DetikHot

art

Sihir Sinden Danisah

Sabtu, 30 Sep 2017 10:40 WIB  ·   Aris Kurniawan - detikHOT
Sihir Sinden Danisah Ilustrasi: Kiagoos Auliansyah/detikcom
Jakarta - Orang-orang di kampungku menggemari cerita-cerita yang tak dapat dibuktikan kebenarannya. Cerita-cerita isapan jempol yang kadang membuat mereka rela bertikai dengan orang yang tak mau percaya mendengar cerita-cerita yang mereka tuturkan. Cerita isapan jempol barangkali lebih memberi hiburan ketimbang cerita-cerita yang dapat dicerna akal sehat. Cerita yang memberi hiburan salah satunya adalah tentang sinden tarling Danisah.

Danisah sinden tarling yang paling terkenal di kampung kami di antara begitu banyak sinden tarling yang lain. Namanya dielu-elukan melebihi Majo, seorang pencetak gol dalam tim kesebelasan yang dimiliki kampung kami; atau Haji Warlam yang tambaknya berhektar-hektar dan sangat royal memberi sumbangan setiap ada kegiatan anak-anak muda di kampung kami.

Semua orang memimpikan dapat mendatangkan sinden tarling Danisah pada malam hajatan mengawinkan atau sunatan anak-anak mereka. Bukan suaranya yang membuat sinden tarling Danisah dikenal oleh semua orang, bukan pula wajah atau gerakan tubuhnya kala menyinden —mengingat banyak yang lebih aduhai. Melainkan, karena desas-desus bahwa sinden tarling Danisah memelihara jin yang membuatnya mampu tampil di beberapa panggung berbeda dalam waktu bersamaan.

Meski tak ada seorang pun yang dapat membuktikan desas-desus itu, tetapi mereka dengan gembira terus menceritakan kemampuan sihir sinden tarling Danisah kepada anak-anak muda atau para pendatang di kampung kami. Dari mulut ke mulut cerita itu beredar di kampung-kampung pesisir pantai laut utara; suatu malam sinden tarling Danisah manggung di tiga tempat berbeda secara bersamaan. Padahal rumah Pak Camat yang hajatan mengawinkan anaknya dengan rumah Pak Kades dan rumah juragan tambak yang nanggap sinden tarling Danisah satu sama lain dipisahkan jarak 20 kilometer.

Orang-orang taruhan di mana sinden tarling Danisah yang asli berada malam itu. Di rumah Pak Camat atau Pak Kades? Ada yang mempercayai Danisah yang asli di rumah Pak Camat. Karena bayaran dari Pak Camat lebih besar daripada Pak Kades. Lalu siapa yang nyinden di rumah Pak Kades? Kembarannya? Danisah jelas tidak punya saudara kembar. Bu Ramini, ibu Danisah, dukun bayi terkenal di kampung kami itu, hanya melahirkan seorang bayi bernama Danisah. Tetapi tentu saja tak ada yang menang taruhan.

Cerita tentang kemampuan sihir sinden tarling Danisah membelah warga kampung kami menjadi dua golongan, yang mempercayainya —ini golongan mayoritas- dan golongan yang menolak. Darma, seorang pendatang di kampung kami yang berprofesi sebagai guru bantu termasuk ke dalam golongan yang kedua. Darma yang seorang bujang lapuk tidak sekadar menggemari cara sinden tarling Danisah membawakan lakon di panggung, ia bahkan diam-diam jatuh hati kepada sinden tarling dan berminat memperistri perempuan itu. Laki-laki itu tak pernah melewatkan menonton tarling di pelosok desa mana pun Danisah nyinden. Darma datang ke tempat hajatan paling awal untuk mencari posisi yang paling nyaman, dan berusaha mencari-cari kesempatan menemui sinden tarling Danisah di balik panggung seusai pertunjukan, namun tak pernah kesampaian.

