Di usianya yang ke-237, Museum Nasional telah melakukan berbagai kajian terkait teknis permuseuman. "Dari hasil kajian tersebut program-program publik Museum Nasional disusun untuk dikomunikasikan kepada masyarakat khususnya generasi muda," ucapnya di Museum Nasional hari ini.
Baca Juga: Perhatikan! Lukisan 'Queen of Double Eyes' Ini Bikin Pusing
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Program publik tersebut diharapkan mampu membangun dan memperkuat karakter bangsa. Agar tepat sasaran dan sesuai dengan harapan masyarakat, program publik Museum Nasional lebih melibatkan peran komunitas," jelas Intan.
Saat puncak kemeriahan Gebyar Festival Hari Museum Internasional dan perayaan 237 tahun Museum Nasional Indonesia, nantinya pertunjukan tari daerah dari Abang-None Jakarta dan penampilan stand up comedy dengan tema sejarah akan ditampilkan. Selain itu, sanggar tari terpilih akan menampilkan tari daerah dari Nusantara (tiga tarian dari Indonesia Bagian Barat, Tengah, dan Timur). Masyarakat pun dapat menyaksikan pemutaran film pendek hasil kreativitas peserta lomba dan hadiah pemenang lomba pun dibagikan.
Rangkaian acara juga dimerikan oleh 'Akhir Pekan @MuseumNasional' pada 26 April 2015 yang mempersembahkan teater musikal 'Legenda Asmat' pukul 08.30, 09.30, dan 10.30 WIB. Dilanjutkan dengan 'Pekan Budaya Dayak' pada 27-30 April 2015 yang merupakan kerja sama antara Museum Nasional, Yayasan Sekar Nusa, dan Pemda Kalimantan Timur. Serta workshop cara pemakaian busana tradisional untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional tanggal 2 Mei 2015.
Tak lupa pula dengan parade Topi Hias pada 3 Mei 2015 yang bekerja sama dengan Ikatan Pembuat Hantaran Indonesia (Pancawati). Sejak awal berdiri, Museum Nasional mengembangkan semboyan "Ten Nutte van het Algemeen" atau yang berarti 'Untuk Kepentingan Publik', yang maksudnya berusaha untuk lebih mendekatkan diri lagi dengan masyarakat luas.
(tia/mmu)











































