Tak disangka, perintah itu membuat karya seni siswa memiliki benang merah yakni stres. "Awalnya saya memberikan tema tapi ternyata mereka tidak menyukainya," kata Chang dikutip dari Huffington Post, Kamis (11/6/2015).
Simak: Pidi Baiq Segera Luncurkan Novel 'Dilan' Seri Ke-2 Bulan Ini
Alhasil, semua murid dari Chang menciptakan berbagai karakter. Ada yang ilustrasi abstrak dengan warna menyala, kepala pecah dengan simbol darah, gambar hantu bergentayangan, orang-orang aneh dan lain-lain.
"Mereka merasa harus mengungkapkanya dengan seni dan menuliskannya dengan kata-kata. Jadi melalui karya seni ini, ilustrasi yang seperti menyeramkan itu mencerminkan perasaan mereka," katanya.
Usia siswa-siswa Chang bervariasi dari 10 hingga 12 tahun. Melalui program kelas seni yang dibuat Chang, lambat laun siswanya mulai belajar meluapkan emosi dalam ilustrasi berbagai bentuk.
"Stres dapat menganggu pola belajar mereka secara keseluruhan. Tugas ini memang membebaskan, apa pun yang ingin dibuat diserahkan kepada mereka, meski ada beberapa yang sangat menyeramkan," ungkapnya.
(tia/tia)










































