Museumsuferfest 2015: Menebar Kebhinnekaan di Frankfurt

Laporan dari Frankfurt

Museumsuferfest 2015: Menebar Kebhinnekaan di Frankfurt

Is Mujiarso - detikHot
Senin, 31 Agu 2015 17:08 WIB
Museumsuferfest 2015: Menebar Kebhinnekaan di Frankfurt
Dok.Is Mujiarso/ detikHOT
Frankfurt - “Jangan nangis ya…”

Itulah bisik seorang warga Indonesia yang tinggal di Jerman kepada temannya, ketika lagu ’Tanah Airku’ ciptaan Ibu Sud yang syahdu menggema dari panggung Indonesia di hari terakhir Museumsuferfest 2015, Minggu (30/8) malam waktu Frankfurt. Lagu tersebut dikumandangkan setelah pesta kembang api yang diluncurkan dari kapal di tengah Sungai Main selama hampir 30 menit.

Suasana haru pun menyesaki dada. Indonesia yang baru saja diperkenalkan kepada publik Jerman selama tiga hari festival lewat berbagai aksi seni pertunjukan tradisional dan musik dari jazz hingga hiphop mendadak terasa begitu jauh. Warga Frankfurt pun ikut terhanyut dalam keharuan tersebut. Mereka telah merasakan nasi goreng, sate, rendang hingga lumpia dari tenda-tenda kuliner Indonesia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selama tiga hari pula, warga Frankfurt dan sekitarnya ikut bergoyang dalam iringan lagu-lagu dangdut yang dibawakan oleh Orkes Melayu Banter Banget. Musik dangdut pulalah yang kemudian menandai penutupan acara tersebut. Indonesia sebagai official theme country Museumsuferfest 2015 boleh merasa bangga karena berhasil membetot perhatian orang-orang Jerman.

Orang pertama yang paling lega tentu saja Goenawan Mohamad sebagai Ketua Komite Nasional Indonesia untuk Frankfurt Book Fair (FBF) 2015. Sebagai rangkaian menuju perhelatan akbar pada Oktober tersebut, tim dari Indonesia telah mempersembahkan berbagai acara. Dari pameran Arsitektur hingga menampilkan serombongan seniman di panggung Museumsuferfest.

Namun dengan jujur Goenawan mengatakan, jika dibilang sukses, maka sebenarnya ukurannya luas. Tapi bagi dia yang jelas bisa dilihat liputan media Jerman yang positif dan banyak bisa jadi gambaran yang menggembirakan. Maka, ketika diminta untuk mengungkapkan perasaannya usai acara tersebut, pertama kali Goenawan memuji para penampil.

“Mereka luar bisa, mengatur acara ini dengan bagus, tidak ada ego dan tidak dibayar. Ya, kalaupun dibayar, berapa sih? Dwiki (Dharmawan) misalnya, kalau tampil di tempat lain jelas bayarannya jauh lebih besar. Tapi, lihat, di sini dia mengajak teman-temannya musisi dari berbagai negara, dan kita tidak pernah melihat Dwiki tampil begitu bersemangat seperti tiga hari ini,” tutur Goenawan.

Ketua Komisi untuk Pameran, Pertunjukan dan Seminar pada FBF 2015 Slamet Rahardjo juga melihat hal yang sama. “Mereka orang-orang hebat. Dira Sugandi, JFlow, Bonita, Djaduk Ferianto dan lain-lainnya…tapi tidak ada yang primadona complex, saya tidak diganggu dengan kompleksitas kebintangan mereka. Semua rendah hati dan itu menjadi contoh dari unity in diversity yang ingin kita tonjolkan dalam misi ini,” ujar aktor senior tersebut.

Semboyan ‘Bhinneka Tunggal Ika’ memang sangat terwakili dan terasa dari penampilan tim seniman Indonesia selama tiga hari di panggung Musuemsuferfest. Dari barong dan gandrung Banyuwangi, musik kontemporer, jazz, hiphop hingga dangdut berhasil menyedot perhatian pengunjung pesta rakyat terbesar di Eropa yang digelar di tepi Sungai Main itu.

Tak heran, dalam pidato pembukaannya, Jumat (28/8) lalu Walikota Frankfurt Peter Feldmann mengungkapkan bahwa dari dirinya sudah langsung bisa merasakan kebhinnekaan Indonesia dari persembahan di awal acara. Sejumlah koran Jerman pun dalam liputannya atas kehadiran Indonesia di Museumsuferfest 2015 juga menggarisbawahi soal kebhinnekaan tersebut.

Mewakili para penampil dari generasi terkini, penyanyi hiphop JFlow pun melihat bahwa apa yang tersaji di panggung Indonesia selama Museumsuferfest 2015 bisa dijadikan formula dan standar baru bagi misi kebudayaan di luar negeri di masa mendatang. “Harus balance sehingga terlihat Indonesia yang memiliki tradisi kuat, dan Indonesia yang menapak ke depan,” ujarnya.

(mmu/tia)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads