Eksibisi yang digelar oleh Studio Seni Purjito dan bekerja sama dengan Galeri Nasional Indonesia ini dibuka sejak 22 Desember lalu. Purjito menampilkan sekitar 44 judul karya relief dan patung dengan bahan perunggu, alumunium, dan fiber hasil olah artistik ciptaannya.
Simak: Sastrawan Sufi Candra Malik Akan Kolaborasi dengan Seniman Bali
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Purjito merupakan lulusan ISI Yogyakarta yang konsisten menjadi pematung. Kemampuan dan tekniknya dianggap di atas rata-rata sekaligus bertumpu pada ketajaman batin.
Sepanjang 27 tahun berkarier, Purjito telah menggelar lima pameran tunggal. Diantaranya Pameran Tugas Akhir di ISI Yogyakarta (1988); "Mentari Kecil" di Galeri 678, Kemang, Jakarta (2007); "Mandala Cakra" di FSRD ITB (2009); "Sembah" di Taman Budaya Yogyakarta (2014); dan "Memorandum" di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta (2015).
"Purjito merupakan militansi yang luar biasa karena seluruh pameran tunggalnya diselenggarakan sendiri oleh Purjito dengan mengusung Studio Seni Purjito yang menyiapkan segala kebutuhan pameran tunggalnya," kata Suwarno.
Teknik yang digunakannya pun tergolong memakan biaya. Karena memproduksi satu patung dengan teknik cor perunggu, pastinya menghabiskan biaya tidak sedikit. "Bahan yang semakin mahal (dihitung per kilogram), teknik cor yang membutuhkan tukang-teknisi profesional, serta sentuhan akhir yang memerlukan kecermatan dan waktu," pungkasnya.
(tia/mmu)











































