Novel ke-9 ini masih mengambil setting di kampung halamannya Belitung. Serta mengambil tema keluarga, persahabatan, dan juga cinta. Di peluncuran 'Ayah' sore hari ini, Andrea menceritakan mengenai di balik layar lahirnya 'Ayah'.
"Saya merisetnya sampai enam tahun dan sebenarnya novel ini mau terbit empat tahun lalu. Seperti novel sebelumnya sama-sama menggunakan bahasa yang sederhana dan ceritanya juga sederhana," ucapnya di Gramedia Matraman, Jakarta Timur, Jumat (29/5/2015).
'Ayah' menceritakan kisah antara ayah bernama Sabari bersama putranya Zorro. Sabari sangat mencintai putranya dan merencanakan berbagai rencana seperti pawai 17 Agustus, mengunjungi pasar malam, membelikannya mainan, ke masjid, mengajari puasa dan mengaji dan lain-lain.
Tertundanya novel ini, kata Andrea, juga karena penerjemahan 'Ayah' ke dalam bahasa Jerman yang akan rilis akhir Mei ini. "Risetnya juga lumayan panjang dan ilmiah. Saya juga merasa kurang produktif. Selama 10 tahun baru 9 novel, seharusnya lebih."
Andrea yang menulis selalu berdasarkan tokoh-tokoh yang nyata dan terinspirasi dari karakter sehari-hari itu selalu percaya fiksi menjadi kekuatan baru. "Gara-gara film 'Laskar Pelangi' ribuan orang bisa mencari nafkah."
Sepanjang kariernya, Andrea telah meluncurkan tetralogi 'Laskar Pelangi', 'Padang Bulan', 'Cinta di Dalam Gelas', 'Sebelas Patriot', dan 'Laskar Pelangi Song Book'. Serta dua novel internasional yakni 'The Rainbow Troops' dan 'Der Trumer' pada Maret 2015 oleh penerbit Hanser Berlin.
'Laskar Pelangi' karya Andrea juga sudah diterjemahkan ke dalam 34 bahasa asing di 120 negara. Sementara novel 'Ayah' setebal 432 halaman dibanderol Rp 74 ribu.
(Tia Agnes Astuti/Atmi Ahsani Yusron)











































