DetikHot

art

Rencana Pembunuhan Sang Muazin

Sabtu, 15 Jul 2017 10:52 WIB  ·   Feby Indirani - detikHOT
Rencana Pembunuhan Sang Muazin Ilustrasi: Kiagoos Auliansyah/detikcom
Jakarta - Merencanakan pembunuhan bukanlah keahlianku, tapi aku percaya tidak ada hal yang tidak bisa dipelajari. Lagi pula tekadku sudah bulat. Setelah kupikirkan baik-baik, ini mungkin merupakan kontribusi terbesar yang dapat kulakukan kepada diriku dan juga lingkungan masyarakatku, kendati aku baru empat bulan menjadi warga di area ini.

Aku sudah hafal kebiasaannya setiap hari dan dari sudut pandang perencana pembunuhan, ini tentunya bermanfaat. Ia sebetulnya tinggal di belakang musala, di rumahnya yang sempit dan sumpek. Ia paling sering terlihat berada di musala sejak waktu ashar. Ketika matahari terbenam dan waktu maghrib tiba, dia akan mengumandangkan azan dengan cengkok suaranya yang kuhafal. Kadang ia memimpin salat berjamaah, namun lebih sering ia membiarkan ustaz atau guru yang menjadi imam jika kebetulan mereka hadir.

Ia akan mulai mengaji sejak pukul tiga dini hari, dengan suaranya yang lantang, dengan cara baca yang dilagu-lagukan namun tetap gagal terdengar merdu. Selama satu setengah hingga dua jam, ia akan mengaji hingga tiba waktunya mengumandangkan azan. Padahal seringkali aku baru pulang bekerja sekitar pukul 1.30, dan suara mengajinya membuatku terbangun dan gagal tidur hingga pagi. Rumahku yang tepat berada di samping musala, membuat mustahil untukku tidak mendengar suara mengajinya setiap malam. Sialnya aku tidak bisa tidur begitu ayam jantan berkokok. Tubuhku seperti sudah terbiasa terjaga di pagi hari.

Aku bekerja sebagai satpam klub, tempat orang-orang yang punya uang melepaskan penat dan kebosanan. Di hari-hari kerja, klub tutup pukul 1 dini hari, sedangkan di akhir pekan tutup pukul 4 pagi. Untuk menambah penghasilanku, aku kadang mengambil beberapa pekerjaan sampingan, seperti menjadi sopir. Pendapatanku memadai, tapi cukup melelahkan secara fisik. Apalagi aku selalu sulit tidur dengan pengeras suara musala. Aku selalu merasakan suara itu seperti benar-benar sedang diteriakkan di telingaku.

Aku bukan tidak pernah meminta secara baik-baik kepada sang Muazin. Aku pernah sengaja ikut salat berjamaah dan kemudian mendekatinya. Memohon pengertiannya agar menghentikan kebiasaannya mengaji pada dini hari tersebut.

"Tahukah Saudara, sepertiga malam terakhir itu adalah waktu terkabulnya doa-doa? Setiap muslim pasti mendambakan waktu paling dekat dengan Allah. Karenanya saya mengaji di saat itu, untuk membangunkan orang-orang agar melakukan Salat Tahajud."

"Tapi kan tidak semua orang ingin Salat Tahajud. Lagi pula kan tidak wajib?"

"Memang, tapi manfaatnya sangat besar. Tidak semua yang penting itu nyaman dilakukan, apalagi gampang, tapi manfaatnya sangat besar untuk diri masing-masing."

"Tapi suara itu juga mengganggu warga yang non muslim!"

"Yah, mungkin! Mungkin juga tidak. Koh Ahuang misalnya, dia bangun pukul 3 pagi, dan juga mulai berdoa dengan caranya sendiri. Juga teman-teman Tionghoa itu sangat rajin bekerja dari pagi-pagi sekali, itu yang membuat mereka sangat maju. Kita yang muslim ini harus belajar dan mencontoh mereka."

"Tapi bagaimana dengan muslim seperti saya yang pekerjaannya membuat saya tidak punya waktu banyak untuk tidur di malam hari?"

"Insya Allah, Saudara akan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik."

Sial! Tidak ada gunanya sama sekali bernegosiasi dengan orang ini. Keyakinannya begitu teguh dan ia mengatakannya dengan ketenangan yang mesti kuakui mengagumkan. Aku hanya menganga ketika dia pamit, karena tidak ada yang bisa aku katakan lagi.

Dan, begitulah malam-malam tanpa tidurku yang sangat menyiksa pun terus berlanjut.

Lama-lama tubuhku terasa semakin lelah, daya tahan tubuh melemah. Aku mulai bisa tidur pada pagi hari, tapi tidurku tak pernah benar-benar nyenyak. Apalagi kamarku menghadap ke timur, membuatku sulit bersembunyi dari matahari. Setiap kali sang Muazin mengaji atau mengumandangkan azan, aku kembali merasakan bising, merasa seperti kepalaku akan pecah.

Tadinya aku pikir hanya aku saja yang merasakan penderitaan ini. Tapi ternyata beberapa kali ketika makan atau minum kopi di warung dekat rumah, aku pun mendengar keluhan serupa. Antara lain datang dari dua orang --sepertinya mahasiswa— yang tinggal berjarak beberapa rumah dariku.

