"Saya melukis Risma dan Ahok bukanlah untuk merayakan politik praktis," katanya dalam keterangan, Kamis (2/6/2016).
RB Ali mampu mewujudkan respons kebudayaan atas berbagai gejala perubahan di dalam masyarakat yang tersimpul pada kiprah para pemimpin wilayah ini. Keduanya membawa perubahan yang cukup besar dan mendasar, selain perubahan fisik juga perbaikan yang tidak kasat mata berupa lebih bagusnya pelayanan atas kebutuhan warga masyarakat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ini, lanjut dia, merupakan saat yang tepat untuk menampilkan karya-karya potret politik ke hadapan masyarakat. Dia percaya akan adanya semacam pola waktu atau siklus "muncul-tenar-redup" yang menimpa semua orang. Karena itu di samping soal "seni", Ali juga merasakan kebutuhan untuk merekam dan mencatat gejala sosial budaya yang menarik.
Selain itu, RB Ali juga menyuguhkan lima tokoh lain yang pastinya menyita perhatian masyarakat. Empat di antaranya adalah tokoh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yaitu Abraham Samad, Bamban Widjajanto, Antasari Azhar, dan Novel Baswedan. Satu tokoh lagi yakni Munir, tokoh pejuang HAM yang tewas diracun dalam perjalanan udara ke negeri Belanda, tempat ia melanjutkan pendidikannya.
Lewat 'Tembang Sunyi', RB Ali menghadirkan ketujuh tokoh yang kanvasnya mencatat berbagai peristiwa penting di Indonesia sekaligus seni rupa kontemporer. Malam pembukaannya dibuka pada 3 Juni pukul 19.00 WIB di Gedung B, Galeri Nasional Indonesia, Jakarta Pusat.
(tia/ron)











































