catatan betapa letihnya bekerja di perpustakaan tuan tanah, dan curahan-curahan lain, utamanya mengenai apa saja yang dilihat, dirasakan, dan ditangkap petugas itu.

***

Kerja sangat meletihkan. Tetapi dari kerjalah 'nilai' diturunkan. Sebab alasan tersebut peneliti tersisa melanjutkan proyek mereka.

Empat kuburan ditemukan terpisah-pisah dari antara satu dan kuburan lain. Di akhir kesimpulan penelitian mereka yang kelak dibukukan dan diperbincangkan sedikit akademisi, si peneliti menulis—seperti pelajar Abad Pertengahan di biara-biara: "Seharusnya hanya ada satu Tuhan bagi semua orang agar takdir Ilmu Pengetahuan tidak terus didirikan di atas kuburan." Dua di antara empat terletak di luar gedung perpustakaan. Sisanya di bawah meja daftar tamu dan di dekat pintu kamar mandi. Siapa orang-orangnya? Mereka adalah keluarga Rohman Nawawi. Semua kuburan keluarga Rohman Nawawi ditemukan, lima. Dipindahkan ke pemakaman umum di Kota A atas permintaan si peneliti.

Akan tetapi, meskipun penggalian juga dilakukan di sekitar rak buku filsafat, jenazah lelaki yang menangis di perpustakaan tidak ditemukan. Ia telah moksa, kata peneliti dengan putus asa. Dan didorong rasa putus asa pula, di satu kesempatan wawancara ia mengatakan, kesalahan pertama umat manusia karena tidak belajar metode penelitian sehingga semua kesalahan yang disebabkan gagalnya penelitian ini ditimpakan kepadanya. Ia menangis di perpustakaan.

*Dikutip dari buku Saras Dewi, Ekofenomenologi: Mengurai Disekuilibrium Manusia dengan Alam, Marjin Kiri, 2015
**Dikutip dari editor pengantar antologi cerpen Amerika Latin, Catatan-catatan dari Buenos Aires, terjemahan Anton Kurnia, Jalasutra, 2002

Rachman Habib mahasiswa Filsafat Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan anggota aktif Teater ESKA Yogyakarta. Berkumpul dengan kawan-kawan yang menamai diri Word Generation

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com


(mmu/mmu)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed