Cerita Ratna dan Nano Riantiarno Soal Pelarangan Lakon 'Opera Kecoa'

Cerita Ratna dan Nano Riantiarno Soal Pelarangan Lakon 'Opera Kecoa'

Nicky Adisha - detikHot
Jumat, 04 Nov 2016 10:00 WIB
Cerita Ratna dan Nano Riantiarno Soal Pelarangan Lakon Opera Kecoa
Foto: Image Dynamics/ Bakti Budaya Djarum Foundation
Jakarta - Di penghujung 2016, Teater Koma kembali mementaskan produksi ke-146 yang berjudul 'Opera Kecoa'. Pendiri Teater Koma, Nano Riantiarno dan Ratna menceritakan tentang pelarangan lakon 'Opera Kecoa' yang pernah dialami mereka.

Misalnya ketika pentas di tahun 1990-an setelah tiga bulan latihan, Teater Koma pun dilarang manggung dan sampai ditutup pagarnya. "Wartawan sempat masuk, akhirnya pada masuk yang lain. Ada 30 orang buat manggung di empat kota di Jepang, tapi nggak diizinkan juga," kata Ratna saat ditemui di Sanggar Teater Koma, Kamis (3/11/2016).

Di tahun 2003 ketika akan mementaskan 'Opera Kecoa' di Bandung, Jawa Barat, Ratna juga menceritakan grupnya pernah menerima ancaman bom.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Di Bandung sempat diancam ada bom, aparat keamanan menyisir, untung nggak ada apa-apa," lanjut dia.

'Opera Kecoa' pertama kali dipentaskan Teater Koma pada 1985, 31 tahun lalu di Graha Bhakti Budaya. Pada tahun 1990, lakon ini dilarang pentas di Gedung Kesenian Jakarta dan tidak diberi ijin pentas keliling ke Jepang. Kemudian di tahun 1992, dipentaskan dengan judul "Cockroach Opera" oleh Belvoir Theatre di Sydney, Australia. Akhirnya, lakon ini dipentaskan lagi di Gedung Kesenian Jakarta tahun 2003, 13 tahun setelah pelarangannya.

Cerita Ratna dan Nano Riantiarno Soal Pelarangan Lakon 'Opera Kecoa'Foto: Image Dynamics/ Bakti Budaya Djarum Foundation


Kini, di tahun 2016, Teater Koma memanggungkan lagi lakon ini di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, tempat pertama kali dipentaskan. Pertunjukannya mengisahkan tentang orang-orang kecil yang menghadapi kenyataan keras. Perjuangan seorang bandit kelas teri, Roima, yang sedang berada di persimpangan jalan. Dia tertarik pada Tuminah, seorang Pekerja Seks Komersial, meski sudah punya pacar, Julini si waria.

Ketiga orang dan karakter-karakter lainnya melakoni perjuangan hidup yang hanya punya dua risiko; jadi ada atau tersingkir. Nasib jarang memihak mereka. Tempat-tempat seperti gorong-gorong, kolong jembatan, kawasan kumuh yang jorok, gelap, dan berbau busuk seakan sudah digariskan mereka.

"Setelah 31 tahun sejak pentas pertama kali, lakon ini masih bisa menjadi potret keadaan masa kini. Semoga penonton dapat mengambil pesan moral yang berusaha ami sampaikan dalam lakon ini," tutur penulis naskah dan sutradara Teater Koma, Nano Riantiarno.

Cerita Ratna dan Nano Riantiarno Soal Pelarangan Lakon 'Opera Kecoa'Foto: imagedynamics


Lakon ini pun masih relevan dipentaskan sampai sekarang. "Kita tidak tahu siapa musuh kita lagi. Sekarang jauh lebih nggak kebaca," tambahnya.

"Kesenian kita tetap dapat dilakukan dengan baik kalau kita lihat apa yang dilakukan di sini tidak seperti yang dilakukan di luar. Semoga polisi dan tentara dapat menjaga kita agar tetap berkarya," tandas Nano.

Pentas yang dibagi dua sesi yakni 2 jam 10 menit dan terakhir 45 menit itu akan berlangsung mulai 10 hingga 20 November mendatang di Graha Bakti Budaya, TIM. Tiketnya dibanderol seharga Rp 100 ribu - 400 ribu.

(tia/dal)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads