Menjelajahi Koleksi Museum MACAN

Tia Agnes - detikHot
Sabtu, 04 Nov 2017 13:46 WIB
Foto: Tia Agnes/detikHOT
Jakarta - Museum of Modern and Contemporary Art in Nusantara atau disingkat Museum MACAN resmi dibuka untuk umum mulai hari ini. Lewat pameran seni berjudul 'Seni Berubah. Dunia Berubah', sebanyak 90 koleksi dari 70 seniman yang dimiliki filantropis Haryanto Adikoesoemo dipamerkan untuk pertama kalinya.

detikHOT bersama awak media yang diundang Museum MACAN melihat secara perdana museum seni modern dan kontemporer yang terpenting di Asia Tenggara.

Terletak di Wisma AKR, kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, dari luar gedung tak seperti sebuah bangunan museum. Namun, ketika masuk ke lantai lima Wisma AKR, interior bergaya kontemporer menyapa pengunjung. Di depan elevator dan lift terdapat ruang khusus anak-anak yang dirancang oleh firma desain unggulan MET Studio dari London.
Museum MacanMuseum Macan Foto: Tia Agnes/detikHOT

Di ruang anak-anak, Entang Wiharso menggabungkan antara mural dan edukasi yang mengeksplorasi gagasan tentang Taman Apung. Di sini siapapun bisa menggambar serta berkreasi seperti yang diinginkan.

Lanjut ke bagian depan Museum MACAN, terdapat dua lukisan berukuran raksasa. Lukisan Entang berjudul 'Melt (Meleleh)' (2008) berdampingan dengan karya seniman Amerika, Keith Haring.

Memasuki pameran 'Seni Berubah. Dunia Berubah', pengunjung bakal disuguhi karya Yayoi Kusama yang instagrammable banget. Dilanjutkan pada empat babak yang dibagi oleh kurator Charles Esche dan Agung Hujatnika.

Babak pertama diberi judul 'Bumi, Kampung Halaman, Manusia'. Koleksi berasal dari awal abad ke-19 sampai awal abad ke-20 dari seniman Eropa dan Asia Tenggara. Ada Raden Saleh, Miguel Covarrubias, sampai I Gusti Nyoman Lempad. "Konteksnya di babak ini adalah masa kolonial," ujar kurator Agung Hujatnika saat tur pameran.

Babak kedua ada 'Kemerdekaan dan Setelahnya'. Di bagian ini merupakan tema-tema nasionalisme dan banyak seniman Indonesia yang aktif di masa kemerdekaan atau dalam konteks dunia saat Perang Dunia II. "Salah satu lukisan yang menarik adalah S.Sudjojono yang bukan buat lukisan heroik tapi prajurit yang lagi ngaso," tutur Agung Hujatnika.

Babak ketiga 'Pergulatan Seputar Bentuk dan Isi' yakni sepanjang tahun 1950 dan 1960-an. Sebagian besar lukisan karya seniman Tanah Air di era ini figuratif serta abstrak. Babak keempat 'Racikan Global' yang ditandai dengan reformasi 1998.

Selain itu, juga terdapat perjalanan seni rupa Indonesia abad ke-20 yang dikerjakan tim riset Museum MACAN. Tertarik melihat 90 karya seni unggulan yang dipajang? Pameran masih berlangsung dari 4 November 2017 sampai 18 Maret 2018.

(tia/nu2)