Pada Desember mendatang, program ini akan menerbitkan buku berjudul 'Seni Rupa Kita' yang berisi pemahaman mendasar mengenai seni rupa untuk remaja. Direktur Eksekutif Yayasan Jakarta Biennale Ade Darmawan dalam temu media mengatakan program ini menjadi tantangan terbaru.
"Sebenarnya Jakarta Biennale punya kepentingan khusus soal edukasi. Biennale memang banyak di mana-mana, tapi model apa yang baik dengan sistem seperti ini dan kami mengambil sisi peran seni rupa di masyarakat," katanya di Gudang Sarinah, Jalan Pancoran Timur II Jakarta Selatan, Rabu (11/11/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Buku tersebut akan disebarkan ke berbagai sekolah dan dapat diakses publik dengan cara mengunduhnya di laman situs jakartabiennale.net. Selain itu, penyelenggara Jakarta Biennale juga akan mengundang remaja yang terdiri dari 17 pelajar di 9 Sekolah Menengah Atas (SMA) untuk menjadi 'Duta Seni'.
"Menurut kami, anak-anak SMA ini periode yang memang harus diajarkan apa itu seni rupa. Dan penting diajarkan karena kesenian itu berhubungan dengan pengalaman dan pengetahuan," lanjut Ade.
Lewat program edukasi publik peluncuran buku 'Seni Rupa Kita' dan 'Duta Seni' diakui Ade akan menjadi langkah awal yang berkelanjutan. Ke depannya, Jakarta Biennale 2015 juga akan mengadakan 'Curators Lab' yang mengundang kurator muda dari berbagai kota di Indonesia. Serta 'Simposium dan Akademi Maju Kena Mundur Kena (MKMK) yakni program mengolah potensi pendidikan yang digelar 16-30 November 2015.
(tia/dal)











































