“Saya jadi ingat, dulu banget, tahun 2001, saya pernah menerjemahkan buku,” ujarnya sambil menunjukkan buku berjudul ’Sigmund Freud vis a vis Tuhan’ karya Hans Kung. “Bukan karena jago bahasa Inggris, tapi saat itu adalah zaman kalabendu, tepatnya zaman ketika saya kudu ngirit biaya penerbitan karena masih tahap merintis, termasuk ngirit biaya terjemah. Jadilah saya dengan penuh heroik menerjemahkannya sendiri,” kenang pendiri grup penerbitan Diva Press itu yang dikenal dengan nama populer Eddy AH Iyubenu
Zaman kalabendu yang disebutnya itu kira-kira bisa diartikan sebagai zaman berjuang, zaman yang penuh kesusahan. Eddy pun sulit untuk melukiskannya dengan kata-kata, bagaimana ia merintis penerbitannya kala itu. Namun, Eddy akan hadir sebagai pembicara di salah satu sesi diskusi di Kampung Buku Jogja nanti.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satu penggagas acara, Adhe mengatakan bahwa Kampung Buku Jogja merupakan kegiatan perbukuan yang melampaui “transaksi buku” seperti yang biasa terjadi dalam pameran-pameran buku umumnya. “Kegiatan yang kami selenggarakan ini bukan hanya ruang dan tempat pertemuan buku dan pembelinya, bukan sekadar ajang menjual dan membeli buku lalu selesai begitu saja. Dalam kegiatan ini, para penyuka buku akan bertemu dengan teman-temannya yang sama-sama menyukai buku. Ini adalah ruang dan waktu “bertemunya buku dan dirimu”,” papar Adhe.
(mmu/mmu)











































