DetikHot

art

Perupa Hanafi Pameran Tunggal 'Jalur Rempah Maritim' di New York

Jumat, 21 Apr 2017 09:10 WIB  ·   Tia Agnes - detikHOT
Perupa Hanafi Pameran Tunggal Jalur Rempah Maritim di New York Foto: Istimewa
Jakarta - Memperingati 350 Tahun Traktat Breda, perupa Hanafi menggelar pameran 'The Maritime Spice Road' atau 'Jalur Rempah Maritim' di New York. Didukung oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), eksibisi solo dibuka pada 23 April di Konjen RI-New York.

Hanafi akan menampilkan visual dari Pulau Run dalam karya-karya lukisan dan seni instalasi. "Kapal-kapal kargo berdatangan melalui jalur rempah yang memanjang dari Asia ke Eropa. Kesibukan jalur rempah pada akhirnya mengubah peta politik dan perdagangan dunia," tuturnya dalam keterangan pers yang diterima, Jumat (21/4/2017).

Pulau Run dikisahkan memiliki harta rempah yang berharga yaitu pala atau nutmeg. Tepat 350 tahun silam di awal abad ke-17, Pulau Run (Rhun) menjadi persaingan dari VOC (Belanda) dan EIC (Inggris).

Kala itu, pala diperebutkan oleh dua imperium besar dan nilainya lebih berharga dari emas. Pada 24 Januari 1667 silam, Perjanjian Breda disepakati.

Pulau Run diserahkan pada Belanda dan Inggris mendapatkan Pulau Manhattan, ulau tanpa rempah-rempah yang terletak di sebelah selatan ujung Sungai Hudson. Peristiwa tersebut dianggap bersejarah di New York. Serta membuat KOnjen RI-New York mengundang Hanafi untuk berpameran.

Perupa Hanafi Pameran Tunggal 'Jalur Rempah Maritim' di New York Foto: Istimewa


Riset Mendalam
Awal April lalu, Hanafi menyambangi Pulau Run dan Banda Neira. Dia datang bersama dengan filmmaker 'Aroma of Heaven' Budi Kurniawan serta dibantu oleh seniman-seniman dari Maluku.

"Bagaimana Pulau Run hari ini? Saya ingin mengatakan Indonesia di New York," katanya lagi.

Lewat hasil risetnya tersebut, Hanafi melahirkan lukisan, sketsa, dan video dokumenter. Sampai sekarang Hanafi pun mempertanyakan apakah perebutan rempah di era kolonialisme masih berlanjut sampai sekarang?

Bagi Hanafi, kopi jadi komoditas yang diperebutkan sampai saa ini. Tak ada perang serupa rempah pala di kepulauan Banda, tapi petani kopi sejak abad ke 18 menyebar dari Aceh sampai ujung Flores, masih juga berdiam dalam permainan harga.

"Barangkali kargo-kargo masih terus berlayar diam-diam dari Pelabuhan Ende, mengangkat java coffee, berlayar di jalur rempah yang sama dalam sepotong sejarah yang berbeda. Kargo-kargo tahu, ia sedang berlayar di laut yang sama," pungkasnya.

Pameran 'Jalur Rempah Maritim' adalah eksibisi tahun kedua Hanafi tentang jalur rempah. Sebelumnya, pada 7-18 Mei 2016 di Institute of Hispanic of Houston- Texas USA, digelar pameran 'When the Portuguese and the Spanish left: Story of the Spices'.


(tia/tia)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed