Pimpinan Produksi Ratna Riantiarno mengatakan tak terasa kelompok yang berdiri 1 Maret 1977 silam itu sudah berusia yang ke-40.
"Rasanya nggak lama sudah 40 tahun. Dimulai dari 12 orang, numpang latihan di parkiran. Harga tiket pementasan pertama 300 rupiah dengan kapasitas 300 orang," ujar Ratna saat jumpa pers di Balai Latihan Kesenian Jakarta Pusat, Kamis (23/2/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lakon 'Opera Ikan Asin' disadur dari 'The Beggars Opera' karya John Gay dan musik J.C. Pepusch serta 'The Treepenny Opera' karya Bertolt Brecht. Dua lakon tersebut disadur oleh Nano Riantiarno, dan latar peristiwanya diubah menjadi Batavia abad ke-20 saat era Hindia Belanda.
"Opera Ikan Asin sudah dipentaskan dua kali sebelumnya di tahun 1983 dan 1999 lalu. Dan sekarang di tahun 2017 akan dipentaskan lagi," ujar Nano yang menyutradarainya.
'Opera Ikan Asin' menceritakan tentang Si Raja Bandit Batavia, Mekhit alias Mat Piso yang menikahi Poli Picum tanpa seizin ayahnya, Natasasmita Picum, juragan pengemis se-Batavia. Picum mengancam Kartamarma, asisten Kepala Polisi Batavia yang juga sahabat Mekhit, bahwa para pengemisnya akan mengacaukan upacara penobatan Gubernur Jenderal yang baru.
Mekhit pun ditangkap dan digantung tepat saat upacara penobatan. Bagaimana kelanjutannya?
Pementasan ini menampilkan Budi Ros, Cornelia Agatha, Sari Madjid Prianggoro, Alex Fatahillah, Asmin Timbil, Raheli Dharmawan, Budi Suryadi, Daisy Lantang, Ratna Ully, Naomi Lumban Gaol, Suntea Sisca, Joind Byuwinanda, Rangga Riantiarno, dan lain-lain.
Produksi ke-147 itu dihargai mulai Rp 150 ribu hingga Rp 850 ribu (best view).
(tia/mmu)











































