Hal ini diungkapkan oleh kurator sekaligus dosen Institut Teknologi Bandung (ITB) Aminudin TH Siregar. "Sulit banget membuktikan mana yang asli dan mana yang palsu," ujarnya saat diskusi 'Ancaman Lukisan Palsu' di Ciputra Artpreneur Jakarta, kemarin.
Baca Juga: Pelukis dan Kolektor Seni Berkumpul, Bahas Lukisan Palsu
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tapi juga orang yang harus sehari-hari ngeliat lukisan. Jadi ada rasa ketika membedakannya," tutur pria yang akrab disapa Ucok.
Tentunya, kata dia, harus ada lembaga profesional yang memverifikasi sebuah karya seni. "Orang yang netral dan mumpuni di bidangnya."
Hal yang sama juga dikatakan oleh kritikus seni yang menetap di Pulau Dewata, Jean Couteau. "Kita perlu membentuk lembaga otenfikasi atau verifikasi yang dipegang oleh orang-orang profesional. Orang-orang yang diseleksi secara ketat dan mungkin saja bisa dikembangkan di universitas," katanya.
Simak: Tak Hanya Maestro, Karya Seniman Muda Juga Dipalsukan
Selain itu, juga harus didirikan laboratorium forensik lengkap dengan peralatan ultra-modern. Seperti bahan pembuat cat lukis serta kerak, retakan, dan sapuan kuas dalam sebuah lukisan.
"Tapi lembaga atau laboratoriumnya juga bisa di bawah kepolisian," ujarnya.
Salah satu karya maestro yang dipalsukan adalah S.Sudjojono. Menurut S.Sudjojono Center sepanjang 1996-2000, dari 53 lukisan Sudjojono yang ditawarkan dalam 17 katalog lelang ada 17 lukisan palsu dan enam yang diragukan keasliannya. SCC juga menyatakan bahwa 80 persen dari lukisan-lukisan yang dibawa ke SCC untuk keperluan verifikasi ternyata palsu.Β
(tia/ron)











