"Nasib kita ya, kos di sini," keluh pemuda pertama. "Tiap dini hari aku selalu terbangun karena suara mengaji dari musala itu."

"Ah betul! Aku juga. Apalagi ibu kosku baru memiliki bayi, dan si bayi sering jadi terbangun karena kaget dengan suara speaker musala yang keras banget itu."

Aku menyeruput kopiku pelan, berpura-pura abai meski terus memasang telinga. Dalam hati aku merasa menang karena mendapatkan pembenaran, ternyata bukan hanya aku yang terganggu dengan musala tersebut. Mungkin bahkan sudah waktunya melaporkan kepada Ketua RT bahwa musala itu sudah mengganggu ketentraman warga. Bukankah itu alasan yang kuat?

Dan, ternyata Ketua RT bukannya tidak menyadari hal ini.

"Ya, saya mengerti, Dik," ujarnya hati-hati seusai mendengarkanku. "Saya mengerti," ulangnya lagi sambil mengulas senyum yang ramah.

"Bahkan Adik bukan orang pertama yang pernah mengadukan hal ini kepada saya," lanjutnya. Hatiku berlonjak gembira.

"Tuh benar kan, Pak? Speaker musala itu memang mengganggu sekali. Saya sudah pernah bilang kepada penjaganya, Pak Muazin itu. Tapi dia tidak peduli!"

Ketua RT mengusap janggutnya, tampak berpikir sebelum kembali membuka mulut. "Saya sudah pernah menanyakan kepada beliau. Tapi menurutnya memang begitulah caranya menghidupkan musala. Lagi pula suara mengajinya itu menurutnya justru membantu lingkungan menjadi lebih aman yang mesti saya akui ada benarnya juga sih."

"Bapak hanya menanyakan? Bapak itu Ketua RT, sebetulnya berhak untuk memberikan teguran jika ada warga yang melanggar ketertiban umum, Pak," ujarku, mulai kembali merasakan putus asa merambat di perutku.

"Sabar, Dik, sabar. Saya mengerti maksud Adik. Saya pernah berkonsultasi ke Ketua RW, bahkan sampai ke Pak Lurah dan Camat. Tapi komentar mereka semua senada, mereka tidak berani menuding suara mengaji melanggar ketertiban umum, Dik. Itu kan kumandang ayat-ayat Allah. Takut kualat, Dik. Ya sama, saya juga takut."

Tubuhku lemas demi mendapat jawaban Ketua RT. Sungguh tidak berguna ternyata aku datang kepadanya.

"Dik, sabar ya, " ujarnya sambil menepuk bahuku. "Pelan-pelan akan saya berikan kesadaran kepada Pak Muazin. Tapi tidak bisa dipaksakan. Saya juga takut dilaporkan karena dianggap melanggar ekspresi beragama, bahkan jangan-jangan dituding melakukan pencemaran agama."

Dasar pengecut, batinku. Ada saja alasannya untuk tidak melakukan hal yang benar, hanya untuk merasa nyaman saja dengan keadaannya sekarang.

Setelah itulah gagasan untuk membunuhnya muncul di kepalaku. Muazin itu sebaiknya mati saja. Aku harus melakukan tindakan yang berani demi kedamaian lingkunganku. Kalau bukan aku, siapa lagi? Tidak mungkin Ketua RT pengecut itu.

Maka aku mulai memikirkan berbagai cara untuk membunuh si Muazin. Pekerjaanku membuatku tidak asing kepada aktivitas fisik yang keras. Aku pernah belajar ilmu bela diri, dan cukup mengerti titik-titik lemah tubuh manusia yang akan berdampak serius jika diserang. Antara lain di antara kedua mata, di urat leher, dan di selangkangan. Tapi membunuh adalah persoalan yang sama sekali berbeda. Dan aku mesti membuat kematiannya terkesan wajar, supaya tidak perlu ada yang mengusut kejadiannya dan bagaimana ia bisa meninggal.

Setiap malam benakku terus bekerja, mencari cara terbaik untuk membunuhnya. Beragam gagasan muncul, dari mulai membubuhi racun pada makanan atau minumannya, sampai cara yang sangat langsung seperti menusuknya di tempat yang akan berakibat fatal, mengemas peristiwanya jadi perampokan, meskipun ia sepertinya hidup terlampau sederhana untuk mengalami kejadian seperti itu. Setiap kali suara mengajinya terdengar keras memekakkan telinga, kepalaku terasa mendidih, murka. Kubayangkan bayi yang terbangun, ibunya yang gelisah, orang-orang malang yang tercuri waktu tidurnya seperti aku.

Aku membunuh sang Muazin setiap malam di dalam kepalaku. Ini semua tinggal masalah waktu, tekadku. Kuulang-ulang detail dari berbagai adegan pembunuhan itu. Aku akan melakukannya, aku akan menamatkan riwayatnya. Aku akan memperoleh kedamaianku dan berjasa bagi lingkunganku meskipun tidak akan mendapat pujian atau penghargaan apapun.

Waktu tidurku semakin sedikit, sebagian karena suara si Muazin, dan sebagian lagi karena pikiran-pikiran untuk membunuhnya. Aku tak sabar ingin segera melakukannya dengan caraku sendiri. Kadang aku membayangkan mematahkan lehernya dengan sekali entak. Kadang aku terpikir langsung menghujamkan saja belati di jantungnya. Kadang kureka-reka, racun di minuman adalah cara paling mujarab.

Di hari ke-113 sejak hasrat membunuh itu terbit, aku pulang dari tempat kerjaku dengan keadaan sangat lelah. Ada yang berkelahi di klub, entahlah apa masalahnya, mungkin berebut perhatian perempuan atau apalah. Salah seorang dari mereka sempat meludahiku saat aku berusaha memisahkan mereka. Betul-betul brengsek. Aku pulang ke rumah dengan keadaan murung pada pukul 2.30 dan kian jengkel mengingat bahwa sebentar lagi aku akan mendengarkan suara si Muazin.

Apakah sekarang waktu yang tepat untuk membunuhnya? Jika sekarang, aku sebaiknya akan menggunakan kayu atau bata saja, dan langsung meremukkan batok kepalanya.

Tapi hingga lewat pukul tiga, tidak ada suara apapun dari musala. Selama ini Muazin tidak pernah terlambat, sekalipun. Apa yang terjadi? Waktu terus berlalu, dan aku malah tetap gagal tidur karena bertanya-tanya ke mana si Muazin itu? Apakah ia sakit? Apakah ia sedang mudik atau keluar kota? Selintas pikiran menyenangkan muncul di kepalaku, apakah aku sudah berhasil membunuhnya hanya dengan kekuatan pikiran seperti yang sering dikatakan para motivator di televisi itu?

Membayangkannya membuatku menyeringai puas, namun sejurus kemudian aku tertidur pulas.

Aku baru terbangun kira-kira menjelang pukul 12 siang ketika ada suara dari speaker musala yang menyampaikan pengumuman berulang-ulang. Pikiranku belum begitu jernih dan mataku masih berat oleh kantuk, namun kurasakan seperti ada yang berbeda dari suara itu. Kutajamkan telingaku dan perlahan otakku mulai mencerna.

"Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. Telah berpulang ke rahmatullah, Muazin, pukul dua dini hari. Jenazah akan disalatkan hari ini bakda Salat Zuhur. Bagi yang ingin ikut menyolatkan dipersilakan segera bersiap-siap."

Aku langsung terduduk demi mendengar pengumuman itu. Astaga! Itu betulan terjadi! Muazin wafat! Aku merasakan kegembiraan membuncah. Dengan gerakan cepat aku langsung bangkit hendak menuju kamar mandi. Aku berencana mendatangi musala untuk memastikan kabar gembira itu. Dengan terhuyung-huyung aku berjalan ke kamar mandi, yang eh sial kenapa licin sekali? Aku hanya sempat tersentak ketika aku terpeleset dan kepalaku menghantam lantai sebelum akhirnya merasakan pandanganku gelap.

Rasanya tidak lama aku pingsan, atau mungkin tidur. Sialan, badanku terasa basah dan dingin. Ketika terjaga, pikiran yang pertama yang muncul adalah penyesalan karena terlambat membersihkan kamar mandi yang menjadikan lantainya terlalu licin. Itu semua karena aku selalu merasakan kelelahan yang sangat setiap harinya, karena kurang tidur yang terus menerus. Semua salah Muazin itu! Dia memang pantas menjadi orang yang bertanggung jawab atas semua keadaan tidak enak dalam hidupku. Dan eh, aku ingat tadi mendengar kabar bahwa dia sudah meninggal. Bagus untuknya, bagus untuk warga kampung ini.

Pukul berapa sekarang? Sepertinya sudah sore, meski aku tidak tahu berapa lama aku pingsan akibat terjatuh. Lamat-lamat aku mendengar suara mengaji, awalnya pelan, lalu makin lama makin keras, tapi seperti bukan menggunakan speaker. Seperti ada seseorang yang duduk di sampingku.

Ketika aku membuka mata, barulah aku menyadari, aku tak lagi berada di kamar mandiku. Pemandangan di sekelingku sudah berubah menjadi hamparan padang rumput yang amat luas. Hanya berjarak beberapa meter saja, aku melihat Muazin itu, sedang tekun mengaji.

Aku ternganga, lalu menjerit sekuat-kuatnya. Tapi aku tak bisa mendengar suara jeritanku sendiri. Yang kudengar hanya suara mengajinya yang semakin kuat.***

Feby Indirani penulis, jurnalis, peraih Anugerah Pembaca Indonesia 2010 kategori non-fiksi untuk bukunya I Can (Not) Hear: Perjalanan Anak Tuna Rungu Menuju Dunia Mendengar. Baru saja meluncurkan buku kumpulan cerita pertamanya, Bukan Perawan Maria (Pabrikultur, 2017). Cerpen Rencana Pembunuhan Sang Muazin termuat dalam buku tersebut.

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com


(mmu/mmu)
Berita Terkait
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed