Christo menjelaskan bahwa ia memulai proyek seni ketika mendiang istrinya Jeanne-Claude masih hidup. Awalnya, mereka didekati oleh seorang sejarawan seni Argentina untuk membangun sebuah jembatan terapung di kawasan Amerika Selatan.
"Kami juga berpikir hal yang sama dan merasa satu visi terhadap project jalan di atas air. Tapi di tahun 2009, istri saya sakit komplikasi yang dihasilkan dari aneurisma otak. Tapi, saya tetap ingin menjalankannya hingga menjadi kenyataan," katanya, dilansir dari Huffington Post, Kamis (23/6/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
![]() |
Selama bertahun-tahun, Christo dan Jeanne-Claude mengabadikan hidupnya untuk membuat karya seni instalasi tersebut. Sampai bisa diakses oleh publik bebas.
"Tujuan utamanya adalah untuk memikat penonton," tambah Christo.
Meski sudah direncanakan sejak 2014 lalu, Christo hanya menyelesaikan proyek ini selama 22 bulan. Dia memulai pada musim panas pada 2014 dan Danau Iseo Italia dipilihnya karena kawasan yang paling pas dan perizinan dari pemerintah setempat gampang didapatkannya.
Hanya selama dua minggu saja, danau akan bisa dilintasi oleh manusia sepanjang 1,8 mil dan berukuran 53 kaki. Jembatan terapung tersebut dibuat tahan air dan tahan noda, berwarna berkilauan, dan tertutup 100.000 meter persegi kain dahlia berwarna. Jembatannya akan membentang dari daratan Italia menuju dua pulau kecil, Monte Isola dan San Paolo. Harga karyanya mencapai sekitar Rp 224 miliar.
Kepada New York Times, Christo mengatakan karyanya akan berubah sepanjang waktu, tergantung cuaca. Seperti suasana hati, pekerjaan mencerminkan lingkungan dan suasana hangat yang diidam-idamkan Christo selama ini. Dengan begitu, Christo membuktikkan bahwa sihir benar terjadi.
"Apa yang kita bayangkan di awal bisa menjadi kenyataan. Dan itu seperti sihir," pungkasnya.
(tia/tia)












































