Pameran bertemakan "Bumi Tadulako: Mareso, Maroso Rupa" merupakan hasil kerjasama Galeri Nasional Indonesia dengan Taman Budaya Provinsi Sulawesi Tengah. Menurut asisten kurator Hapri Ika Poigi di pengantar kuratorialnya, istilah 'tadulako' berasal dari kata âtaduâ berarti tumit dan âlakoâ yang berarti melangkah.
"Atau berarti tanah tempat berpijak. Tadulako, identik dengan sosok seseorang yang menjadi panutan atau pemimpin di dalam stratifikasi sosial dalam struktur kemasyarakatan," ujarnya dalam keterangannya, Rabu (18/11/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia kembali menjelaskan bahwa pameran 'Bumi Tadulako' adalah sebuah peristiwa budaya yang dilakoni oleh tadulako-tadulako yang ada di Sulawesi Tengah. "Karya para seniman tadulako akan disandingkan dengan dengan karya para maestro seni rupa Indonesia."
Kepala Galeri Nasional Indonesia Tubagus 'Andre' Sukmana mengatakan pameran ini mampu menjadi suguhan yang inspiratif dan makin memperkenalkan koleksi Galeri Nasional ke masyarakat Indonesia.
"Ini kesempatan yang berharga untuk menunjukan keberadaan dan potensi perupa Sulawesi Tengah dalam bidang seni rupa, sehingga para pemangku kepentingan di bidang seni budaya bisa menampilkan karyanya," ungkapnya.
Eksibisi 'BUMI TADULAKO: Mareso, Maroso Rupa' memajang 30 karya dalam berbagai media dan teknik berupa lukisan, drawing, grafis, batik, kriya logam, instalasi, dan video art. Sebanyak 15 karya merupakan koleksi pilihan Galeri Nasional. Seperti karya Abas Alibasyah, Hendra Gunawan, Rusli, Srihadi Sudarsono, Tisna Sanjaya, dan lain-lain.
Sedangkan 15 karya lainnya merupakan hasil olah artistik para perupa Sulawesi Tengah yang dipilih tim kurator. Seperti karya Endeng Mursalin, Muhammad Ridwan (Iwan Tulang), Rio Simatupang, Taufiqurrahman, dan Udhin F.M. Pameran akan dibuka pada 18 November di Taman Budaya Sulawesi Tengah dan digelar sampai 21 November mendatang!
(tia/tia)











































