'Jagongan Wagen' Edisi Maret: Panggung yang Menghipnotis di 'NOnaDa'

'Jagongan Wagen' Edisi Maret: Panggung yang Menghipnotis di 'NOnaDa'

Tia Agnes - detikHot
Senin, 28 Mar 2016 16:46 WIB
Jagongan Wagen Edisi Maret: Panggung yang Menghipnotis di NOnaDa
Foto: Tia Agnes
Yogyakarta - Puluhan kursi kelas disusun berjejer rapi seperti membentuk setengah lingkaran. Warna merah-hitam tampak menyala di kejauhan. Sebaris kursi dihadapkan ke penonton yang sudah berkumpul sejak sore hari pada pekan lalu.

Seorang pria yang mengenakan kaos oblong putih sibuk merapikannya. Satu per satu kursi diangkatnya. Disusunnya ke atas puluhan kursi yang berbentuk setengah lingkaran tadi. Ia menghela napas dan kembali duduk terdiam.

Bahasa Sansekerta yang melantun bak nyanyian diucapkan perempuan yang mengenakan kain panjang berwarna kuning. Ia duduk di atas kursi di sisi kiri panggung. "Adanu ahengkara aksama aksa tri amara gendewa.. Adanu ahengkara aksama aksa tri amara gendewa...," ujar Marta Karisma Lelina berulang kali.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Perempuan itu kembali terdiam. Mendesah dan suaranya terengah-engah. "Adanu ahengkara aksama aksa tri amara gendewa," ucapnya lagi lebih emosional.

Simak: ARCOLABS Tampilkan 11 Seniman Muda Lewat Pameran 'Spektrum'

Seorang pria bernama Thoriq Dwi Prayitno yang berpakaian serba hitam muncul dengan membawa alat musik tiup. Ketiganya berkolaborasi, antara seni rupa dan musik dalam pementasan yang diberi judul 'NOnaDa'. Pentas yang bernama 'Jagongan Wagen' digelar setiap bulannya di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja (PSBK), Desa Kembaran Rt.04-05, Tamantirto, Kasihan, Bantul, Yogyakarta.

'NOnaDA' adalah sebuah getaran yang merambat di alam semesta. Getarannya merasuk pada jiwa-jiwa pencari yang berkelana dalam harmoni dan distorsi Getaran ini haus dan lapar, memasuki seluruh petualangan. Di sana, ia belajar berbicara, merangkak, berjalan, berpikir, bekerja, dan belajar tentang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan. 'NOnaDA' juga menghadirkan kekuatan visual dan bunyi yang hadir daam pertemuan dan perjalanan.

Di awal pertunjukan, kesan absurd dan sunyi sangat kental terasa. Ketiga pemain berakting tanpa dialog, hanya mengucapkan kalimat bahasa Sansekerta berulang-ulang. Tapi kesan emosional ketiganya terjalin dengan penuh penghayatan. Jika 'Jagongan Wagen Goes to Jakarta' di Galeri Indonesia Kaya (GIK) Jakarta penuh dengan aksi kocak, humor, sekaligus menyentuh, pementasan kali ini terbilang unik.

Tanpa embel-embel dialog sebuah pertunjukan pun ketiganya mampu mengajak para penonton untuk ikut bernyanyi dan berdialog dalam bahasa Sansekerta. Lantunan 'Adanu ahengkara aksama aksa tri amara gendewa' pun berhasil dinyanyikan penonton dengan antusias, disertai tepukan tangan yang meriah. Panggung yang menghipnotis selama satu jam dan artistik panggung sederhana cukup menjelaskan apa itu pertunjukan Jagongan Wagen 'NOnaDA' kali ini.

Ke depannya, ke-8 seniman muda Tanah Air yang berhasil lolos seleksi tim kurasi PSBK akan 'mondok' selama 10 bulan di padepokan. Di akhir kurikulum, 'Jagongan Wagen' kembali unjuk gigi di Galeri Indonesia Kaya (GIK), Jakarta Pusat.


(tia/tia)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads