Tiga Seniman Tampilkan Sisi Lain Pulau Dewata di Napoli

ADVERTISEMENT

Tiga Seniman Tampilkan Sisi Lain Pulau Dewata di Napoli

Tia Agnes - detikHot
Selasa, 09 Feb 2016 13:01 WIB
Foto: Made Bayak/Il Ramo d'oro
Jakarta - Pulau Dewata dikenal sebagai surganya dunia dan digandrungi wisatawan mancanegara. Keindahan Bali tak terkira nilainya. Di balik itu semua, tiga seniman mengungkapkan sisi lain keindahan Bali lewat isu tradisi, lingkungan, dan sosial.

Dibuka Sabtu (6/2) lalu, dua seniman asal Bali Made Bayak dan Gede Suanda, serta Setyo Mardiyantoro yang kini berdomisili di Napoli memajang karyanya di Italia. Salah satu seniman mengatakan pameran tersebut merupakan undangan dari Pusat Kebudayaan Il Ramo d'oro di Napoli dengan kurator Naima Morelli.

Bayak mengatakan temanya kali ini tentang Indonesia Aktual. "Saya menampilkan seri plasticology sesuai yang mereka minta dan tema ini dianggap sangat menarik bagi mereka," katanya kepada detikHOT, Selasa (9/2/2016).

Baca Juga: Puluhan Seniman Visual 'Me-REKLAMe-KAN PELeM' di APA Artspace

Saat malam pembukaan pameran berlangsung, kata pria yang lahir di Tampaksiring Gianyar, banyak pertanyaan yang muncul dari para pengunjung. "Ternyata di Napoli sendiri ada masalah serius dengan penanggulan sampah," pungkasnya.

Isu sampah yang merupakan persoalan global masyarakat dunia selama ini menjadi masalah yang serius. Gagasan 'plasticology' muncul dari pulau kecil di Indonesia.

"Yang mereka pertanyakan bukan soal karya seninya saja tapi bagaimana plasticology bisa memberi edukasi kepada masyarakat," ujar Bayak.



Dikutip dari situsnya, kurator Naima Morelli menampilkan sisi lain dari Bali yang tidak didapatkan dari brosur pariwisata. "Kita tahu Bali adalah destinasi wisata bagi pengantin baru tapi mungkin kita tidak menyadari polusi menjadi isu penting di pulau."

Sama seperti Gede Suanda yang mengkombinasikan antara pekerjaan seninya dengan aktivitas lingkungan. "Dia prihatin dengan sawah-sawah yang dibeli oleh swasta untuk membangun vilanya. Vila tidak hanya mengubah lanskap tapi juga merusak kehidupan seluruh keluarga," ungkapnya.

Dalam lukisannya, Gede menyimbolkan pekerja sawah seperti seekor katak. Amfibi tengah beristirahat tenang dalam menghadapi persoalan globalisisasi. Instalasinya yang berbunyi 'NOT FOR SALE' juga dibangun di atas tongkat bambu yang merupakan sebuah peringatan.

Masih dalam tema yang sama, Il Ramo d'oro juga menampilkan seniman Setyo Mardiyantoro yang berdomisili di Napoli. Karyanya selalu memainkan motif dekorasi yang terinspirasi dari batik tradisional, dan persoalan sosial. Lukisan nostalgianya seakan membangkitkan makna surga yang hilang.


(tia/tia)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT