Mereka adalah A Haris Kartasumitra, Eben Andreas, Rezanov, Kamerad Edmond, Wahyudi Pratama, dan Yuka Dian Narendra. Kurator Evelyn Huang mengatakan, eksibisi ini menghadirkan kembali memori kolektif atas kedai kopi yang sudah ada sejak 1930-an itu.
"Dari waktu yang panjang itu banyak sekali memori yang diingat. Oleh karena itu, secara garis besar para seniman merespons tempat ini," ungkapnya saat sesi acara artist talk, Selasa (3/3/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kedai kopi Tak-Kie pun berperan bagi warga Glodok. Tempat ini juga mengandung kenangan dan cerita tersendiri dari para pelanggan tetap, pemilik toko maupun pengunjung yang suka ngopi.
Lalu, seperti apa respons para seniman itu? A.Haris Kartasumitra menampilkan visual ruang waktu melalui karya video art. Seniman Eben Andreas berkolaborasi dengan Rezanov mengangkat perspektif turis yang mengejutkan saat pertama datang ke Tak Kie.
Mereka bermain dengan kompilasi lagu cinta kenangan Mandarin-Canton-Taiwan yang didaur ulang dan diperdengarkan di Tak Kie. Kamerad membuat video art yang menampilkan visual yang melekat pada pelanggan Tak Kie.
Sedangkan Wahyudi Pratama membuat parodi yang tersaji di sketsa potret. Sementara Yuka Dian Narendra menuliskan esai dengan kata kunci 'memori', 'memori kolektif', dan 'Tionghoa-Indonesia'.
(tia/mmu)











































