Kisah Mario awal menjadi seorang fotografer dimulai dari kamera pinjaman. Ia mulai mengambil momen di sekitarnya dan mendokumentasikan warga yang sedang menjual barang-barangnya. Saat itu, Mario hanya bisa mencetaknya dalam bentuk hitam putih.
"Saya belajar sendiri, bagaimana untuk melakukan sesuatu, berlatih setiap kali ada waktu kosong tapi saat itu sangat sulit untuk membeli film dan alat-alat untuk mencetaknya," ungkapnya dilansir dari BBC, Selasa (8/9/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Awalnya, ia sama sekali tidak ingin menjadi fotografer. "Saya ingin jadi jurnalis dan tidak ingin berkarir di fotografi."
Namun, pengalaman di tahun 2007 ketika masih berusia 23 ahun, ada seorang pria yang membawakan kamera untuknya. Itu adalah Nikon FM2 dan diberikan oleh sebuah keluarga Portugis. "Saya pikir dia akan menjualnya tapi malah memberi gratis."
Ketika Mario mulai mengenal blog dan mempublikasikan berbagai fotonya di situs pribadinya, ia mendapatkan program pertukaran pelajar ke Vancouver, Kanada. Di sana, ia banyak menggelar eksibisi foto dan mengajar fotografi di sekolah dasar.
Lambar laun, ia diundang ke Lisbon untuk mengelar pameran tunggal. Sejak saat itu, karya fotografinya pernah dipamerkan di Saatchi Gallery, London dan dibawa keliling dunia.
Pengalamannya yang pahit sejak kecil membuatnya menyadari hidup yang dilakoni sekarang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. "Pengalaman itu mengajarkan saya bagaimana untuk memperjuangkan apa yang saya yakini dan bagaimana menjadi mandiri. Karena keluarga dan mereka, saya menjadi fotografer seperti sekarang ini," tutupnya.
(tia/mmu)











































