Galeri Apik Jakarta kembali menghadirkan pameran karya seni unik. Dalam event ke-43 kali ini, Galeri Apik menghadirkan pameran seni lukis dengan batik tulis kuno berusia puluhan tenun dan kebaya antik.
Direktur Galeri Apik, Rahmat berujar, pameran kali ini memang istimewa mengingat Hari Kartini belum lama berlalu.
"Batik tulis itu kan dekat dengan citra wanita berkain. Bagi saya keduanya, baik lukisan maupun batik memiliki nilai seni dan budaya tinggi, karena kreativitas perancangnya yang mengagumkan, memiliki banyak arti simbol khas dan dibuat handmade," jelas Rahmat di Galeri Apik, Plaza Radio Dalam 3A, Jakarta Selatan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nama-nama besar itu antara lain yakni Popo Iskandar, Nashar, Gerard Pieter Adolfs, Sunaryo, Made Wianta, Willem Gerard Hofker, Rustamadji, Arie Smit, Leo Eland, HAL Wichers, Willem Imandt, Rudolf Bonnet, Lee Man Fong dan Soedibio.
Sementara kain yang dipamerkan adalah kebaya antik, kain tenun wastra nusantara berusia 40 tahun lebih dan koleksi batik-batik tua berusia 80 tahun lebih.
"Usia batik yang dipamerkan tertua berusia 95 tahun, yaitu jenis batik tulis asli Oey Soe Tjoen dan Kopi Tutung. Jadi yang dipamerkan itu semuanya adalah kain unggulan (wastra prima)," jelas Rahmat.
Menurut Rahmat, kain batik dan tenun juga bagian dari karya seni. "Semuanya adalah batik tulis. Sebagian dibuat hanya satu-satu saja setiap jenisnya dan tidak dibuat dalam edisi," tutupnya.
(kmb/kmb)











































