Jadi Tamu Utama di Museumsuferfest, Indonesia Juga Gelar Pameran Arsitektur

Laporan dari Frankfurt

Jadi Tamu Utama di Museumsuferfest, Indonesia Juga Gelar Pameran Arsitektur

Is Mujiarso - detikHot
Jumat, 28 Agu 2015 13:17 WIB
Jadi Tamu Utama di Museumsuferfest, Indonesia Juga Gelar Pameran Arsitektur
Arsitek Pameran Arsitektur di Frankurt (Ismujiarso/detikHOT)
Frankfurt -

Akhir pekan ini, nama Indonesia akan bergema dan menjadi perhatian di Frankfurt, Jerman. Tak hanya menjadi official theme country atau tamu utama di Museumsuferfest 2015 saja, pada waktu yang bersamaan Indonesia juga menggelar pameran arsitektur di lokasi yang berdekatan.

Pembukaan kedua acara tersebut juga hampir bersamaan. Museumsuferfest akan dibuka pukul 17.00 waktu setempat hari ini, Jumat (28/8) sedangkan pameran arsitektur dibuka pukul 19.00. Pameran bertajuk β€˜Tropiclity: Revisited’ tersebut digelar di Deutsches Architektur Museum yang terletak di sisi Sungai Main, berseberangan dengan lokasi acara Museumsuferfest.

Dijadwalkan, pameran arsitektur Indonesia tersebut akan dibuka oleh Duta Besar RI untuk Jerman, Fauzi Bowo. Menurut ketua tim kurator, Aviati Armand, pameran β€˜Tropicality: Revisited’ menampilkan 12 karya arsitektur Indonesia yang sesuai dengan tema besar yang diusung, memperlihatkan pendekatan untuk menjawab dan merespons tantangan terkini dalam rancang bangun sebuah bangunan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

β€œKarya-karya yang ditampilkan di sini merespons dua hal, yakni iklim tropis serta persoalan krisis energi dan lingkungan,” ujar Avianti saat ditemui usai memperkenalkan para arsitek yang hadir menjelang pembukaan pameran malam nanti.

Duabelas arsitek dengan karyanya tersebut dijaring lewat pendaftaran yang dibuka secara umum oleh tim kurator, yang beranggotakan antara lain Setiadi Sopandi. Karya yang terpilih termasuk arsitektur sebuah masjid di Kopeng, Sleman Yogyakarta. Masjid bernama Baiturrahman tersebut merupakan karya Ridwan Kamil, yang kini Walikota Bandung.

Ridwan merancang masjid tersebut ketika masih aktif di studio arsitektur Urbane Indonesia yang didirikannya pada 2004. Ia mengerjakan proyek tersebut pada 2011 atas permintaan dari Baitul Maal Muamalat. Karya arsitektur lainnnya yang masuk dalam kurasi Avianti dan timnya adalah Rumah Baca di Bandung karya Ahmad Tardiyana, dan Almarik Restaurant di Gili Trawangan, Lombok yang merupakan karya Effan Adhiwara dari EFF Studio.

Effan adalah arsitek kelahiran 1982. Rancangannya atas restauran Almarik mengingatkan orang pada bangunan Keong Mas di Taman Mini, Jakarta. Bedanya, Effan menggunakan bahan dasar bambu. β€œKeistimewaan bambu, ia tidak homogen seperti pipa, macamnya banyak sekali dan yang jelas mudah ditemukan di mana-mana,” ujarnya saat memperkenalkan karyanya.

Di pameran, karya-karya arsitektur tersebut ditampilan dalam foto-foto, maket hingga display video. Karya yang dipamerkan tak hanya arsitektur bangunan publik saja, melainkan juga ada rumah tinggal. Seperti rumah arsitek Andra Matin di Bintaro, Jakarta yang dirancangnya sendiri, dan rumah Eko Prawoto di Yogyakarta.

Selain menampilkan 12 karya arsitektur, pameran tersebut juga dilengkapi dengan catatan sejarah perjalanan arsitektur tropis sejak zaman kolonial. Karya-karya tersebut ditampilan sebagai β€œstudi kasus” yang menurut Avianti terbuka untuk didiskusikan tak hanya secara science tapi juga seni. Pameran β€˜Tropicality: Revisited’ akan digelar hingga Januari 2016.

(mmu/ron)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads