Di usianya yang menginjak 91 tahun, penyair Batak Sitor Situmorang harus menutup usia di kampung halaman istrinya di Belanda. Tak hanya sudah tua, tapi Sitor juga terkena penyakit alzheimer.
Awal bulan ini, para seniman dan aktivis kebudayaan Bandung menggelar orasi budaya dan doa bersama bagi kesehatan Sitor. Dalam acara bertajuk "Lingkaran Doa: Sitor Situmorang Alzheimer 37 kg" yang digelar di Padepokan Mayang Sunda, kota Bandung, puluhan seniman Bandung ikut mendoakannya. βDi antaranya Ahda Imran, Adinda Luthfianti, Hanafi, Semi Ikra Anggara, Gusjur Mahesa dan lain-lain.
Nama Sitor tak hanya dikenal sebagai sastrawan angkatan '45 bersama dengan Chairil Anwar, tapi pandangan politiknya yang mendukung Soekarno dan menolak menandatangani Manifes Kebudayaan (Manikebu) membuatnya berpolemik dengan sastrawan lainnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sitor kekeuh mendukung segala kebijakan dan keputusan Soekarno, khususnya bidang kebudayaan. Di akhir 1950-an, ia menjadi ketua Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN), organisasi kebudayaan yang berafiliasi dengan Partai Nasional Indonesia (PNI).
Usai masa pemerintahan Soekarno, sastrawan terakhir angkatan '45 itu menjadi sasaran rezim Orde Baru, ia dijebloskan ke penjara selama delapan tahun tanpa kejelasan proses pengadilan. Selepas keluar dari penjara, Sitor bersama keluarganya tinggal di Belanda dan Prancis.
Kedua negara tersebut memang menjadi tujuan pelarian tempat tinggal bagi mantan tahanan politik Orde Baru. Di Belanda, Sitor pernah mengajar di Universitas Leiden selama 10 tahun.
Hingga kini, sajak-sajaknya menjadi fenomenal dan kontroversi. Seperti sajak 'Malam Lebaran' yang hanya memuat satu kalimat 'bulan di atas kuburan'. Sajak tersebut dibuatnya beberapa hari setelah Lebaran tahun 1954 dan ketika akan mengunjungi rumah Pramoedya Ananta Toer. Ia melihat pemandangan areal pekuburan yang terang benderang karena sinar rembulan.
Sajak itu terdapat di 'Dalam Sajak' (1955). Banyak yang menilai kalimat itu adalah metafora semata bukan sajak. Tapi di sisi lainnya, banyak yang berpendapat itu adalah sajak dan kebebasan si penulis.
Saat mendekam di penjara, Sitor pun membuat dua karya berjudul 'Dinding Waktu' dan 'Peta Perjalanan'. Selain keduanya, cerita pendek maupun sajak lainnya sudah diterbitkan menjadi kumpulan buku.
Kini, Sitor telah tiada. Selamat jalan sastrawan terakhir Angkatan 45. Selamat jalan sang penyair Soekarnois, Sitor Situmorang....
(tia/ich)











































