Bertempat di STPI Gallery, Entang menghidupkan kembali kabel dan paku dalam proses cetak dan pembuatan kertas. Setelah menemukan medianya, seniman ini mulai menghasilkan karya seni yang mengeksplorasi masalah sosial-politik.
Direktur STPI Gallery Emi Eu mengatakan lembaga non-profit ini punya program residensi seniman yang biasanya berakhir dengan pameran. "Entang dipilih karena ia adalah seniman terkemuka di Asia," ucapnya, seperti dilansir berbagai sumber, Jumat (24/4/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Program tersebut disebut dengan 'The Visiting Artist Program'. Entang diundang dan hidup di dua negara yakni Rhode Island Amerika Serikat dan Yogyakarta Jawa Tengah.
"Residensi melibatkan tiga sesi, totalnya mencapai tiga bulan. Dan inilah hasilnya di 'Never Say No'," ungkap Eu.
Eksibisi yang dimulai 21 April lalu akan berakhir pada 30 Mei mendatang. 'Never Say No, kata Eu, merupakan eksplorasi ke dalam lingkungan baru yang dinamis dan memiliki 25 media. Entang menggunakan campuran benang, silkscreen di cermin, plexiglass, litografi, dan lain-lain.
"Selama program, seniman juga diundang untuk memberikan ceramah umum dan platform interaktif untuk berbagi pengalamannya yang menginspirasi seniman muda," kata Eu.
Entang adalah salah satu seniman Indonesia yang aktif pameran di kancah internasional. Beberapa eksibisi yang diikutinya adalah Art Stage Singapore (2014), Venice Biennale yang ke-55, Prague Biennale 6, Yogyakarta Biennale XI and Indonesia 2nd Open Terra Cotta Biennale (2007).
(tia/tia)











































