Salah satu pendirinya Hendry Juanda mengatakan, Belmen digagas bersama tiga kawannya yang belum pernah bertemu sama sekali. Mereka adalah Hendry, Nanda, Nduk, dan Kiko.
"Di 19 September 2014, kami berinisiatif membuat grup Whatsapp yang semuanya punya hobi dan minat yang sama di dunia lettering, kaligrafi, dan tipografi," ungkapnya ketika dihubungi detikHOT, Rabu (8/7/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sepanjang berdirinya Belmen, Hendry mengatakan ada wacana dari teman-teman untuk mengumpulkan para pecinta seni tersebut agar belajar bersama. Serta berbagi informasi ke masyarakat umum.
"Bahwa Indonesia juga memiliki praktisi lettering dan calligraphy yang berkualitas," kata Hendry.
Pencarian pun dilakukan dengan hastag di Instagram. Kemudian mengundang mereka ke grup Whatsapp. Ternyata, di setiap kota pun memiliki banyak peminatnya.
"Kami berinisiatif membuat region di kota masing-masing," jelasnya.
Dari situ, muncullah nama Belmen Yogya, Belmen Solo, maupun Typography Makassar, Bandung Menulis, Lettering Malang, dan lain-lain. "Masing-masing kota sering mengadakan meetup yg sering kami sebut Pen Meetup."
Meski di setiap kota-kota besar di Indonesia, ada banyak nama komunitasnya namun Hendry mengakui untuk sekarang pusatnya ada di Jakarta. Namun, khusus untuk workshop, biasanya mereka bekerja sama dengan Kaligrafina. Virus-virus kaligrafi dan lettering tetap disebarkan oleh para penggiat ini.
"Intinya sih belajar, melihat karya-karya teman dan menjadikan rasa ingin tahu untuk belajar, memperluas link dan saling memberi masukan untuk menghadapi klien," kata Hendry.
Simak terus artikel seni kaligrafi dan lettering di art&culture detikHOT!
(tia/mmu)











































