Dalam bahasa Jawa istilah 'suwung' berarti 'merasakan kehadiran sesuatu meski tak nampak'. Melalui karya ini, koreografer ternama Jepang Akiko Kitamura mencoba meraih sesuatu yang tak nampak dan melampaui kesadara demi mencari sebuah dialog.
"Selama proses, saya mempelajari konsep baru tentang waktu yang bertumpuk, berulang, dan dihidupkan kembali. Saya juga mencoba berdialog dengan masa lalu dan yang telah tiada (Slamet Gundono) untuk menemukan jalan baru," ungkapnya dalam siaran pers yang diterima detikHOT, Kamis (11/12/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan menggunakan disiplin seni bela diri Jepang dan Indonesia, ia mengamati persoalan 'aksi' dan 'reaksi' yang timbul dari gerakan tubuh yang dinamis, serta perihal 'energi' melalui gerakan. Selain itu, khasanah tari tradisional dari dua kebudayaan juga membuka percakapan spiritual dengan 'yang tak nampak'. Konsep–konsep tematik ini ia jelajahi melalui medium tubuh, dan di dalam ruang yang dirancang secara khusus.
Pementasan yang digelar di penghujung tahun ini, penggaran musiknya juga dilakukan oleh seniman Jepang Yasuhiro Morinaga. Ia menggabungkan beragam rekaman lapangan seperti suara Slamet Gundono, lagu-lagu Endah Laras, dan musik hip hop Mohamad Marzuki. Lebih dari 100 track rekaman diambilnya dari berbagai sumber.
Tak hanya itu saja, pentas 'To Belong/Suwung' juga menampilkan seni visual yang menggunakan imaji grafis dan animasi. Imaji tersebut seperti menciptakan ulang konsep 'perjalanan dari satu tempat ke tempat lainnya', yang digambarkan oleh para penari. Lakon ini akan dipentaskan di dua kota, Jakarta (16-17 Desember) dan Solo (20 Desember).
(tia/mmu)










































