Ini adalah perjalanan Rudy menjadi B.J. Habibie. Tak banyak orang yang tahu cita-cita membangun industri pesawat terbang untuk Indonesia berawal dari ketakutannya akan pesawat pada masa Perang Dunia Kedua. Tak banyak juga orang yang tahu bahwa Rudy punya kisah cinta tersembunyi sebelum Ainun. Bahkan ia tidak terlalu suka dengan kata 'impian' tapi baginya 'cita-cita' yang paling tepat.
Melalui tiga bab cerita dalam biografi yang ditulis Gina S.Noer, pria yang kuliah di Jerman dari 1955 sampai 1962 mengungkapkan peristiwa yang terjadi di hidupnya secara blak-blakan. Termasuk peristiwa yang paling diingatnya ketika remaja.
Rudy yang berusia 13 tahun dan setelah 40 hari kepergian ayahnya diperintahkan untuk sekolah di Jakarta. "Saya baru kehilangan ayah dan disuruh naik kapal 3 hari ke Jakarta. Dikasih foto paman, dikasih koper dan disuruh sekolah internasional di sana. Saya mengerti keputusan Beliau tapi saya juga nggak mengerti kenapa Beliau rela melepas saya," katanya saat peluncuran bukunya di perpustakaan B.J. Habibie di kawasan Kuningan Jakarta Selatan, Senin (12/10/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satu peristiwa itu dituturkan Gina dengan kata ganti orang ketiga. Selama dua tahun, setelah suksesnya film 'Habibie Ainun' , ia mewawancarai Habibie dan orang sekitarnya selama dua tahun dan mengunjungi kampung halamannya. Khusus proses penulisan dan riset mendalam selama satu tahun belakangan.
Gina yang berprofesi sebagai penulis skenario itu juga mengatakan banyak cerita yang selama ini belum diketahui publik, tapi ada dalam biografinya. "Banyak jam dan disksui yang dihabiskan bareng Eyang semuanya terangkum di sini. Paling banyak email-emailan jam 12 malam sampai 3 pagi," katanya.
Ketika Habibie bercerita, Gina punya cara tersendiri. Yang terpenting, kata dia, jangan memberhentikan cerita Habibie. "Biar Eyang cerita terus karena Eyang senang cerita," ujar Gina tertawa.
Cerita dimulai Gina ketika Rudy remaja yang berusia 21 tahun tengah sekarat. Saat itu, Gina bertanya apa alasan Habibie saat sekarat malah buat janji untuk membangun bangsa Indonesia. Sambil tersenyum, Habibie menceritakan secara runut masa kecil, remaja, sampai kuliah di Jerman. Serta yan
Biografi 'Rudy, Kisah Masa Muda Sang Visioner' terbita Penerbit Bentang Pustaka setebal 280 halaman akan tersedia di toko-toko buku ibukota dan sekitarnya pekan depan. (tia/fk)










































