detikHot

art

Musikalisasi Puisi ala Dewi Lestari dan Sapardi Djoko Damono

Kamis, 08 Okt 2015 09:51 WIB Tia Agnes Astuti - detikHot
Dok.Galeri Indonesia Kaya Dok.Galeri Indonesia Kaya
Jakarta - Diawali dengan sajak 'Hanya Isyarat' dan 'Cicak di Dinding', Dewi Lestari memulai pembacaan puisinya. Diiringi alunan piano yang dibawakan suaminya Reza Gunawan, Dee memusikalisasi puisi-puisi yang ada di dalam buku 'Rectoverso' (2008).

"See the sunrise. Know it's time for us to pack up all the past, And find what truly lasts. If everything has been written down, so why worry, we say. It's you and me with a little left of sanity," kata Dee dari atas panggung Galeri Indonesia Kaya, semalam.

Puisi 'Grow a Day Older' dan 'Malaikat Juga Tahu' kembali dibacakan dan dinyanyikan Dee. Selama beberapa saat, para pengunjung yang hadir dalam ruang teater terhanyut. Di sela-sela aksi panggung, wanita yang pernah tergabung di grup Rida Sita Dewi itu mengucapkan kekagumannya terhadap karya-karya Sapardi Djoko Damono. Maestro puisi tersebut dinilainya mampu mengubah kehidupan Dee.

"Tahun 1994 saya menciptakan puisi dan karya Pak Sapardi mengubah segalanya, saya merasa ikut transformasi. Ketika bikin puisi pun, saya cemen dan nggak percaya diri karena tolak ukurnya Sapardi," ucap Dee.

Namun, malam itu di hadapan ratusan pengunjung Galeri Indonesia Kaya, Dee merasa sebuah kehormatan bisa sepanggung dengan Sapardi.

"Jika saya ditanya kalau ke pulau terpencil buku apa yang dibawa, maka saya bakal berkata 'Hujan Bulan Juni'. Saya persilakan Pak Sapardi untuk ke atas panggung."

Mengenakan flatcap khas Sapardi dan jaket berwarna krem, Sapardi membawa bukunya. "Saya akan membaca puisi yang sangat panjang. Harap bersabar," ujarnya berkelakar.

"Tuan, Tuhan Bukan? Tunggu sebentar saya sedang keluar."

Sontak disambut tawa membahana para pengunjung. "Ya, cukup panjang kan?" kata Sapardi tertawa.

Puisi kedua yang dibawakannya adalah 'Hujan Bulan Juni' dan 'Dalam Doaku'. Penampilan apresiasi sastra ala Dewi Lestari dan Sapardi Djoko Damono di perayaan ulang tahun ke-2 GIK ditutup oleh aksi panggung Tatyana dan gitaris Gupta Mahendra.

Seperti kata Sapardi, membaca puisi karyanya itu tidak usah dipahami tapi dihayati saja. Karena kalau ditanya apakah Sapardi tahu artinya ia akan menggelengkan kepala. "Saya juga nggak tahu, kalau tahu saya nggak akan bikin puisi," tutupnya.

Kemeriahan pertunjukan HUT GIK malam itu, tak berhenti sampai di situ saja. Pada Kamis, 8 Oktober ada screening film 'Kisah Dua Boy' (2011) pukul 17.00 WIB oleh 700 Pictures. Serta 'Kisah Dua Boy' (1987) oleh PT.Bola Dunia. Dilanjutkan dengan 'Kisah Sang Dewi dan Dara Jana' pukul 19.00 oleh Titi DJ dan Dara Jana esok harinya. Rangkaian acara akan ditutup oleh 'Pentas Wayang Bocor: Dimiscall Leluhur' oleh ARS Management pada Sabtu, 10 Oktober pukul 15.00 WIB.
(tia/tia)

Photo Gallery
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed