Akhir pekan lalu, pertunjukan 'Voice from Asmat-Documentary and Music: The River's Song' dipentaskan di auditorium Galeri Indonesia Kaya. Lakon ini menceritakan tentang kehidupan suku Asmat yang bergulat dengan modernisasi.
Dodid Wijarnako mengatakan pementasan ini mengangkat budaya asli Indonesia. "Saya sangat antusias dengan pertunjukan yang kami suguhkan. Dengan mengangkat budaya asli Indonesia yaitu suku Asmat dalam video dokumenter dan melengkapinya dengan musik. Saya harap penampilan kami dapat menghibur dan menambah pengetahuan para penonton yang datang menyaksikan mengenai suku Asmat," ungkapnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
apik oleh pembuat film dokumenter Dodid Wijanarko mengantarkan setiap orang menyelami relung kehidupan Suku Asmat. Video tersebut menceritakan kehidupan suku Asmat. Kehidupan di ujung timur Indonesia yang tengah bergulat dengan arus waktu. Ada pula yang video yang memperlihatkan kehidupan masyarakat di atas papan, rawa, sungai, dan hutan.
Dilengkapi dengan pertunjukan musik akustik yang dibawakan sekelompok anak muda berbakat, yaitu Putri Soesilo, Aji Setyo, Dika Chasmala, dan Alwin. Melalui gubahan lagu yang memadukan rasa etnik dalam genre musik pop, mengalun rasa menyelami keindahan alam Asmat. Memahami, tak sekadar mengetahui, keindahan budaya Asmat.
Dengan laguβlagu yang dibawakan berjudul "Matahari" merupakan sebuah lagu tradisi Asmat mengenai penghormatan kepada matahari yang dianggap sebagai pemberi kehidupan dan menjadi pusat dalam setiap sendi kehidupan suku Asmat.
Selain itu, disuguhkan pula lagu βPoewaraβ yang mengisahkan kegiatan mendayung bersama, βDiwi Allahβ yang merupakan gubahan lagu religi dalam bahasa Asmat dengan sentuhan pop yang menceritakan sosok ibu sang pemberi kehidupan. Dan lagu "Aku Asmat" sebuah lagu karya Dodid Wijanarko yang diaransemen oleh Putri Soesilo.
(tia/tia)











































