'Kampung Buku Jogja', Upaya Mengembalikan Sebuah Masa Jaya

Kampung Buku Jogja (2)

'Kampung Buku Jogja', Upaya Mengembalikan Sebuah Masa Jaya

Is Mujiarso - detikHot
Rabu, 07 Okt 2015 14:15 WIB
Kampung Buku Jogja, Upaya Mengembalikan Sebuah Masa Jaya
Jakarta - Sejak ide acara ’Kampung Buku Jogja’ diembuskan oleh sejumlah aktivis industri perbukuan di Yogyakarta, banyak orang langsung tertarik. Pendiri Penerbit Ombak Muhammad Nursam misalnya, bahkan menilai bahwa gagasan itu mestinya dilakukan sejak dulu. Menurutnya, acara tersebut penting sebagai momentum untuk mempertemukan segenap pecinta buku.

“Kita akan bertemu dengan orang serius, orang idealis, orang yang ngawur sekalipun, orang bandel dan orang maling, semua ada. Ini pentingnya kita merumuskan kembali visi perbukuan Indonesia, atau khususnya Jogja, ke depan, di acara ini nanti,” ujar pria yang memulai penerbitannya sejak 2002 itu.

Penerbit Ombak milik Nursam yang berdiri sejak 2002 menjadi bagian penting dari sejarah munculnya babak baru dalam industri perbukuan di Indonesia pada akhir dekade 90-an. Ia menyebut pabrik buku yang didirikannya itu sebagai “sekelompok anak muda yang khilaf”. Selorohnya itu merujuk pada fakta bahwa Ombak hadir dengan produk buku yang mengusung tema yang terbilang “tak populer” kala itu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Sejak awal cita-cita kami menerbitkan buku tema-tema sejarah dan budaya, karena kami punya misi memahami keindonesiaan, pintu masuknya sejarah dan budaya, tanpa itu omong kosong,” kenangnya.

Penerbit Ombak akan menjadi salah satu peserta Kampung Buku Jogja dari barisan yang disebut oleh Adhe, penggagas acara itu, sebagai penerbit “buku reguler”. Hal itu untuk membedakan dengan penerbit “buku indie” dan pedagang “buku langka”. Dari ketiga kategori tersebut, total Kampung Buku Jogja akan diikuti lebih dari 50 peserta.

Dari barisan penerbit “buku reguler”, ada nama-nama yang sudah tak asing di dunia perbukuan nasional, seperti Ar Ruzz, Galang, Insist, Diva Press, Jalasutra, Kanisius, Kreasi Wacana, LKiS, Narasi. Serta, satu penerbit dari Jakarta yaitu Banana.

Menurut salah satu peserta dari barisan “buku langka”, Pojok Cerpen, Kampung Buku Jogja merupakan sebuah upaya untuk mengembalikan “gejolak Jogja” yang pernah menjadi pusat kebangkitan industri perbukuan di Tanah Air sebelum era akhir dekade 2000. Dengan unik, ia menggambarkan situasi kembalinya kegairahan dalam dunia perbukuan Jogja dengan fenomena “boy band”.

“Jika dua tahun sebelumnya, tiga-empat orang yang sedang berkumpul akan muncul gosip membentuk boyband, sekarang tidak. Gosip lama kembali terdengar. Anda harus mulai mencurigai jika ada lebih dari satu orang yang sedang ngobrol di kedai kopi, di kos atau di warung makan, barangkali mereka sedang menyusun strategi membuat penerbitan,” ujar Eka, pemilik akun lapak bukul online tersebut.

Kendati terdengar bercanda, tapi ilustrasi yang diberikan oleh Eka memang cukup mencerminkan faktanya. Setidaknya, saat ini ada tak kurang dari 10 penerbit baru di Yogyakarta, yang kemunculannya mengingatkan pada masa-masa awal munculnya Bentang, Jendela dan penerbit-penerbit yang tumbuh pasca Reformasi. Beberapa nama mulai menyita perhatian dengan produk-produknya yang “berani”, seperti Penerbit Oak, Indie Book Corner, Indonesia Boekoe dan Octopus.

“Gairah ini tidak bisa dihalang-halangi, selebihnya doa dan harapan-harapan, lalu kembali pada waktu. Seleksi akan berjalan,” tambahnya berfilosofi. Kampung Buku Jogja yang digelar di Foodpark, UGM, 8-10 Oktober akan menjadi saksi yang merekam jejak-jejak kerinduan untuk kembali ke sebuah masa jaya bagi identitas buku-buku.

(mmu/mmu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads