DetikHot

Ironi 'Isu 1965' (3)

Bebas dan Panas! Menengok Diskusi Seputar Tragedi 1965 di Frankfurt

Kamis, 29 Okt 2015 14:55 WIB  ·   Is Mujiarso - detikHOT
Bebas dan Panas! Menengok Diskusi Seputar Tragedi 1965 di Frankfurt
Jakarta - Tepuk tangan panjang membahana usai Leila S Chudori tampil untuk wawancara di ‘Das Blaue Sofa’. Sesi ’sofa biru’ tersebut dianggap sebagai salah satu forum paling bergengsi bagi para penulis yang hadir di Frankfurt Book Fair (FBF). Dan, berkat novelnya yang berjudul ‘Pulang’, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman dengan judul sama ditambah sub-judul Heimkehr nach Jakarta, Leila tampil di forum tersebut pada 17 Oktober lalu.

Itulah salah satu kesibukan Leila bersama tim penulis Indonesia lainnya yang ikut serta dalam FBF 2015 pada 14 hingga 10 Oktober. Indonesia tampil sebagai tamu kehormatan, dan salah satu tema yang diusung seputar Tragedi 1965. Ada dua sesi yang membahas isu tersebut, salah satunya berjudul ‘External and Internal Exiles’ dimana Leila tampil sebagai pembicara bersama Laksmi Pamuntjak, penulis novel ‘Amba’ (edisi Jerman berjudul Alle Farben Rot).

Menurut Leila, antusias pengunjung pada diskusi tersebut sangat tinggi. “Diskusi kami di Pavilion Indonesia, area Island of Scenes memang ramai dan penuh, bahkan terbilang panas dan rada heboh,” kisahnya sepulang ke Jakarta, Kamis (29/10). Salah satu kehebohan tersebut, tutur Leila, dipicu oleh pernyataan penyair Tafiq Ismail yang juga hadir di sesi tersebut.

“Intinya kalau diringkas, Taufiq ingin perdamaian total, tanpa perlu melewati tahap rekonsiliasi dan sebagainya,” ujar Leila. “Saya setuju bahwa perdamaian adalah satu tujuan yang diinginkan semua orang. Tapi menurut saya, pada tahap diskusi, korban harus diikutsertakan. Semua proses harus melalui beberapa tahap hingga akhirnya pada tahap perdamaian. Perdamaian itu harus disepakati. Yang juga tak kalah penting, pemerintah atau negara harus mengakui bahwa pembantaian pasca 1965 memang terjadi. Jika tidak maka akan terjadi impunitas,” lanjutnya.

Leila menambahkan, walau riuh dan “panas”, perdebatan itu terjadi dengan beradab. Tak hanya di forum tersebut, dalam tur keliling untuk membicarakan novelnya di sejumlah kota lain di Jerman, Swiss dan Belanda, mau tak mau Leila juga menyinggung isu 1965. “Tentu saja saya bicara dari perspektif saya sebagai generasi yang lahir di tahun 1962 dan tumbuh besar di era rezim Soeharto," katanya.

Penulis yang sebelumnya telah melahirkan kumpulan cerpen ‘Malam Terakhir’ dan ‘Nadira’ itu baru tiba kembali di Jakarta, Rabu (28/10) kemarin. Ia pun telah mendengar tentang adanya pembatalan sesi diskusi terkait isu 1965 di Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2015 yang kini tengah berlangsung. “Saya tetap terkejut bahwa 3 panel dalam UWRF dilarang secara resmi. Polisi hanya bermain kata dengan mengatakan panitia yang membatalkan. Itu cuma soal semantik. Ini sebuah setback, langkah mundur yang memalukan dan menyedihkan,” tuturnya.

Leila berharap, apa yang terjadi tidak menjalar menjadi sebuah kebijakan vertikal dari pemerintah pusat. Waktu di Frankfurt Leila juga mendengar adanya kasus pendeportasian Tom Iljas, seorang eksil yang berziarah ke makam ayahnya di Sumatera, dan kasus pembreidelan majalah kampus UKSW Salatiga, Lentera yang mengangkat laporan utama tentang Tragedi 1965. Bagi Leila, semua itu menunjukkan gejala adanya pukulan balik terhadap kebebasan.

“Kaum konservatif dan beberapa kalangan mencoba memukul balik 17 tahun kebebasan yang kita peroleh. Kita harus melawan. Demokrasi memang sebuah proses panjang dan kita harus siap dengan tubuh babak belur oleh mereka yang diam-diam gentar terhadap kebebasan,” tandasnya.


(mmu/mmu)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed