Kisah hidup yang ditulisnya di lembaran buku bekas bermula dari pertemuannya bersama seorang pejabat pemerintahan Prancis. Saat itu, Roughol bertemu dengan Jean Louis DebrΓ© yang pernah menjabat mantan Menteri Dalam Negeri dan Kepala Mahkamah Konstitusi. Dia pernah ditugaskan menjaga sepeda ketika kawan karibnya sedang berbelanja bersama anaknya.
"Setiap kali ada masyarakat yang melihat kami, pastinya mereka selalu bilang, oh Jean Louis sedang bersama si pengembara itu. Si pengembara atau pengemis jalanan!" ucapnya kepada detikHOT, Rabu (30/12/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kata 'pengembara' dan 'pengemis' selalu diidentikkan dengan penampilan Roughol yang merupakan tunawisma. Stereotip tersebut tidak hilang padahal dirinya pernah muncul di beberapa halaman surat kabar setempat dan membicarakan persahabatannya. Lambat laun, Jean Louis pun mengetahui bahwa Roughol gemar menulis layaknya sebuah buku harian.
Keduanya pun sering bertemu di kafe dan mengobrol banyak hal. Kemudian, Jean Louis menawari diri untuk mengetik dan mengeditnya. "Lama kelamaan, ada penerbit yang melirik naskahku. Dari situ cerita hidupku berubah," kenangnya.
Lewat bukunya, Rounghol menceritakan ketika menjadi tunawisma dan mengemis, dia bertemu dengan banyak orang. Ada seorang aktor kenamaan Prancis yang pernah memberinya banyak uang ketika lewat di depannya. Tapi ada juga politikus yang selalu acuh ketika melihat tunawisma, dan ada yang mencemoohnya. Dia pun pernah mendapatkan 80 Euro atau sekitar Rp 1,23 juta.
Simak: Eksklusif! Intip Wawancara Bareng Jean-Marie Roughol 'Si Penulis-Tunawisma'
"Namun, syukurlah masih ada juga yang mau membantu seperti misalnya asosiasi Resto du Coeur yang tak hanya membagikan makanan kepada kami tetapi juga memberikan dorongan moral," ujarnya.
Kini, meski novelnya masuk daftar laris 2015, Roughol masih tinggal di jalanan. Kadang-kadang, dia tidur di taman kota atau menginap di sebuah hotel khusus tunawisma. "Bukan hotel bagus, saya hanya tinggal di hotel dan beberapa waktu lagi saya akan punya rumah yang disediakan oleh walikota. Itu hotel khusus tunawisma," katanya.
Dengan optimis dan penuh rasa percaya diri, Roughol mengatakan bahwa dia akan terus menjalin pertemanan di Facebook. Setiap hari, dia rajin mengecek akun Facebook-nya dan berinteraksi di dunia maya. Siapa saja boleh menambahkannya dan akan langsung diterima sebagai teman. "Saya ingin orang membaca karya saya, terinspirasi dan berpikir yang berbeda tentang kami, tentang tunawisma," harapnya.
(tia/mmu)











































