detikHot

art

Fitri Setyaningsih dan Kenangan Masa Kecil Akan 'Mega Mendung'

Senin, 24 Okt 2016 13:50 WIB Tia Agnes - detikHot
Foto: Tia Agnes Astuti/detikHOT Foto: Tia Agnes Astuti/detikHOT
Jakarta - Alkisah ketika masih kecil, Fitri Setyaningsih berjumpa dengan seorang perempuan tua. Perempuan berambut putih dan mengenakan kebaya berkain jarit menceritakan kisah tentang 'mega mendung'. 'Mega' yang berarti awan-awan akan membawa Fitri terbang ke langit.

Di ruang teater Komunitas Salihara, delapan penari berpakaian serba putih berdiri di atas wajan kecil dan melingkar di dalam kungkungan besi. Sesaat mereka terdiam, lalu kepalanya bergerak, dan tampak bergumam tak beraturan. Tak berapa lama kemudian, mereka berusaha berjalan, tergopoh-gopoh menuju ujung rumah besi. Menarik tali dan masih berdiri di atas wajan.

Gerakan delapan penari berubah. Ada yang kedinginan dan tampak ketakutan, kawan yang lain berusaha menenangkan. Di tengah keterpurukan, para penari membawa harapan dengan simbol kemakmuran, beras merah-putih.

Fitri Setyaningsih dan Kenangan Masa Kecil Akan 'Mega Mendung'Foto: Tia Agnes Astuti/detikHOT

Selama hampir 60 menit lamanya, pertunjukan 'Mega Mendung' karya koreografer Fitri Setyaningsih dipentaskan dalam rangka Salihara International Performing-arts (SIPFest) Festival 2016. Karya Fitri menjadi salah satu pertunjukan yang digelar tahun ini.

Fitri menceritakan kisah tentang 'mega mendung', mulai menganggunya sejak 2014 lalu. "Saya pertama kenal motifnya dari lukisan wayang beber di tahun '98 tapi sejak 2014, motifnya muncul lagi. Saya melakukan riset ke Cirebon, Lasem, bahkan ke Banyuwangi," ujarnya usai pementasan, akhir pekan lalu.

Koreografer yang selalu menggunakan hal remeh temeh dan berasal dari keseharian masyarakat itu membangun beragam cerita kepada para penarinya. Gangguan-gangguan visual itu tak hanya peristiwa gerak, lanjut Fitri, tapi juga sebagai poros bekerja di tubuh.

Fitri Setyaningsih dan Kenangan Masa Kecil Akan 'Mega Mendung'Foto: Tia Agnes Astuti/detikHOT

Fitri yang lahir di Surakarta, 26 Agustus 1978 ini juga menggunakan simbol air, tanah, beras, besi, jembatan, sebagai penciptaan bermakna di karyanya. "Ada juga mainan kayu kuda yang ditaruh di atas panggung, itu menyimbolkan kenangan masa kecil saya," ujar Fitri.

Karya-karya Fitri sebelum 'Mega Mendung' di antaranya adalah 'Suara yang Berjalan' (2013), 'Seperti Karet' (2013), 'Manusia Pemakan Daging' berkolaborasi dengan Suprapto Suryodarmo (2013), 'Circular Ruin' berkolaborasi bersama Raka Maitra & Zai Kuning (2012), dan lain-lain. Atas karya-karyanya, Fitri menerima Empowering Women Artist Commission dari Yayasan Kelola.
(tia/dal)

Photo Gallery
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikhot.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com