Pementasan dimulai tepat pukul 20.00 WIB di Taman Budaya Yogyakarta (TBY) Rabu (11/2/2015) malam. Dalang yang diperankan Susilo Nugroho berperan memulai dialog.
"Saudara, kita telah sampai kepada tujuan. Sebuah rumah besar dengan aura mistis yang begitu kuat. Aura mistis itu sangat terasa dari halaman depan rumah ini," ucap dalang di atas panggung.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Suasana horor sangat terasa di awal pertunjukan. Mimik serius tampak di raut wajah sang dalang. Tapi gelak tawa langsung menyambutnya kala dalang Susilo justru mengeluarkan guyonan khas-nya yang disukai penonton.
Baca Juga: Naskah Anton Chekhov Diadaptasi ke Bahasa Ambon dan Manado
Begitulah awal cerita dari juragan batik yang kaya raya. Namanya dijunjung sebagai pahlawan nasional karena melestarikan batik. Kekayaannya berlimpah. Batik buatannya disukai pejabat negara.
Namun, juragan batik bernama Abiyoso tersebut memiliki masa lalu yang kelam. Kematian kepala pemasarannya Muspro membuatnya takut. Hantu Sumir pun menghantui rumah tersebut. "Air mata dan suara tangis membuatnya takut. Itu kelemahannya karena ingat masa lalu," ucap istri juragan Abiyoso kepada putranya Pangajab.
Sutradara pementasan Djaduk Ferianto mengatakan lakon 'Tangis' ini merupakan simbol alat politik untuk apa pun. "Naskah aslinya dari drama televisi yang ditulis mas Heru Kesawa Murti dan masih aktual sampai sekarang. Yang nonton bisa ketawa karena akting pemain tapi bisa nangis juga di ujungnya," katanya di concert hall TBY, Rabu (11/2/2015).
'Tangis' dipentaskan di Concert Hall, Taman Budaya Yogyakarta pada 11-12 Februari. Nantinya, pementasan keduanya akan diadakan di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki Jakarta pada 20β21 Februari 2015.
Simak artikel lainnya soal pementasan 'Tangis' karya Teater Gandrik hari ini!
(tia/ron)











































