DetikHot

art

Fotografer Aceh Chaideer Mahyuddin Pamer Potret Tanah Rencong di Jerman

Kamis, 07 Des 2017 15:16 WIB  ·   Agus Setyadi - detikHOT
Fotografer Aceh Chaideer Mahyuddin Pamer Potret Tanah Rencong di Jerman Fotografer Aceh Chaideer Mahyuddin Pamer Potret Tanah Rencong di Jerman Foto: Chaideer Mahyuddin/ Pribadi
Aceh - Fotografer Aceh Chaideer Mahyuddin menggelar pameran foto tunggal di Kota Berlin, Jerman. Ia memamerkan potret Tanah Rencong usai konflik berkepanjangan.

Chaideer bersama Watch Indonesia dan Goethe Institute menggelar pameran foto tunggal yang berlangsung mulai 5-18 Desember mendatang. Ada 30 frame foto yang menceritakan tentang Aceh yang dipajang di sana. Di antaranya tsunami Aceh, proses perdamaian, rekonsiliasi, rehab rekon, hingga Aceh kekinian seperti penerapan syariat Islam, politik, isu lingkungan, dan pariwisata.

"Secara pribadi, pameran ini sebagai prestasi yang luar biasa dan mimpi yang terwujud, tentunya dengan pameran ini bisa membuka mata orang luar tentang Aceh dan perkembangannya pascakonflik, bencana, dan damai," kata Chaideer dalam keterangan tertulis, Kamis (7/12/2017).

Chaideer berada di Jerman sejak 2-8 Desember. Ia turut hadir dalam pembukaan pameran fotonya pada Selasa (5/12) waktu Jerman. Usai pembukaan, Chaideer didapuk sebagai narasumber inti dalam diskusi foto bersama fotografer dan masyarakat di Kota Berlin.



Melalui 30 frame foto karyanya itu, Chaideer ingin menjelaskan kondisi di Aceh sebenarnya. Selama ini, katanya, yang paling disorot oleh masyarakat dunia tentang Tanah Rencong adalah soal pelaksanaan syariat Islam.

"Bicara Aceh nggak melulu soal syariat Islam. Syariat adalah salah satu aturan di Aceh yang dijalankan, tapi di balik itu semua ada sejarah panjang Aceh, juga ada budaya dan keindahan alam yang harus kita tunjukkan pada dunia," ujarnya.

Terpilihnya Chaideer untuk memamerkan 30 frame foto tentang Aceh di Jerman, tidak terlepas dari sepak terjangnya sebagai fotografer Aceh yang bekerja pada kantor berita Agence France-Presse (AFP), di mana foto-foto bidikannya sering mewarnai media-media internasional selama ini.

Bukan hanya itu, keterlibatan Chaideer dalam konflik sebagai salah satu pejuang, juga menjadi daya tarik tersendiri bagi Watch Indonesia dan Goethe Institute. Keberhasilan dan prestasinya di dunia fotografi jurnalistik, dianggap berhasil melakukan proses rekonsiliasi di Aceh pascakonflik.

"Ya saya dianggap berhasil keluar dari image konflik, saya berhasil meninggalkan dunia saya sebelumnya. Tapi saya tidak perlu lagi menjelaskan kisah-kisah lama itu, sekali lagi terima kasih saya ucapkan kepada Watch Indonesia dan Goethe Institute," pungkas pengurus Pewarta Foto Indonesia (PFI) Aceh tersebut.

Sementara itu, Ketua PFI Aceh, Fendra Tryshanie, mengatakan, Chaideer Mahyuddin di kalangan pewarta foto Indonesia dikenal sebagai pribadi yang berintegritas tinggi. "Jadi, dedikasinya untuk dunia fotografi Aceh telah terbayar dengan dipamerkan karya foto jurnalistik Chaideer di Eropa," kata Fendra.

Tentu, lanjut Fendra, ini menjadi kebanggaan sendiri bagi PFI Aceh dan PFI secara keseluruhan. "Harapan kami, ini bukan pertama dan terakhir bagi PFI Aceh. Semoga saja tekad Chaideer mengenalkan Aceh pada dunia, menular ke kawan-kawan PFI yang lain khususnya di Aceh," pungkas Fendra.


(tia/tia)

Photo Gallery
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed