Mengenakan gaun selutut serba putih, balerina tampil ke atas panggung. Sipatmo yang hadir terinspirasi dari cokek dan orkes gambang kromong itu merupakan perpaduan dari pribumi dan non-pribumi. Alunan musik 'Jali-Jali' mengawali pertunjukan 'We Dance'.
'We Dance' yang berarti 'Kami Menari' menyimbolkan para penari yang gemar menari dan hidup untuk menari. "Endingnya adalah alunan Surilang yang menggema ke penjuru sudut Gedung Kesenian Jakarta," ujar artistic director Claresta Alim di GKJ, akhir pekan lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
![]() |
Usai 'Sipatmo', delapan penari mengenakan gaun warna warni dengan wajah ditutupi jaring muncul dengan energik. Masih menggunakan teknik balet klasik, tarian berjudul 'Psycolor', memadukan antara tari modern, hip hop, dan gerak kontemporer.
Para penari menarikannya dengan luwes dan leluasa. Meski berbeda-beda, tarian ini menyimbolkan arti satu sama lain menuju keharmonisan. "Masih ada dua tarian di We Dance yang memeriahkan pembukaan Indonesia Dance Company (IDCO)," kata Claresta.
Yakni, 'Burn in Passion' dan 'Festivo'. "Festivo adalah karya tari dengan gaya modern dan kontemporer yang membawakan kemeriahan saat festival musim panas di Jepang," tutupnya.
Pendirian IDCO sebagai kelanjutan langkah dari Marlupi Sijangga dalam pengembangan dunia tari Indonesia. Sebagai sebuah institusi, Fifi Sijangga menjadi executive director IDCO. Selain Claresta, perusahaan seni tari ini dibantu oleh Rita Rettasari sebagai Technical Director, Yuniki Salim sebagai Creative Director, Leonny Ariesa sebagai Managing Director, dan Jonatha Pranadjaja sebagai Ballet Mistress.
(tia/mmu)











































