Hal tersebut yang dilakukan oleh seorang pelukis perempuan asal Gaza, Fatima al-Ghoul, 36 tahun. Dia menciptakan serangkaian lukisan yang menakjubkan dari situs sejarah penting di Yerusalem dan wilayah Palestina lainnya.
Menurutnya, henna telah menjadi bagian dari budaya Timur Tengah. "Saya memilih sudut kota yang menarik dari Palestina dengan henna, karena warna henna adalah warna yang sangat mirip dengan lumpur. Saya secara khusus menggambar kota Palestina dan kamp-kamp pengungsi karena bekerja pada sebuah proyek tentang Palestina," katanya, dilansir dari Reuters, Jumat (23/9/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di bawah proyek ini, al-Ghoul bekerja sama dengan Suheil Atta-Allah yang memasarkan lukisannya dengan harga $ 500 atau Rp 6,4 juta sampai $ 2000 atau Rp 25,9 juta.
Al-Ghoul menganggap lokasi tempat tinggalnya di Gaza bukanlah sebuah hambatan untuk berprofesi sebagai seorang seniman. Termasuk minimnya kanvas, cat, maupun pemadaman listrik yang terjadi di kotanya.
"Pada awalnya kami menghadapi kesulitan untuk memilih kain dan henna. Kami mencapai hasil seperti ini setelah melewati beberapa upaya. Salah satu kesulitannya adalah kelelahan saat duduk dan melukis selama empat sampai lima jam per-hari. Saya juga kesulitan memperoleh henna yang tidak selalu tersedia di pasar," tuturnya.
Selain menjual lukisan ke pasaran, Fatima juga sedang menyiapkan sebuah pameran akbar di tahun 2020 mendatang. Rencananya, eksibisinya berjudul 'Earth and Henna' yang fokus terhadap nasib Palestina dan perjuangan para pengungsi.
(tia/mmu)











