Sinden tarling Danisah begitu sulit ditemui. Begitu pertunjukan sandiwara tarling selesai —biasanya hingga lewat tengah malam bahkan menjelang subuh- sinden tarling Danisah seakan langsung menghilang ditelan angin. "Di mana Danisah?" Darma bertanya kepada kru rombongan sandiwara tarling. Tapi mereka semua menggelengkan kepala, atau menjawab dengan ketus dan tatapan curiga dan tak suka.

"Baru saja dia pulang dijemput orang."

"Sama Pak Kades."

"Mana saya tahu."

"Sampeyan apanya Danisah?"

"Ada perlu apa sama Danisah?"

Berkali-kali gagal bertemu Danisah kadang membuat Darma curiga bahwa cerita-cerita tentang kemampuan sihir Danisah bukan isapan jempol. Tapi pikiran warasnya segera menyangkal. Aku ini orang terpelajar, tak boleh percaya cerita-cerita di luar nalar, pikir Darma.

"Kenapa sampeyan masih tak percaya," tukas seseorang, "Danisah memang punya peliharaan jin. Jangan coba-coba sampeyan mendekatinya." Tapi omongan semacam itu membuat Darma makin penasaran belaka.

Darma sudah berusaha mengumpulkan informasi mengenai rumah sinden tarling Danisah. Dan itu ternyata bukan perkara mudah. Informasi yang didapatnya simpang siur. Ketika dia berhasil mendapatkan alamat rumah Danisah dan mendatanginya, ternyata rumah itu kosong, gelap, dan tak ada tanda-tanda ditempati. Rumah gebyok itu ngungun hanya diterangi pelita bercahaya redup. Ketika Darma berbalik hendak kembali tiba-tiba dia mendapati dirinya tersesat di sebuah hutan. Darma berputar-putar tapi tak menemukan jalan keluar. Padahal seingatnya ketika menyusuri jalan menuju rumah sinden tarling Danisah dia melihat rumah-rumah penduduk. Darma baru dapat keluar dari hutan kecil itu ketika fajar menyingsing. Darma tak pernah menceritakan pengalamannya, bahkan menganggap malam itu dia melindur sambil berjalan-jalan belaka seperti yang kerap dialaminya waktu kecil.

Sosok sinden tarling Danisah makin menghantui pikiran Darma. Kejadian yang dialaminya malam itu makin menguatkan tekat Darma memperistri Danisah. Lantunan suara sinden tarling Danisah mengiang di telinga Darma saban malam menjelang lelaki itu tidur. Gerakan tubuh sinden tarling Danisah di panggung menyusup dalam mimpi-mimpi Darma yang gelisah.

"Kamu percaya Danisah punya peliharaan makhluk gaib yang membuatnya bisa membelah diri?" tanya Darma kepada guru bantu rekannya.

"Kenapa kamu bertanya seperti itu?"

"Percaya tidak?"

"Aku tak mau bicara tentang dia."

"Kenapa?" kejar Darma, penasaran campur kesal.

"Kenapa kamu tergila-gila sekali sama dia?" tanya rekan guru bantu Darma seraya berlalu meninggalkan Darma sendirian di ruangan guru yang sudah sepi. Darma melamun sendirian di ruangan guru seraya membayangkan dirinya bertemu dan mengajak sinden tarling Danisah menjadi istrinya, dan membangun rumah tangga yang dia yakin akan bahagia.

"Kalau kau menjadi istriku, aku tak akan melarangmu nyinden. Bahkan aku siap mengantar ke mana pun kamu ditanggap," lamun Darma. Dia baru beranjak pulang ketika terdengar kumandang azan ashar.

Darma menyukai semua lakon yang dibawakan sinden tarling Danisah di panggung. Tetapi yang paling digemarinya —dan ini yang paling sering dimainkan grup tarling atas permintaan tuan hajat- adalah lakon Baridin dan Ratminah. Sebuah lakon kasih tak sampai yang bahkan dialog-dialognya sudah Darma hapal di luar kepala. Terutama adegan ketika dengan jumawa Ratminah menolak lamaran Baridin lantaran kemelaratan laki-laki itu.

"Due apa sira pengen rabi bari isun?"

"Isun mung due cinta lan setia."

Darma yakin sinden tarling Danisah tidak mata duitan seperti Ratminah. Sorot mata sinden tarling Danisah menyiratkan kebijaksanaan seorang ibu. Sehingga sinden tarling Danisah tidak perlu diguna-guna pakai ajian jaran guyang seperti Ratminah, dan meratapi Baridin sambil berlari-lari dengan baju awut-awutan hampir telanjang.

Darma berasal dari daerah pegunungan. Tapi bukan berarti dia tidak tahu pertunjukan tarling dan lagu-lagu tarling. Para tetangganya sering menyetel lagu-lagu tarling kalau mereka sudah bosan dengan lagu-lagu pasundan yang didominasi musik angklung. Ibu Darma sendiri sinden jaipong. Perempuan itu meninggalkan suaminya karena ayah Darma melarangnya nyinden sejak mereka menikah. Darma menyalahkan bapaknya. Dan dia berjanji tidak akan seperti bapaknya yang suka melarang-larang istri dengan alasan bahwa seorang istri harus di rumah saja melayani suami.

***

Bukan hanya kemampuan nyinden di beberapa tempat terpisah dalam waktu bersamaan yang menyelimuti cerita tentang sinden tarling Danisah, tetapi juga kedengkian dan kebencian para istri kepada sinden tarling itu lantaran suami-suami mereka kerap memuji-muji sinden tarling Danisah, dan rela meninggalkan anak mereka yang sakit di rumah demi menonton sinden tarling Danisah nyinden di desa sebelah.

Sinden tarling Danisah pernah dituduh selingkuh dengan Pak Kades sehingga dilabrak istri Pak Kades. Bahkan rumah sinden tarling Danisah pernah digeruduk orang-orang suruhan istri Pak Camat dan diancam disuir dari kampung kami apabila masih nekat mendekati Pak Camat.

"Ibu-ibu itu memang keterlaluan. Mereka mencari-cari kesalahan orang lain atas ketidakmampuan mereka membuat suami betah di rumah. Menuduh perempuan baik-baik merebut suami mereka," gerutu Darma.

"Sinden tarling kamu bilang perempuan baik-baik?" ujar rekan guru bantu Darma.

"Sinden tarling Danisah tidak seperti yang mereka pikirkan," tukas Darma.

"Mana ada perempuan baik-baik jadi sinden? Kamu nggak waras, Darma!" hujat rekan guru bantu Darma.

"Kamu ternyata sama piciknya dengan mereka, kawan," balas Darma sengit.

"Dengarlah, Darma. Dulu aku juga seperti kamu tergila-gila dan bersimpati kepada sinden tarling Danisah. Menganggap cerita mereka tentang Danisah punya peliharaan jin isapan jempol belaka."

"Jadi sekarang kamu percaya takhayul itu?"

Darma memandang sinis ketika rekannya cerita bahwa suatu malam ketika dia mendatangi rumah sinden tarling untuk maksud melamar, dia melihat di ruang tengah di atas ranjang yang diselubungi kelambu Danisah sedang tidur lelap sekali. Meski cahaya redup dia dapat mengenali wajah itu.

"Dan ibu Danisah bilang bahwa anaknya akan bangun setelah dia selesai nyinden. Waktu itu aku tahu Danisah memang sedang nyinden di desa sebelah. Bahkan suaranya yang melantunkan lagu sayup-sayup sampai ke telingaku."

Darma sama sekali tak percaya mendengar cerita rekannya. Sebaliknya, dia menuduh rekannya sedang menyebar fitnah. Dadanya panas. Kemudian Darma berlalu meninggalkan rekannya dengan membanting pintu.

Gondangdia, Oktober 2016

Aris Kurniawan lahir di Cirebon 24 Agustus 1976. Menulis cerpen, puisi, resensi, esai untuk sejumlah penerbitan. Bukunya yang telah terbit Lagu Cinta untuk Tuhan (kumpulan cerpen, Logung Pustaka, 2005), dan Lari dari Persembunyian (kumpulan puisi, Komunitas Kampung Djiwa, 2007)

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com

(mmu/mmu)

Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed