Kompetisi seni yang kedua kalinya berlangsung itu mengusung tema persoalan 'Lingkungan Hidup'. Para seniman yang mengirimkan karyanya terlebih dahulu mengirimkan proposal karya tentang lingkungan hidup dan medium karyanya adalah 'trimatra'.
Direktur Program Komunitas Salihara, Nirwan Dewanto, mengatakan seni rupa trimatra adalah seni patung yang diperluas. Karena perluasan tersebut, jejak seni patung hampir tidak dapat dikenali lagi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia kembali menjelaskan bahwa karya seni trimatra bukanlah desain, kriya, atau bentuk tiga dimensi lain yang memiliki fungsi. Namun, trimatra menggarisbawahi watak seni, khususnya seni patung.
Di pameran Kompetisi Karya Trimatra, karya-karya dari seniman muda membuktikan bakat-bakat baru yang patut diapresiasi. "Yang paling penting dari adanya program ini adalah residensi kepada pemenang utama. Kami sedang berusaha lebih dari itu, sampai sekarang kami sedang memikirkan beberapa tempat yang berpotensi dan usaha kami akan berbuah dalam waktu dekat," papar Nirwan.
Pameran Karya Trimatra 2016 masih bisa disaksikan hingga 24 Desember mendatang.
(tia/mmu)











































