Dia memfokuskan perhatiannya pada persoalan sehari-hari dan bersikap kritis terhadap segala permasalahan. Kali ini, di pamerannya yang akan berlangsung di Yogyakarta pada 15 Januari sampai 15 Februari akan memajang karya seni instalasi media campuran.
Di eksibisinya, dia memikirkan kembali hubungan antara karya seni, seniman, dan publik sebagai penonton. Baginya, ketiga hal tersebut memberikan arti dan nilai untuk karya seni. "Dalam proses berkarya, saya memikirkan produksi seni dan konsumsi seni itu sendiri," ucapnya, dalam keterangan kepada detikHOT, Kamis (14/1/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, lanjutnya, seniman biasanya lupa dengan persoalan apresiasi publik. "Tanpa galeri, tanpa pengunjung individu, karya seni tidak akan memberikan eksistensi yang sebenarnya," pungkasnya.
Instalasi interaktifnya melibatkan unsur cahaya, suara, lukisan, dan patung dengan cara menghidupkan kembali kehadiran mereka. Dia juga dikenal sebagai seniman yang berusaha untuk mengurangi batas antara penonton dan seniman.
Michal Mitro telah mengenyam pendidikan di berbagai bidang seni sejak 2010. Setelah lulus dari Universitas Masaryk, Republik Ceko pada 2012, dia melanjutkan studi seni patung dan seni suara di Universitas Tasmania, Australia. Kemudian, belajar seni Karawitan (musik tradisional Indonesia) di ISBI Bandung. Karya-karyanya telah dipamerkan di berbagai negara, terutama Australia, Indonesia, dan Republik Ceko. (tia/tia)











































