'Opera Kecoa' Hingga 'Bunga Penutup Abad', Ini 10 Seni Pertunjukan Terhot

HOT TOP TEN 2016

'Opera Kecoa' Hingga 'Bunga Penutup Abad', Ini 10 Seni Pertunjukan Terhot

Tia Agnes - detikHot
Kamis, 29 Des 2016 11:18 WIB
Opera Kecoa Hingga Bunga Penutup Abad, Ini 10 Seni Pertunjukan Terhot
Foto: Rengga Sancaya
Jakarta - Seni pertunjukan tak luput dari perhatian pecinta seni. Ragam pertunjukan berkualitas dan bertaraf internasional meramaikan panggung Tanah Air sepanjang tahun 2016.

Mulai dari pementasan Teater Koma sebagai agenda tahunan sampai pertunjukan balet Tiongkok yang memukau penonton dan tampil sempurna tanpa kesalahan satu pun.

Berikut 10 seni pertunjukan yang mencuri perhatian tahun ini versi pilihan detikHOT:

Teater Koma 'Opera Kecoa'

Foto: Rengga Sancaya
Teater Koma selalu mementaskan dua lakonnya setiap tahun sebanyak dua kali. Dan di penghujung 2016, 'Opera Kecoa' hadir lagi sebagai produksi ke-146 di Graha Bakti Budaya, kompleks TIM. Jakarta Pusat. Lakon orang-orang terpinggirkan itu pernah dilarang pementasannya. Misalnya ketika pentas di tahun 1990-an setelah tiga bulan latihan, Teater Koma pun dilarang manggung dan sampai ditutup pagarnya.

"Wartawan sempat masuk, akhirnya pada masuk yang lain. Ada 30 orang buat manggung di empat kota di Jepang, tapi nggak diizinkan juga," kata Ratna saat ditemui di Sanggar Teater Koma.

'Opera Kecoa' pertama kali dipentaskan Teater Koma pada 1985, 31 tahun lalu di Graha Bhakti Budaya. Pada tahun 1990, lakon ini dilarang pentas di Gedung Kesenian Jakarta dan tidak diberi ijin pentas keliling ke Jepang. Kemudian di tahun 1992, dipentaskan dengan judul "Cockroach Opera" oleh Belvoir Theatre di Sydney, Australia. Akhirnya, lakon ini dipentaskan lagi di Gedung Kesenian Jakarta tahun 2003, 13 tahun setelah pelarangannya. Berita selengkapnya di sini.

Hiroshi Koike Bridge Project 'Mahabharata 3: Perang Kurusetra'

Foto: Hiroshi Koike Bridge Project
Sejak 2013 lalu, kelompok Hiroshi Koike Bridge Project menciptakan versi sendiri atas epos kuno India, Mahabharata. Tahun ini, mereka kembali ke Indonesia dengan pementasan 'Mahabharata Part 3' yang berjudul 'Kurusetra War' di Graha Bakti Budaya pada 28-29 September 2017.

Dibagi dalam lima bagian, sutradara Hiroshi Koike membaginya dalam dua bagian (pertama dan akhir), hingga pada akhirnya disajikan secara utuh. Awalnya pentas 'Mahabharata Part 1' diproduksi di Kamboja bersama seniman-seniman dari empat negara. Pentasnya berlangsung di Phnom Penh dan Hanoi. Setahun berikutnya, bagian kedua dipentaskan di India. Baru di tahun 2015, 'Mahabharata Part 2.5: B-War' diproduksi di Jepang, kali ini melibatkan seniman dari sejumlah negara di Asia, dan berlangsung di Chulalongkorn University Thailand, Shanghai, Manila, dan Tokyo.

Teater Garasi 'Yang Fana adalah Waktu, Kita Abadi'

Foto: Tia Agnes
Teater Garasi kembali menampilkan lakon berjudul 'Yang Fana Adalah Waktu. Kita Abadi' di Goethe-Institut Jakarta pada 30-31 Juli 2017. Pertunjukan yang judulnya meminjam puisi Sapardi Djoko Damono itu merupakan pengembangan dan penelusuran lebih jauh dari proyek seni kolektif Teater Garasi yang dilakukan sejak tahun 2008.

Menceritakan tentang mantan buruh migran Rosnah yang ingin menjadi artis agar bisa bertahan di Jakarta. Momen dramatiknya ditemui Rosnah saat perayaan Hari Raya Idul Fitri di kampungnya. Seluruh peristiwa buruk menyelinap ke dalam potret keluarga.

Sardono W Kusumo 'Black Sun'

Foto: Grandyos Zafna
Sardono W Kusumo menjadi highlight dalam pilihan detikHOT. Pentas retrospektif Sardono berlangsung di Singapura dengan judul 'The Sardono Retrospective Presents: Expanded Cinema, Solo Live Painting, Black Sun'. Dia hadir di ajang Singapore International Festival of Arts (SIFA) yang telah berdiri sejak 1977.

Di ajang bergengsi tingkat internasional tersebut, Sardono menampilkan retrospektif yang terdiri dari tiga pementasan karya. Yakni, persoalan sinema yang dirangkum dalam 'Expended Cinema' pada 13-28 Agustus di Malay Heritage Centre Singapore. Kemudian, Sardono akan live solo painting di lokasi yang sama selama dua hari, dari 20-21 Agustus. Ketiga adalah pertunjukan tari berjudul 'Black Sun' yang berkolaborasi dengan penari-penari Papua pada 26-27 Agustus di 13 TheatreWorks Singapore.

Eko Supriyanto 'Balabala'

Foto: Tia Agnes/ detikHOT
Dalam 'Balabala', Eko Supriyanto dan lima penari membongkar irama dan bentuk tarian perang Cakalele dan Soya-soya yang biasanya digerakkan oleh laki-laki. Eko merekonstruksi lagi batas antara hierarki dalam budaya dan kesenjangan peran laki-laki dan perempuan. Tarian 'Balabala' berdasarkan sembilan aliran filosofi pencak silat dan peran perempuan di Indonesia.

Usai Salihara International Performing-arts Festival (SIPFest) 2016, pentas yang tampil pertama kalinya itu kini sedang menjalani tur keliling dunia. Di bulan Januari dan Maret, tarian 'Cry Jailolo' dan 'Balabala' ditampilkan di ajang Sydney Festival dan di Melbourne. Di bulan Juni sampai Juli, juga akan dipentaskan di Jepang serta Taiwan.

"Di bulan Februari dan Mei, pentas 'Balabala' akan berlangsung di Jepang, Belgia, Jerman, dan Belanda," lanjut pria yang akrab disapa Eko Pece. Intip beritanya di sini!

Pembukaan Festival Teater Jakarta 2016 'TTT: To the Tit'

Foto: Tia Agnes/ detikHOT
Festival Teater Jakarta (FTJ) resmi dibuka dengan pertunjukan lintas seniman yang berjudul "To The Tit". Banyak adegan 'noise' dan tak beraturan yang sengaja dihadirkan dalam pertunjukan yang berjudul 'To The Tit'. Tak adanya batas antara panggung dengan penonton pun menjadi nilai plus dalam pementasan yang berlangsung pada Senin (21/11) lalu.

Sutradara Yustiansyah Lesmana menjelaskan, pentas yang ditampilkan merupakan hasil kolaborasi dengan seniman lintas disiplin lainnya. Yakni, Taufiq Darwis dan Ensamble Tikoro, keduanya asal Bandung serta karya seni instalasi baru berbentuk paus raksasa berjudul 'The Leviathan' garapan Jonas Sestakresna asal Denpasar.

Pembukaan Printemps Francais 2016 'L'Oiseau' atau 'Sang Burung'

Foto: Tia Agnes
Pertunjukan L'Oiseau atau 'Sang Burung' sukses diselenggarakan di depan pelataran Plaza Senayan Jakarta. Aksi seniman dua negara, Prancis dan Indonesia memukau para pengunjung mall saat pembukaan gelaran Printemps Francais 2016 di akhir April lalu.

'Sang Burung' mengisahkan tentang bagaimana manusia membaca dunia, tentang dialog antar manusia, kebebasan berpendapat atau berekspresi yang disimbolkan dengan protes. Serta di bagian terakhir, pertunjukan yang dibawakan oleh Les Remouleurs itu menceritakan tentang imajinasi tanpa batas. Sebelum dipentaskan di Jakarta, pertunjukan 'Sang Burung' berlangsung di depan Jogja National Museum (JNM) Yogyakarta pada 28 April lalu.

Dalam proyek kolaborasi 'Sang Burung', Les RΓ©mouleurs yang beranggotakan Gallia Vallet, Olivier Vallet dan Anne Bitran berkolaborasi dengan seniman Indonesia yaitu Bob dari komunitas Marjinal Kolektif (Jakarta), Heri Dono, Rangga Jadoel dan Sugeng Utomo (Yogyakarta), Gepeng Dewantoro dan Wayang Motekar (Bandung). Elemen Prancis hadir lewat sketsa dari seniman Gallia Vallet dan Martina Menconi. Mereka akan memproyeksikan ke wayang layang The Bird melalui overhead projector.

Pentas Teater 'Bunga Penutup Abad'

Foto: Rengga Sancaya
Di Surabaya pada zaman Kolonial Belanda, hiduplah Minke (Reza Rahadian) dan Nyai Ontosoroh (Happy Salma) yang sedang gundah akan nasib Annelies (Chelsea Islan) yang dikirim ke Belanda atas perintah pengadilan Hindia Belanda. Nyai Ontosoroh yang tak lain adalah ibu kandung dari Annelies, seorang gadis Indo hasil perkawinan perempuan pribumi dan pria Eropa, mengutus seorang pegawainya untuk menemani kemanapun putrinya pergi.

Begitulah garis besar drama teatrikal yang diberi judul 'Bunga Penutup Abad' pada 25-27 Agustus 2016. Bunga Penutup Abad adalah sebuah karya klasik Indonesia yang dikemas secara enerjik sekaligus menyentuh para penontonnya. Pentas teater ini pun menjadi 10 highlight pilihan detikHOT.

Teater Populer 'Suara-Suara Mati'

Foto: Tia Agnes/ detikHOT
Di penghujung 2016, Teater Populer mementaskan lakon berjudul 'Suara-Suara Mati'. Sepenggal cerita dari lakon 'Suara-Suara Mati' itu disadur dari cerita 'Dode Klanken' karya Manuel Van Loggem ini. Disutradarai Slamet Rahardjo, aktor kawakan itu juga hadir sebagai pemain di atas panggung teater.

Suara-Suara Mati' menampilkan tragedi suami-istri yang terperangkap oleh rasa curiga yang terbentuk dari rasa cemburu yang mengkristal. Serta melahirkan khayalan liar tentang kematian. Setiap rumah, melahirkan gema suara yang menakutkan bahkan mampu membunuh kepercayaan diri. Tampil selama 90 menit lamanya, Teater Populer menunjukkan keeksisannya di ranah seni pertunjukan.

The National Ballet of China 'Raise the Red Latern'

Foto: Rengga Sancaya
The National Ballet of China kembali lagi ke Indonesia untuk mementaskan karya fenomenal berjudul 'Raise the Red Latern'. Kisah yang diambil dari buku cerita 'Wives and Concubines' karangan Su Tong ini disadur dari film yang berjudul sama, dan disutradarai oleh Zhang Yimou.

Kisah pasangan muda dan istri kedua di tahun 1920-an itu memang sudah lama berlalu tapi alur ceritanya seakan mengingatkan lagi kejayaan hiburan Tanah Tiongkok di masa lampau. Kesenian dan musik tradisional Tiongkok ditampilkan di atas panggung dengan meriah. Artistik panggung, koreografi tari, kostum, hingga akting yang ditampilkan para pemain penuh totalitas dan tak ada kekurangan sedikit pun selama dua jam lamanya hingga menjadi highlight pilihan detikHOT.

Halaman 2 dari 11
(tia/tia)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads