Mereka adalah Aye Ko (Myanmar), Lee Wen (Singapura), dan Nguyen Trinh Thi (Vietnam). Ketiga nama ini dinilai mengusung karya yang fokus dan konsisten untuk kebebasan berkesenian. Tiga calon tersebut dipilih oleh tim dewan juri yang dipimpin oleh Direktur Singapore's Centre for Contemporary Art (CCA) Dr.Ute Meta Bauer, Direktur Bangkok Art and Culture Centre (BACC) Luckana Kunavichayanont, dan kurator seni independen asal Indonesia, Enin Supriyanto.
Simak: 'Rentak Harmoni', Drama Musikal Alumni Pengajar Muda Indonesia
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mereka mengambil risiko untuk membicarakan tentang kebenaran. Saya bangga ikut andil dalam penghargaan tahun ini dan mengumumkan pemenangnya," ucapnya dalam keterangan pers kepada detikHOT, Jumat (8/1/2016).
Sepanjang dua dekade berkarier sebagai seniman, Aye Ko telah dikenal publik Myanmar dan menjadi seniman profesional yang diperhitungkan namanya. Karya-karyanya fokus pada persoalan politik dan lingkungan hidup.
Baca Juga: Pameran Tunggal Eko Nugroho Diperpanjang Hingga 21 Februari
Sedangkan Lee Wen asal Singapura selalu mengedepankan tema-tema sosial dan identitas bangsa. Dikenal sebagai seniman yang memiliki karya seri 'Yellow Man', dia salah satu pionir performance art di Singapura. Nominasi ketiga yang juga diunggulkan adalah adalah Nguyen Trinh Thi.
Karya seninya fokus pada persoalan masyarakat dan sejarah tentang negara asalnya, Vietnam. Film-nya mengangkat persoalan marginalisasi yang ada dalam sebuah kelompok di Vietnam.
Tahun lalu, penghargaan 'The Joseph Balestier for the Freedom of Art' diberikan kepada seniman kontemporer asal Indonesia, FX Harsono. FX terpilih dari 7 nominasi seniman yang diunggulkan di kawasan ASEAN. Upacara penganugerahan akan diserahkan oleh Duta Besar Amerika Serikat di Singapura Kirk Wagar dan Direktur Art Stage Singapura 2016, Lorenzo Rudolf pada 19 Januari 2016.
(tia/mmu)











































