Kiprah Ashraf dalam ranah seni tak hanya dikenal di Arab Saudi saja, tapi juga sampai ke Inggris. Karyanya kerap mengkritik kondisi sosial dan pemerintahan di negaranya. Agama pun bukan satu-satunya contoh refleksi bagi Fayadh.
"Saya mencari penghiburan, tapi situasi saya tidak memungkinkan saya untuk menafsirkan apa saja yang ingin saya mau," tulisnya dalam puisi berjudul 'Frida Kahlo Mustache'.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, yang lebih penting adalah puisi-puisi Fayadh menggambarkan kecemasan dan kegelisahan seorang manusia modern. Seperti puisinya 'Asylum' yang menggambarkan 'makna pulang adalah segala sesuatu yang bisa dimasukkan ke dalam saku'.
Gambar-gambar yang ditampilkan dalam buku kumpulan puisinya pun mengacu pada tanah air yang hilang dan mitos leluhur. Meski lahir di Arab Saudi namun Fayadh tidak memiliki akses kewarganegaraan di negaranya. Orangtuanya adalah pengungsi Palestina.
Pada 2008, pria yang kini berusia 35 tahun itu pernah menerbitkan sebuah buku kumpulan puisi yang berjudul 'Instructions Within'. Fayadh juga seorang kurator seni dan aktif dalam organisasi seni Inggris-Arab 'Edge of Arabia'. Pertengahan November ini, Fayadh dijatuhi hukuman mati karena tuduhan murtad atas puisi-puisi yang ditulisnya.
(tia/mmu)











































