"Awalnya para Strangers ini manusia, lalu mereka mengalami semacam kejadian traumatik semasa hidupnya. Membuat mereka masuk ke dalam kondisi antara mati dan tidak," ucap perwakilan Mercant of Emotion Tri Adi Pasha kepada detikHOT baru-baru ini.
Sedangkan 'Sunset Deity' yang menjadi judul pementasan adalah Strangers pertama. Ia merupakan 'penjaga' sekaligus 'pengajar' bagi anak-anak. "Cerita Midnight Strangers ini referensi lebih dekatnya ke arah The Avengers," kata Tri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tidakkah menjadi penjaga dan pengajar bagi anak-anak adalah peran yang sia-sia?" tanya seorang Anak.
Namun Sunset justru menjawab justru peran itulah yang paling strategis untuk membangun dunia lebih baik. Setiap adegan dalam naskah tersebut, kata Tri, memiliki makna tersendiri.
Misalnya saja, Dunia dengan kapital huruf 'D dibangun oleh orang-orang dewasa yang dahulunya adalah anak kecil. Keputusan yang biasanya diambil untuk Dunia selalu berdasarkan motif yang sederhana yakni membangun dunia yang lebih baik bagi anak-anaknya nanti.
"Anak-anak itu harta terpenting bagi orang dewasa. Di titik itu, kami ingin memasukkan peran Midnight STrangers sebagai teman masa kecil yang ikut menjaga dan mengajarkan anak-anaknya untuk mengambil keputusan di Dunia yang lebih baik," ucapnya.
Pertunjukan penciptaan Midnight Strangers atau dunia bagi para Strangers dalam 'Sunset Diety' ini akan ditampilkan di atas panggung teater Dago Tea House, Bandung pada 23-25 Januari 2015 mendatang.
Di akhir percakapan Tri kembali memberikan pesan tersembunyi dari lakon ini. "If we control children, we control the rest of the world. Teaching children is like painting in a blank canvas, whereas shaping the world through adults, is like writing on a Monday morning newspaper, full of words and prejudices," pungkasnya.
(tia/tia)











































