Mulai dari pementasan Teater Koma sebagai agenda tahunan sampai pertunjukan balet Tiongkok yang memukau penonton dan tampil sempurna tanpa kesalahan satu pun.
Berikut 10 seni pertunjukan yang mencuri perhatian tahun ini versi pilihan detikHOT:
Teater Koma 'Opera Kecoa'
|
Foto: Rengga Sancaya
|
"Wartawan sempat masuk, akhirnya pada masuk yang lain. Ada 30 orang buat manggung di empat kota di Jepang, tapi nggak diizinkan juga," kata Ratna saat ditemui di Sanggar Teater Koma.
'Opera Kecoa' pertama kali dipentaskan Teater Koma pada 1985, 31 tahun lalu di Graha Bhakti Budaya. Pada tahun 1990, lakon ini dilarang pentas di Gedung Kesenian Jakarta dan tidak diberi ijin pentas keliling ke Jepang. Kemudian di tahun 1992, dipentaskan dengan judul "Cockroach Opera" oleh Belvoir Theatre di Sydney, Australia. Akhirnya, lakon ini dipentaskan lagi di Gedung Kesenian Jakarta tahun 2003, 13 tahun setelah pelarangannya. Berita selengkapnya di sini.
Hiroshi Koike Bridge Project 'Mahabharata 3: Perang Kurusetra'
|
Foto: Hiroshi Koike Bridge Project
|
Dibagi dalam lima bagian, sutradara Hiroshi Koike membaginya dalam dua bagian (pertama dan akhir), hingga pada akhirnya disajikan secara utuh. Awalnya pentas 'Mahabharata Part 1' diproduksi di Kamboja bersama seniman-seniman dari empat negara. Pentasnya berlangsung di Phnom Penh dan Hanoi. Setahun berikutnya, bagian kedua dipentaskan di India. Baru di tahun 2015, 'Mahabharata Part 2.5: B-War' diproduksi di Jepang, kali ini melibatkan seniman dari sejumlah negara di Asia, dan berlangsung di Chulalongkorn University Thailand, Shanghai, Manila, dan Tokyo.
Teater Garasi 'Yang Fana adalah Waktu, Kita Abadi'
|
Foto: Tia Agnes
|
Menceritakan tentang mantan buruh migran Rosnah yang ingin menjadi artis agar bisa bertahan di Jakarta. Momen dramatiknya ditemui Rosnah saat perayaan Hari Raya Idul Fitri di kampungnya. Seluruh peristiwa buruk menyelinap ke dalam potret keluarga.
Sardono W Kusumo 'Black Sun'
|
Foto: Grandyos Zafna
|
Di ajang bergengsi tingkat internasional tersebut, Sardono menampilkan retrospektif yang terdiri dari tiga pementasan karya. Yakni, persoalan sinema yang dirangkum dalam 'Expended Cinema' pada 13-28 Agustus di Malay Heritage Centre Singapore. Kemudian, Sardono akan live solo painting di lokasi yang sama selama dua hari, dari 20-21 Agustus. Ketiga adalah pertunjukan tari berjudul 'Black Sun' yang berkolaborasi dengan penari-penari Papua pada 26-27 Agustus di 13 TheatreWorks Singapore.
Eko Supriyanto 'Balabala'
|
Foto: Tia Agnes/ detikHOT
|
Usai Salihara International Performing-arts Festival (SIPFest) 2016, pentas yang tampil pertama kalinya itu kini sedang menjalani tur keliling dunia. Di bulan Januari dan Maret, tarian 'Cry Jailolo' dan 'Balabala' ditampilkan di ajang Sydney Festival dan di Melbourne. Di bulan Juni sampai Juli, juga akan dipentaskan di Jepang serta Taiwan.
"Di bulan Februari dan Mei, pentas 'Balabala' akan berlangsung di Jepang, Belgia, Jerman, dan Belanda," lanjut pria yang akrab disapa Eko Pece. Intip beritanya di sini!
Pembukaan Festival Teater Jakarta 2016 'TTT: To the Tit'
|
Foto: Tia Agnes/ detikHOT
|
Sutradara Yustiansyah Lesmana menjelaskan, pentas yang ditampilkan merupakan hasil kolaborasi dengan seniman lintas disiplin lainnya. Yakni, Taufiq Darwis dan Ensamble Tikoro, keduanya asal Bandung serta karya seni instalasi baru berbentuk paus raksasa berjudul 'The Leviathan' garapan Jonas Sestakresna asal Denpasar.
Pembukaan Printemps Francais 2016 'L'Oiseau' atau 'Sang Burung'
|
Foto: Tia Agnes
|
'Sang Burung' mengisahkan tentang bagaimana manusia membaca dunia, tentang dialog antar manusia, kebebasan berpendapat atau berekspresi yang disimbolkan dengan protes. Serta di bagian terakhir, pertunjukan yang dibawakan oleh Les Remouleurs itu menceritakan tentang imajinasi tanpa batas. Sebelum dipentaskan di Jakarta, pertunjukan 'Sang Burung' berlangsung di depan Jogja National Museum (JNM) Yogyakarta pada 28 April lalu.
Dalam proyek kolaborasi 'Sang Burung', Les RΓ©mouleurs yang beranggotakan Gallia Vallet, Olivier Vallet dan Anne Bitran berkolaborasi dengan seniman Indonesia yaitu Bob dari komunitas Marjinal Kolektif (Jakarta), Heri Dono, Rangga Jadoel dan Sugeng Utomo (Yogyakarta), Gepeng Dewantoro dan Wayang Motekar (Bandung). Elemen Prancis hadir lewat sketsa dari seniman Gallia Vallet dan Martina Menconi. Mereka akan memproyeksikan ke wayang layang The Bird melalui overhead projector.
Pentas Teater 'Bunga Penutup Abad'
|
Foto: Rengga Sancaya
|
Begitulah garis besar drama teatrikal yang diberi judul 'Bunga Penutup Abad' pada 25-27 Agustus 2016. Bunga Penutup Abad adalah sebuah karya klasik Indonesia yang dikemas secara enerjik sekaligus menyentuh para penontonnya. Pentas teater ini pun menjadi 10 highlight pilihan detikHOT.
Teater Populer 'Suara-Suara Mati'
|
Foto: Tia Agnes/ detikHOT
|
Suara-Suara Mati' menampilkan tragedi suami-istri yang terperangkap oleh rasa curiga yang terbentuk dari rasa cemburu yang mengkristal. Serta melahirkan khayalan liar tentang kematian. Setiap rumah, melahirkan gema suara yang menakutkan bahkan mampu membunuh kepercayaan diri. Tampil selama 90 menit lamanya, Teater Populer menunjukkan keeksisannya di ranah seni pertunjukan.
The National Ballet of China 'Raise the Red Latern'
|
Foto: Rengga Sancaya
|
Kisah pasangan muda dan istri kedua di tahun 1920-an itu memang sudah lama berlalu tapi alur ceritanya seakan mengingatkan lagi kejayaan hiburan Tanah Tiongkok di masa lampau. Kesenian dan musik tradisional Tiongkok ditampilkan di atas panggung dengan meriah. Artistik panggung, koreografi tari, kostum, hingga akting yang ditampilkan para pemain penuh totalitas dan tak ada kekurangan sedikit pun selama dua jam lamanya hingga menjadi highlight pilihan detikHOT.
Halaman 2 dari 11











































