DetikHot

Ironi 'Isu 1965' (2)

Surga Bali dan Kontradiksi yang Terus Membayangi

Kamis, 29 Okt 2015 13:40 WIB  ·   Is Mujiarso - detikHOT
Surga Bali dan Kontradiksi yang Terus Membayangi
Jakarta -

Sampai dengan Jumat (23/10) siang itu, segalanya masih baik-baik saja. Panitia Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2015 mengirimkan keterangan pers ke berbagai redaksi media massa. Disebutkan bahwa hajat tahunan yang telah terselenggara sejak lebih dari 10 tahun lalu itu, tahun ini siap digelar kembali dengan tak kurang dari 200 program, serta mengundang 165 penulis dari dalam dan luar negeri. Namun, tiba-tiba, sorenya pada hari yang sama, semuanya berubah secara cukup mengejutkan.

Festival yang berlangsung pada 28 Oktober hingga 1 November itu mengumumkan pembatalan 3 sesi diskusi panel yang sedianya akan mengusung tema seputar Tragedi 1965. Tema ini dijadwalkan untuk dibahas secara khusus karena UWRF 2015 ingin menyinambungkan programnya dengan tema yang diangkat Indonesia sebagai tamu kehormatan di Frankfurt Book Fair (FBF) 2015, yang berlangsung pada 14 - 18 Oktober. Mengusung tema besar ’17.000 Pulau Imaji’, kehadiran Indonesia di FBF 2015 antara lain mempersembahkan novel-novel bertema seputar Tragedi 1965, serta menggelar berbagai diskusi yang terkait dengan isu tersebut.

Namun, Ubud bukan Frankfurt. Jika di Frankfurt para sastrawan dengan leluasa membahas dan berdiskusi hingga debat panas soal isu 1965, maka Ubud kemudian justru membatalkannya. Tiga diskusi yang dibatalkan tersebut adalah satu panel yang membahas karya-karya sastra terkait 1965, satu panel tentang pendekatan-pendekatan lokal yang dilakukan Taman 65 dalam membahas dampak Tragedi 1965 di Bali, dan satu panel diskusi bersama para penulis buku yang versi Bahasa Inggrisnya sedianya akan diluncurkan. Ada tiga buku, yakni ‘Forbidden Memories: Women’s experiences of 1965 in Eastern Indonesia’ yang disunting oleh Mery Kolimon, Liliya Wetangterah dan Karen Campbell-Nelson, ‘Breaking the Silence: Survivors Speak about 1965-66 Violence in Indonesia' (editor Putu Oka Sukanta), dan ‘Truth Will Out: Indonesian Accounts of the 1965 Mass Violence' (editor Baskara T. Wardaya).

Salah satu sastrawan yang dijadwalkan berbicara pada panel terkait isu 1965 adalah Linda Christanty. Namun, penulis buku kumpulan cerpen ‘Seekor Anjing Mati di Bala Murghab’ itu enggan berkomentar mengenai pembatalan tersebut. Yang jelas, ia mengaku telah menerima surat dari panitia UWRF 2015 yang isinya pemberitahuan tentang pembatalan sesi yang melibatkan dirinya. Namun, Linda menyatakan akan tetap hadir di acara tersebut karena ia punya sesi lain tentang Aceh bersama sastrawan Azhari Aiyup.

Menurut Jemma Purdey dari Yayasan Herb Feith yang merupakan sponsor utama UWRF, pembatalan tersebut ini menunjukkan bahwa suara warga Indonesia terkait peristiwa 1965-66 kembali dibungkam. Dalam pernyataan persnya ia menyesalkan pembungkaman itu karena menghilangkan kesempatan untuk mendengar pemaparan dari para penulis dan peneliti utama Indonesia yang senantiasa mengupayakan pemahaman dan refleksi yang lebih baik terhadap sejarah yang penuh trauma itu.

Bagi banyak pihak, pembatalan itu jelas mengejutkan terutama di tengah euforia kehadiran Indonesia sebagai tamu kehormatan di Frankfurt Book Fair 2015 yang masih menyelimuti. Di ajang pameran buku tersebut, tema seputar 1965 dihadirkan dan dibahas dengan bebas, atas biaya pemerintah dalam hal ini Kemendikbud. Namun, bagi sebagian pengamat, sebenarnya tak ada yang mengejutkan dari kejadian di Ubud tersebut.

Menurut Dosen Jurusan Antropologi Universitas Indonesia Iwan Pirous, faktor “Bali” menjadi salah satu penjelasan mengapa pelarangan diskusi seputar tema 1965 itu terjadi. “Mungkin itu bukan satu-satunya faktor, tapi ada dua fakta sejarah yang kontras bahwa di satu sisi Bali adalah ikon internasional sejak 1922, dan di sisi lain Bali adalah kuburan massal pasca Tragedi 1965,” ujar Iwan.

Lulusan S-2 dari Nottingham Trent University, Inggris itu merujuk pada fakta bahwa pembunuhan massal di Bali pasca 1965 mungkin yang terbesar. “Pada masa itu siapapun harus jadi pembunuh tetangga sendiri atau dibunuh tetangga sendiri, maka semua orang terlibat. Kasusnya mirip dengan yang terjadi di basis-basis PKI di Jawa Timur. Bedanya gaung di Bali itu internasional sebagai surga di Timur. Masa iya surga yang sama juga adalah neraka jahanam? Kontradiksi yang terlalu keras ini masih belum dapat diterima,” papar Iwan.

Salah satu orang pertama yang menyingkap kontradiksi tersembunyi di Bali tersebut adalah Soe Hok Gie. Aktivis mahasiswa ’66 yang mati muda itu pernah menulis artikel berjudul ‘Pembantaian di Bali’ pada 1967. Tulisan tersebut tak pernah terbit di surat kabar manapun namun belakangan dihimpun oleh Robert Cribb dalam buku ‘The Indonesian Killings of 1965-1966: Studied from Java and Bali’. Gie menyebutkan, dengan perkiraan yang paling konservatif paling tidak 80 ribu orang terbunuh, tua-muda lelaki-perempuan.

Namun, Iwan juga mengingatkan bahwa penting untuk mencari tahu faktor lain di balik pembatalan sesi 1965 di UWRF 2015. “Kalau memang benar ada pelarangan, siapa orang yang paling berkepentingan, misalnya, untuk menggagalkan Ubud Writers Fest itu? Polisi nggak mungkin bertindak tanpa disuruh,” ujarnya.


(mmu/mmu)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed