Moyo pun mencoba menenangkan hatinya dengan membelikan balon baru. Usahanya berhasil, Tupu tidak lagi ngambek. Sekelumit cerita tersebut merupakan cuplikan dari pertunjukan yang berjudul 'Mwathirika'.
Dalam bahasa 'Swahili' berarti 'korban'. Dikisahkan, ayah dari Tupu dan Moyo adalah seorang single father bernama Baba. Baba adalah seorang pekerja keras yang hanya memiliki satu tangan. Tapi sejarah Indonesia yang kelam membuat keluarga mereka terpecah belah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca Juga: 3 Kelompok Seni Tanah Air Tampil di Inggris Lewat 'Discover Indonesia'
![]() |
Mengunjungi empat kota, Papermoon terkesan dengan minat dan antusias masyarakat di sana. Hal tersebut dikatakan oleh salah satu puppeteer Wulang Sunu dalam jumpa pers di kantor British Council, Sudirman, Jakarta Pusat.
"Kami berkunjung ke Edinburgh, Cardiff, London, dan Glasgow. Ada tiga kota yang sangat berkesan karena ada interaksi bersama pengunjung yang menonton," ucapnya, Kamis (17/12/2015).
Mayoritas pengunjung yang menonton adalah remaja sampai dewasa. "Kami kaget juga ternyata banyak kakek atau usia lanjut yang antusias menonton," kata Wulang.
Bagi tim Papermoon Puppet Theatre yang menjadi tantangan sendiri ketika mereka harus membereskan set artistik panggung dalam waktu 10 menit. Waktu yang terbatas tersebut membuat mereka harus cekatan membereskannya ke tempat semula agar kelompok teater lainnya yang berganti memakai panggung.
Simak Juga: Potret Jerussalem di Balik Bidikan Kamera Fotografer Turki
Sistem kerja tersebut, kata dia, yang berbeda dengan di Indonesia. "Jadi memang ruangan yang dipakai bergiliran dengan company lainnya. Setiap tim punya tugasnya masing-masing seperti backdrop, tata lampu, sound, dan lain-lain. Kita juga harus fokus dengan tugasnya, nggak bisa luwes seperti di Yogyakarta," pungkasnya tertawa.
Selain itu, pementasan yang digelar selama 16 kali berturut-turut setiap malamnya, cukup membuat pekerjaan rumah bagi Papermoon. "Ini yang terlama dibandingkan pentas lainnya dan energi nggak boleh habis," tutup Wulang.
Papermoon Puppet Theatre didirikan oleh Maria Tri Sulistyani (ilustrator, penulis, dan penggiat teater) bareng suaminya Iwan Effendi (seniman visual). Banyak negara sudah disinggahinya seperti Australia, Jerman, Jepan, Singapura, India, Thailand, Belanda, dan kini dua pendiri tersebut tengah residensi di Amerika Serikat.
(tia/ron)












































