Ke-14 penampil berasal dari Indonesia, Jerman, Norwegia, Kanada, Austria, Inggris, Amerika Serikat, Australia, Jepang, dan Malaysia. Sebagian karya sebagai world premiere dan Asia premiers. Misalnya, Benoit Lachambre & MontrΓ©al Danse (Kanada), She She Pop (Jerman), Lukas Ligeti & Hypercolor (Austria dan AS), The Human Zoo Theatre Company (Inggris) dan Chong Kee Yong (Malaysia).
Tak hanya pertunjukan tari, musik, dan teater, tapi Komunitas Salihara juga menggelar sejumlah lokakarya sebagai bentuk interaksi antara penampil dan pemirsa. Direktur program Komunitas Salihara, Nirwan Dewanto, mengatakan mulai tahun ini Festival Salihara berganti nama baru.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
![]() |
"Nama festival biennale seni pertunjukan kami ubah menjadi 'SIPFest' dengan harapan agar menjadi inspirasi baru bagi dunia seni pertunjukan," kata Nirwan saat jumpa pers di Komunitas Salihara, kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Sabtu (24/9/2016).
SIPFest 2016 akan diwarnai khas oleh sejumlah gelaran musik perkusi dari Total Perkusi, Al.Suwardi, Iwan Gunawan, dan Kyai Fatahillah yang menyajikan pentas tak biasa dari ketukan, bunyi, dan instrumen. Lewat 'The Girl who Fell in Love with the Moon', kelompok The Human Zoo Theatre Company asal Inggris juga akan memadukan unsur cerita, tari, musik, dan puisi ke dalam imajinasi visual.
Selain itu, ada kelompok tari Ingun Bjornsgaard Prosjekt asal Norwegia akan mempersembahkan, karya dengan para penari sebagai bahan bangunan di sebuah rumah yang belum selesai. Arica Theatre Company dari Jepang, menampilkan pentas nirkata yang berkisah tentang makna pencarian hidup oleh dua manusia dalam lakon berjudul 'Butterfly Dream', dan penari mancanegara lainnya.
Dari dalam negeri, ada tiga penampil yang tak kalah menarik. Mereka adalah, koreografer muda asal Indonesia Fitri Setyaningsih yang menghadirkan 'Mega Mendung' sebagai kenangan masa kecil akan mega (awan) yang dipercaya membawanya dari langit. Kalanari Theatre Movement, yang pernah tampil di Helateater 2015 datang lagi ke Salihara. Lewat pertunjukan berjudul 'Yo-he-ho's Site', Kalanari tampil dengan konsep teater site-spesific.
Di akhir festival, koreografer Eko Supriyanto menampilkan pentas perdana-dunia berjudul 'Balabala'. Eko adalah, koreografer Indonesia yang mendapatkan pengakuan internasional dan pernah menari di pentas 'Drowned World Tour Madonna' (2001), serta konsultan pada musikal 'The Lion King' karya Julie Taymor (2000).
"Dengan bergantinya nama, kami juga ingin merangsang produksi-produksi baru agar disebar ke luar negeri dan mendunia," tutup Nirwan.
SIPFest 2016 terselenggara berkat dukungan Goethe-Institut, Japan Foundation-Asia Center, Kedutaan Besar Amerika Serikat, Kedutaan Besar Austria, dan Kedutaan Besar Denmark.
(tia/wes)












































