Buku dan Kenangan Zaman Kalabendu

Kampung Buku Jogja (3)

Buku dan Kenangan Zaman Kalabendu

Is Mujiarso - detikHot
Rabu, 07 Okt 2015 16:30 WIB
Buku dan Kenangan Zaman Kalabendu
Jakarta - Hiruk-pikuk persiapan menjelang hajatan ‘Kampung Buku Jogja’ yang digagas oleh sejumlah aktivis militan industri perbukuan Yogyakarta, menghentikan sejenak kehidupan Edi Mulyono. Acara unik yang akan digelar di Foodpark UGM, 8-10 Oktober itu membuatnya merenungkan kembali masa lalunya, ketika dirinya masih muda dan berjuang.

“Saya jadi ingat, dulu banget, tahun 2001, saya pernah menerjemahkan buku,” ujarnya sambil menunjukkan buku berjudul ’Sigmund Freud vis a vis Tuhan’ karya Hans Kung. “Bukan karena jago bahasa Inggris, tapi saat itu adalah zaman kalabendu, tepatnya zaman ketika saya kudu ngirit biaya penerbitan karena masih tahap merintis, termasuk ngirit biaya terjemah. Jadilah saya dengan penuh heroik menerjemahkannya sendiri,” kenang pendiri grup penerbitan Diva Press itu yang dikenal dengan nama populer Eddy AH Iyubenu

Zaman kalabendu yang disebutnya itu kira-kira bisa diartikan sebagai zaman berjuang, zaman yang penuh kesusahan. Eddy pun sulit untuk melukiskannya dengan kata-kata, bagaimana ia merintis penerbitannya kala itu. Namun, Eddy akan hadir sebagai pembicara di salah satu sesi diskusi di Kampung Buku Jogja nanti.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Eddy akan berbagi pengalamannya dalam Ngobrol Bareng Distributor Alternatif, pada hari ketiga, Sabtu (10/10) pukul 19.30. Sesi ini juga menampilkan Eka dari Pojok Cerpen dan Irwan Bajang dari Indie Book Corner. Memang, selain menjadi ajang “pameran” buku, Kampung Buku Jogja juga menampilkan berbagai sesi diskusi dan workshop yang bisa diikuti secara gratis. Selain itu, juga akan ada Pertemuan Agung Toko Buku Online se-Indonesia.

Salah satu penggagas acara, Adhe mengatakan bahwa Kampung Buku Jogja merupakan kegiatan perbukuan yang melampaui “transaksi buku” seperti yang biasa terjadi dalam pameran-pameran buku umumnya. “Kegiatan yang kami selenggarakan ini bukan hanya ruang dan tempat pertemuan buku dan pembelinya, bukan sekadar ajang menjual dan membeli buku lalu selesai begitu saja. Dalam kegiatan ini, para penyuka buku akan bertemu dengan teman-temannya yang sama-sama menyukai buku. Ini adalah ruang dan waktu “bertemunya buku dan dirimu”,” papar Adhe.

(mmu/mmu)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads